Tuesday, April 11, 2017

ASAL USUL NAMA DESA KUBU TAMBAHAN





            Diceritakan kerajaan Bali yang perpusat di Klungkung diperintah oleh Dalem Dimade. Kekuasaan beliau sangat luas, mencakup seluruh tanah Bali. Beliau memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat Bali hidup tentram, aman dan sejahtera. Dalam memerintah beliau didampingi para patih, Bhagawanta, dan pemuka kerajaan. Salah seorang patih beliau yang cakap dan setia bernama I Gusti Tambahan yang berasal dari Tambahan Bangli. #Asal_Usul_Nama_Desa_Kubu_Tambahan_Buleleng  #kanduksupatra.blogspot.com
I Gusti Tambahan memiliki seorang putri bernama Ni Gusti Ayu Jembung, berwajah cantik dan cakap. Atas kecantikannya, terdengar oleh Dalem Dimade yang berkuasa kala itu, berkehendak untuk mempersunting Ni Gusti Jembung.  Semakin lama, semakin tak terbendung hasrat dari Dalem Dimade untuk mempersunting Ni Gusti Ayu Jembung. Akhirnya pada suatu hari Dalem Dimade menyampaikan maksud hati beliau.
Namun I Gusti Ngurah Tambahan berkeberatan kalau putrinya dipersunting oleh Dalem. I Gusti Ngurah Tambahan menyampaikan keberatannya tersebut dengan sopan santun dan tata krama yang lembut kepada Dalem. Dan untuk menghindari terjadinya hal yang tak diinginkan, maka I Gusti Ngurah Tambahan memutuskan untuk meninggalkan Desa Tambahan diiringi oleh pengikutnya yang setia.  Mereka menuju ke daerah timur menuju ke wilayah Karangasem dan menetap di sana untuk sementara waktu. Setelah beberapa lama di sana, kemudian I Gusti Ngurah Tambahan angkat kaki dari wilayah Karangasem, menyusuri pantai menuju ke wilayah utara pulau Bali, hingga tanpa disadari rombongan I Gusti Ngurah Tambahan sampai di daerah kekuasaan I Pasek Bulihan. #Asal_Usul_Nama_Desa_Kubu_Tambahan_Buleleng #kanduksupatra.blogspot.com
            Ketika menginjakkan kakinya di sana, I Gusti Ngurah Tambahan mendengar bahwa Desa Bulihan  sedang mengalami ancaman gangguan bahaya. Desa Bulihan beserta rakyatnya sedang diganggu oleh bromocorah yang menyebabkan rakyatnya menjadi ketakutan.  Dengan  kesaktian yang dimilikinya, ia bertarung untuk menyelamatkan masyarakat desa Bulihan. Melalui pergulatan yang melelahkan, akhirnya pertarungan dimenangkan oleh I Gusti Ngurah Tambahan.
Atas keberhasilan tersebut Jero Pasek Bulihan yang menguasa wilayah dan rakyat di sana megucapkan terima kasih atas bantuan dan keberanian dari I Gusti Ngurah Tambahan.  Masyarakat desa Bulihan juga menjadi sangat gembira karena kembali merasa aman. Sebagai ucapan rasa terimakasih, Jero Pasek Bulihan menghadiahkan sebidang tanah yang terletak di sebelah utara Desa Bulihan. Pemberian Jero Pasek Bulihan tersebut diterima dengan senang hati oleh I Gusti Ngurah Tambahan. Beliau beserta keluarga dan pengikutnya membangun kubu (pemondokan) di sana.  Akhirnya, tempat bermukim I Gusti Ngurah Tambahan itu dikenal dengan Kubu Tambahan. Karena I Gusti Ngurah Tambahan membuat kubu (pondok) di sana.
            Di sanalah kemudian I Gusti Ngurah Tambahan bersama dengan pengikut dan masyarakat sekitarnya hidup damai berdampingan. Demikian juga hubungan yang erat dan baik diantara warga Pasek Bulihan, Pasek Bayan, Pasek Bebetin. Bahkan keempat warga pasek tersebut senantiasa menjalin persaudaraan dalam suka dan duka.
Demikian diceritakan secara singkat dalam pustaka lawas. Ampura.
#AsalUsulNamaDesaKubuTambahanBuleleng #SejarahBali #BudayaBali
kanduksupatra.blogspot.com

Monday, April 10, 2017

Dari Geguritan ke Novel (Sebuah Apresiasi dari IB Widiasa Keniten)




Seputar sastra bali modern, geguritan, cerpen, ulasan, artikel, dan drama bali modern

Dari Geguritan ke Novel
Oleh IBW  Widiasa Keniten

Geguritan Basur  hasil cipta Ki Dalang Tangsub telah menggugah seniman – seniman lain. Baik seni dramatari, khususnya arja, seni pencalonarangan dengan lakon Basur. Tokoh  Basur terkesan mistis dalam setiap pementasan. Basur identik dengan dunia pangeleakan yang ada di Bali. Basur merupakan tokoh hidup yang mewakili dunia mistis. Setiap membicarakan tentang pangeleakan, Basur selalu hadir. Inilah salah satu kehebatan dari Ki Dalang Tangsub yang mampu menghidupkan tokoh.  
            Tokoh Basur tidak berasal dari tokoh – tokoh yang berlatar belakang istana, seperti layaknya cerita klasik. Ia berasal dari rakyat jelata hanya dikatakan perekonomiannya di atas rata  - rata dibandingkan dengan masyarakat yang ada di desa Karangsari.Cuma di antara masyarakat Karangsari, Basur dikenal menguasai pangeleakan.
            Hal – hal di atas tampaknya menggugah para pengarang  untuk mengabadikan tokoh Basur dalam karya – karyanya. Salah satunya karya novel dari Kanduk Supatra, Ki Gede Basur antara Asmara dan Ilmu Hitam. Buku ini dicetak oleh Panakom.
            Kanduk Supatra jelas – jelas mengatakan bahwa ia mengambil sumber dari Geguritan I Gede Basur yang ditransliterasikan oleh Made Sanggra. Ada perbedaan antara Geguritan Basur dalam Kidung Prembon dengan Geguritan I Gede Basur karya Ki Dalang Tangsub yang transliterasi oleh Made Sanggra ada penambahan tokoh Ni Garu yang mengalahkan I Basur.
Dalam Kidung Prembon, tokoh Basur tidak dikalahkan. Basur disadarkan oleh Ki Balian. Tidak ada kalah dan menang. Keduanya menyatakan diri berjalan sesuai dengan swadarmanya ( tugas dan kewajibannya masing- masing), Dharma Sadhu dan Dharma Weci. Dualisme yang selalu bertentangan.  Dalam novel Ki Gede  Basur antara Asmara dan Ilmu Hitam, Ni Garu yang mengalami penyadaran. Kedua tokoh yang menguasai ilmu hitam Basur dan Ni Garu (pria dan perempuan) disadarkan oleh Ki Balian Sadhu.
            Kanduk Supatra melakukan penggubahan dari Geguritan menuju Novel. Konsekwensi dari penggubahan  ini akan ada  perubahan – perubahan bahasa, bentuk, isi, dan budaya yang ingin diungkapkan oleh pengarang  novel.

Interfrensi  Bahasa
            Interfrensi  bahasa terjadi dari bahasa Bali ke dalam bahasa Indonesia. Interfrensi ini digunakan untuk menambah kekentalan cerita dan juga terdapat beberapa kata – kata yang tidak ada padanannya di dalam bahasa Indonesia secara tepat, misalnya, pangeleakan, ngaben, buratwangi, lengawangi, canang sekar, bale dauh dan sebagainya. Masuknya kosakata bahasa Bali ke dalam novel berbahasa Indonesia sebenarnya juga dilakukan oleh Putu Wijaya dan juga Oka Rusmini. Ini sebagai penanda bahwa bahasa ibu bisa digunakan untuk menambah suasana dan penggambaran cerita agar semakin dekat dengan masyarakat pendukungnya.
            Bahasa Bali yang memiliki kekhasan tersendiri, tentulah tidak semuanya dapat dialihkan ke dalam bahasa Indonesia. Ia meski tetap dipertahankan selama tidak mengganggu alur, suasana cerita yang digambarkan oleh penulis dalam hal ini oleh Kanduk Supatra.
 Bahasa Bali tidak serta merta akan mengganggu cerita yang ditulis bahkan justru bisa sebagai memperkuat cerita. Hanya saja tidak diberi penjelasan oleh Kanduk Supatra kata – kata bahasa Bali yang dipilihnya. Novel ini memang akan menyulitkan jika tidak berlatar belakang dari budaya Bali. Meski diakui beberapa kosakata bahasa Bali  susah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya ngaben yang sering dimaknaai upacara pembakaran mayat. Padahal, banyak prosesi yang berkaitan dengan ngaben bukan hanya pembakaran mayat  saja.
            Pengarang  novel, Kanduk Supatra menjadi dwibahasawan (bahasa Bali dan bahasa Indonesia) baik pasif maupun aktif. Tidak akan menjadi novel yang bagus jika tidak memahami kedua bahasa Bali dan Indonesia, tetapi dalam kenyataannya Kanduk Supatra mampu menggunakan kedua bahasa itu dengan baik.

Pengalihan Bentuk
            Geguritan dimaknai cerita dalam bentuk puisi yang dapat dinyayikan (Kamus Bali Indonesia, 2005 : 289). Geguritan Basur yang berupa puisi tradisional dapat dinyayikan dalam hal ini memakai tembang ginada. Ciri karya geguritan,  terikat dengan aturan – aturan, seperti jumlah suku kata dalam setiap larik; jumlah larik dalam setiap baik; persamaan bunyi yang mengakhiri larik atau baris. Bait – bait yang dikenal dengan pada dalam aturan penulisan geguritan tidak bisa diubah. Aturan – aturan dalam geguritan bersifat baku sebagai ciri khas sebuah geguritan. Bentuk geguritan diubah menjadi bentuk yang cair seperti prosa. Jika dalam geguritan, bait – bait itu bisa dinyanyikan setelah menjadi sebuah novel tidak bisa karena ia sudah memasuki dunia tersendiri. Karya tradisional memasuki wadah baru berbentuk novel. Ia mesti mengikuti aturan – aturan novel yang tidak terikat pada aturan – aturan tertentu.
            Pengarang  novel mendapatkan kebebasannya dalam mengolah cerita. Ia tidak lagi terpaku pada aturan – aturan yang sifatnya mengikat. Kebebasan dalam berkreativitas  teruji di samping kemampuannya menambahkan hal – hal lain yang tidak ada dalam geguritan, misalnya deskripsi tentang rumah I Gede Basur, deskripsi desa Karangsari. Deskripsi tempat, tokoh, dan suasana desa.
            Dalam novel I Gede Basur pun, tidak ada kutipan geguritan berpupuh ginada. Jika kita lihat pada Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari masih mengutip beberapa tembang yang mampu menambah suasana alam desa. Jika ditambahkan misalnya tembang saat Basur membawa sajen ke kuburan yang berkaitan dengan perubahan wujud,  akan menambah suasana mistis dalam novel.  Misalnya, mangkin reké sandikala,I Gede Basur ia pedih, ka sétra mangaba canang, maduluran sanggah cucuk , maebésiap biying brahma,buratwangi, daluwang marajah Dhurgha ( Geguritan I Gede Basur, 2006: 13). Artinya, sekarang sudah senjakala, I Gede Basur ia marah, ke kuburan membawa sajen, disertai sanggah cucuk, lauknya ayam merah brahma, buratwangi ( nama sajen), kertas bergambarkan Dewi Dhurga.

Pengembangan Isi
            Alur cerita yang ada dalam geguritan Basur dikembangkan lagi sesuai dengan kemampuan si penulis. Geguritan Basur hanya sampai meninggalnya I Gede Basur setelah kalah bertanding dengan Ni Garu. Dalam novel I Gede Basur tokoh Ni Garu disadarkan oleh Ki Balian Sadhu.  Seakan –akan Kanduk Supatra  ingin menyampaikan bahwa kebenaran pasti akan menang atau Dharma mengalahkan Adharma.
            Penambahan tokoh – tokoh pun dilakukan oleh Kanduk Supatra. Misalnya, Ni Rumanis yang dinikahi oleh I Tigaron yang  bertemankan I Nyoman Lawe. Pernikahan Tigaron yang dibantu oleh Jero Made Polos. Ni Codet yang juga menjadi pengikut Ni Garu. Ki Balian Sadhu dalam novel  sebagai pengganti Ki Balian dalam geguritan.
            Penambahan tokoh dalam novel tidak mengganggu alur cerita yang sudah ada dalam geguritan selama narasi dan  pendeskripsiannya  terukur dan sistematis sehingga pembaca lebih memahami karakter dari masing – masing tokohnya.
            Degresi – degresi (lanturan)  yang ditulis Kanduk Supatra memperjelas suasana alam pedesaan saat Bali masih kental dengan suasana mistis tentang pangeleakan. Digambarkan pedagang Ni Codet yang mempelajari ilmu pangeleakan untuk menarik pembeli. Dalam artian, telah terjadi persaingan ekonomi yang kurang sehat. Manajemen dalam perdagangan belum berjalan maksimal.
            Manusia Bali yang masih sempat berkumpul – kumpul saat sore menjelang malam. Anak – anak yang bermain di sungai. Petani yang mengolah sawahnya dengan beragam jenis padi. Semua gambaran di atas hanya sebagai kenangan saja untuk masa – masa sekarang.
 Mendekatkan suasana Bali yang masih kental dengan suasana pedesaan yang mistis bukanlah pekerjaan mudah karena mengharuskan seorang pengarang  novel  melakukan pengamatan, membaca sumber – sumber yang dekat dengan suasana Bali, alam pedesaannya yang masih asri jika dibandingkan dengan suasana Bali pada saat sekarang yang telah banyak berubah. Ini suatu tantangan yang menarik bagi seorang pengarang.

Sosial Budaya Bali Tempo Dulu
            Suasana sosial masyarakat Bali tempo  dulu yang diungkapkan oleh Kanduk Supatra. Jiwa welas asih, semangat kegotongroyongan, saling membantu masih teramat jelas bisa dilhat dalam novel I Gede Basur. Tetangga yang sakit ramai – ramai dibantu meski saat itu sudah malam. Dalam jiwa manusia Bali  masih tumbuh semangat kebersamaan. Individualismenya tampaknya belum terlalu banyak tumbuh.
            Jika ada tetangga yang punya kerja bersedia untuk membantunya, tidak ada terbersit untuk memikirkan keuntungan saat memantu sesama. Kesediaan menolong  memang benar – benar tulus.
            Budaya masyarakat Bali diungkapkan masih percayanya pada ilmu hitam yang dapat mempengaruhi perjalanan seseorang. Kepercayaan pada hal – hal yang sifatnya supranatural masih kental. Misalnya, Made Polos sebagai pawang hujan  mampu menghalau hujan.
            Subak masih hidup dengan pengaturan tataair yang sistematis. Sekaa manyi ( kelompok pengetam) masih berjalan. Sekaa nandur ( kelompok menanam benih padi) masih dilaksanakan. Tidak ada yang menyewa tukang tanam padi. Membajak masih menggunakan sapi belum ada traktor.
            Budaya pernikahan ala Bali yang dituturkan lewat pernikahan I Tigaron dengan Ni Rumanis  juga ditulis dengan cukup apik juga preosesi ngaben yang ada di Bali . Bahkan ditambahkan dengan nilai – nilai agama Hindu.
            Hubungan sosial budaya seperti di atas hanya sekilas saja ditulis dalam geguritan I Gede Basur. Artinya, melalui novel I Gede Basur antara Asmara dan Ilmu Hitam, sosial budaya  masyarakat Bali tempo dulu  dapat dinarasikan cukup apik oleh Kanduk Supatra.

Penekanan pada Kesadaran
            Geguritan Basur dengan jelas mengungkapkan Basur dikalahkan oleh Ni Garu . Kekalahan Basur karena ilmunya di bawah dibandingkan dengan ilmu Ni Garu. Basur tidak mengalami kesadaran. Ia meninggal dalam mempertahankan diri dan menjaga martabatnya sebagai seorang tokoh ilmu hitam. Ada ego di dalamnya. Basur dan Ni Garu sama – sama mengisi egonya untuk menang. Tidak ada penyadaran diri. Mati dengan membawa rasa dendam bukan kedamaian.
Dalam novel terjadi sebaliknya, Ni Garu  dan Ni Codet disadarkan oleh Ki Balian Sadhu. Ki Balian Sadhu mampu membuat Ni Garu dan Ni Codet  dalam titik kosong : Pekak memang sengaja memusnahkan segala kewisesan yang engkau miliki. Itupun atas restu dari hyang Betari yang menganugerahi engkau. … semua kewisesan yang engkau miliki tersebut tidak didasari atas hati yang bersih dan suci. Engkau belum mampu mengendalikan amarah yang ada dalam dirimu, belum mampu mengendalikan hawa nafsu dan juga rasa  keakuanyang bersemayam dalam pikiranmu. Engkau cenderung mengumbar segala indriamu ( hal. 140).
 Ni Garu dan Ni Codet  sampai lupa akan segala ilmunya dan kembali kepada ajaran Dharma.Secara tersirat novel ini ingin menggambarkan sejahat apa pun manusia itu pasti bisa kembali ke jalan yang benar selama di dalam dirinya timbul kesadaran baru.Hal ini diistilahkan dengan Sadhu Dharma dan Dharma Sadhu.
            Menggubah geguritan menjadi sebuah novel memerlukan keterampilan, kreativitas, daya imajinasi, dan penguasaan bahasa. Pengarang mesti menguasai kedua bahasa baik pasif maupun aktif. Perubahan – perubahan  itu menyangkut bahasa, bentuk, isi, dan sosial budaya masyarakat yang ingin diungkapkan pengarang.  Email: ibw.keniten@yahoo.co.id

Thursday, April 6, 2017

NGELAWANG BARONG KRARAS lan BARONG BANGKUNG

  Seka Ngelawang RARE BAIRAWA, Yangbatu Kangin,
Galungan, 5 April 2017. Sejak tahun 1999.


"Barong Kraras" disebut juga "Barong Brutuk" dalam filosofi Bali Kuno adalah manifestasi kekuatan “Sanghyang Datonta”. Dalam Filosofi Bali pertengahan disebut dengan “Ida Betara Ratu Gede Pancer Jagat”. Pancer adalah sumbu dunia, tak lain tak bukan adalah Lingga Yoni. Dalam filosofi kekinian disebut Siwa Mahadewa. Dengan demikian Barong Kraras (seperti halnya Rangda dan Rarung) adalah simbolisasi kekuatan (sakti) dari Dewa Siwa yang diberi julukan Durga Dewi, sumber kekuatan dan kesaktian. Tak salah kalau Barong Kraras dipakai sebagai sarana memohon kesembuhan serta sarana Tolak Bala. (sumber, cakepan Bali Kuno)
Bersanding dengan Barong Bangkung, simbolisasi kekuatan Sanghyang Wisnu di dunia, sebagai kekuatan pemelihara serta pemberi anugrah kemakmuran. (sumber: Barong Swari)
#NgelawangBarong #BarongKraras #Datonta #IdaBetaraRatuGedePancerJagat #BarongBangkung #RareBairawa
#YangbatuKangin. #kanduksupatra.blogspot.com

Tuesday, March 21, 2017

MENGAPA MEPRANI MENJELANG NYEPI ?


Tulisan ini hanyalah catatan pemahaman saya tentang meprani yang selama ini banyak yang bertanya, apa sih meprani itu? mengapa meprani? dan sebagainya. Setelah sekian lama pertanyaan itu tersimpan di dalam pikiran sambil mencari jawabannya dalam sastra, yantra, mantra, adat budaya, serta cerita para tetua, maka tersusunlah catatan ringkas ini. kanduksupatra.blogspot.com
Upacara Meprani yang dilakukan di banjar pada saat satu hari menjelang Nyepi sejatinya salah satu dari sekian banyak rangkaian upacara kesanga yang diawali dengan melasti, mecaru pemarisuda bhumi, meprani, ngerupuk, Nyepi (nyatur brata), ngembak geni.
Upacara meprani di banjar pada pagi hari sejatinya diawali dengan upacara pemarisuda bhumi (pembersihan dan penyucian bhuana agung dan bhuana alit) dalam sekala kecil yakni ruang lingkup banjar dan krama banjar. Upacara ini bersaranakan caru eka sata (ayam brumbun) sebagai sarana pengharmonisan alam sekala dan niskala, pengharmonisan Panca Maha Buta. Dilengkapi dengan banten durmanggala sebagai sarana untuk membersihan kedurmanggalan atau energi - energi yang tak sejalan dengan kehidupan manusia, dilanjutkan dengan pengulapan yakni sarana untuk mengembalikan energi - energi alam semesta ke posisinya masing - masing, dan dilanjutkan dengan ngelis dan prayascita yang maknanya adalah membersihkan dan menyucikan segala yang ada di dunia baik bhuana agung maupun buana alit, sekala dan niskala. Dengan upacara mecaru ini diharapkan energi alam semesta kembali dalam keseimbangan, bersih, tenang, dan suci. Inilah mengapa kemudian disebut dengan pemarisuda bhumi.
Lalu untuk ruang lingkup yang luas dilanjutkan dengan caru di tingkat desa yang dilakukan di catus pata desa dengan menghaturkan caru panca sata. Dilanjutkan lagi dengan yang lebih luas yakni untuk tingkat kabupaten / kota dengan pelaksanaan tawur di pusat kota. Demikian seterusnya dalam sekala yang lebih besar, dengan harapan alam semesta beserta dengan isinya kembali dalam kesimbangan (stabil) yang dalam bahasa balinya disebut dengan gumi degdeg / gumi enteg suci nirmala. kanduksupatra.blogspot.com
Kembali ke upacara yang dilaksanakan di banjar yakni meprani. Prani memiliki dua pengertian. Yang pertama pengertiannya adalah “mahluk” (sarwa prani / semua mahluk), kedua pengertiannya adalah “hidangan” yakni soda atau persembahan (dapat berupa gebogan) yang dilengkapi dengan hidangan nasi, lawar, sate, dan kuah.
Banten prani ini dihaturkan oleh setiap keluarga banjar, dibawa ke banjar. Dan ketika menghaturkan prani, banten ditempatkan langsung di hadapan krama yang menghaturkan prani. Banten prani kemudian di-astawa oleh jero mangku, dan tentunya juga oleh seluruh krama dengan cara ngayab. Jadi upacara Meprani adalah ungkapan rasa syukur dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi dengan mempersembahkan banten serta hidangan (prani) untuk memohon kesejahteraan semua mahluk (sarwa prani) dan alam semesta. kanduksupatra.blogspot.com
Setelah dilakukan bhakti pepranian (meprani) semua krama beramahtamah dengan makan bersama menikmati nasi, lawar, sate serta kuah yang ada di banten prani tersebut, sebagai simbol anugrah amerta Ida Sanghyang Widhi Wasa kepada kita semua. Acara ini memiliki nilai sosial yakni kebersamaan antar sesama warga. Untuk makan bersama ini di beberapa tempat masih berlangsung. Namun di beberapa tempat tradisi makan bersama sedikit dimodifikasi.
Dengan demikian konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sarwa prani dan alam semesta / lingkungan, serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia dapat terwujud dalam upacara meprani tersebut. Keharmonisan hubungan sekala dan niskala, dalam rangka menjalankan catur brata penyepian.
Meprani tidak saja dilakukan di banjar menjelang nyepi, namun tradisi meprani juga dilakukan di beberapa desa dan pura di Bali yang dilaksanakan pada bagian akhir dari rangkaian karya. Kurang lebih demikian. Ampura. (Ki Buyut Mesebeng Ririh)
#GamaBali #HinduBali #GamaTirtha #Nyepi #Kesanga #Meprani #OriginalArtikel kanduksupatra.blogspot.com

Wednesday, March 15, 2017

LABUH GENTUH LEMBU IRENG


Ogoh2 ST. Santi Yowana. Br Yangbatu Kangin, Saka 1939
 
 Berawal dari perjalanan Ida Danghyang Dwijendra menuju Uluwatu dalam persiapan moksah. Dalam perjalanan beliau bercengkrama dengan Ida Betara Masceti. Tak terasa sampailah di suatu tegalan di pesisir barat. Di tempat ini beliau beristirahat sambil berbincang berdua. Pembicaraan beliau didengar oleh sosok niskala penjaga tegalan itu yakni I BHUTA IJO. Danghyang Dwijendra kemudian memanggil lalu menitipkan pecanangan (tempat sirih) beliau yang berbentuk peti kepada I Bhuta Ijo, karena Sang Maha Muni akan ke Uluwatu. Untuk menjaga pecanangan tersebut, maka I Bhuta Ijo pun dianugrahkan kesaktian. Danghyang Dwijendra lalu berpisah dengan Betara Masceti. Danghyang Dwijendra menuju Uluwatu, sedangkan Betara Masceti kembali ke alam sunia.
Singkat cerita, Ida Danghyang Dwijendra telah sampai di Uluwatu, sedangkan I Bhuta Ijo setia mengemban amanat menjaga dan mengkramatkan pecanangan. Semenjak itu terjadi keanehan di masyarakat Kerobokan. Siapa saja yang ke tegalan itu selalu mengalami sakit. Para tetua masyarakat Kerobokan mendatangi Ida Danghyang Dwijendra di Uluwatu untuk memohon petunjuk.

Beliau memberitahukan bahwa di sana adalah tempat Beliau bercengkrama dengan Ida Betara Masceti. Tempat itu pula dihuni oleh I Bhuta Ijo yang menjaga pecanangan. Danghyang Dwijendra menyarankan agar dibuatkan pelinggih untuk memuja Betara Masceti. Agar I Bhuta Ijo tak ngrebeda (mengganggu), maka pada Tilem Keulu laksanakan LABUH GENTUH LEMBU IRENG (caru bersaranakan sapi warna hitam). Pada Purnama Kesanga lakukan upacara Nangluk Merana bersaranakan LEMBU BIYANG BELANG KEBANGSAPI (sapi yang sudah pernah beranak serta terdapat tompel / belang di balik kaki belakang atau depan). Pada setiap pujawali, sajikan I Bhuta Ijo berupa segehan dengan ulam jejeron bawi mentah dan segehan agung dilengkapi tetabuhan tuak arak berem.
Atas petunjuk dari Ida Danghyang Dwijendra, maka di bangunlah pura yang diberinama PURA PETI TENGET sebagai tempat memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawa sebagai Ida Betara Masceti untuk memohon keselamatan dan kemakmuran. (Sumber: Dwijendra Tatwa, dan beberapa sumber lainnya)
kanduksupatra.blogspot.com

Thursday, March 9, 2017

MENGAPA NATAB BIAKAON MENJELANG NYEPI ?



Natab Biakala adalah sebuah ritual yang dilakukan umat Hindu Bali pada pada sore hari / sandikala sebelum mebuwu buwu dan ngerupuk. Mebiakala sering disebut Mebiakaon, salah satu dari rangkaian panjang prosesi Ngesanga (perayaan Nyepi).
Natab Biakaon dilakukan di halaman rumah. Banten yang disiapkan adalah satu soroh biakala, prasita (prayascita), dan sesayut lara melaradan. Rangkaian upacaranya adalah: pertama natab biakaon bersaranakan tepung tawar sebagai sarana penawar (penetralisir) kekuatan negatif yang ada di dalam angga sarira (badan). Dilanjutkan dengan kekosot / kekosok yang terbuat dari pucuk daun pandan atau alang alang. Kekosot dilakukan dengan cara memutar-mutar di kedua belah telapak tangan. Maknanya adalah membersihkan kekotoran yang ada pada diri manusia secara lahir batin. Pemutaran kekosok ini juga diyakini akan memunculkan angin kencang (ngelinus) secara niskala, yang diharapkan mampu menghempaskan segala kekotoran (mala), segala penyakit (rogha), segala penderitaan (lara) yang melekat pada jasmani dan rohani.
Setelah itu diikatkan benang barak (merah) di kaki, sebagai simbol ngeseng (membakar) sehananing mala (segala kekotoran) yang ada dalam diri manusia secara lahir batin. Dilanjutkan dengan natab yakni ayunan tangan diarahkan ke kaki / ke bawah. Bermakna pelepasan mala agar kembali ke Sanghyang Ibu Pertiwi. Natab diarahkan ke kaki, karena kaki setiap saat kontak dengan pertiwi. Oleh sebab itulah natab biakaon sering disebut dengan natab batis. Natab Biakaon adalah memohon kehadapan Batara Kala agar tak diganggu sawateking bhuta. kanduksupatra.blogspot.com
Rangkaian selanjutnya adalah meprasita / meprayascita yakni memohon penyucian secara jasmani dan rohani. Didahului dengan berkumur tiga kali dengan air bungkak nyuh gading dilanjutkan minum air bungkak tiga kali. Dilanjutkan nunas tirtha prasita, yang sebelumnya dimohon pada sulinggih. Nunas tirtha prasita bersaranakan lis. Lis adalah rangkaian janur yang berbentuk senjata dewata nawa sanga, sebagai sarana untuk ngelis (mengupas) / membersihkan / menyucikan jasmani dan rohani. Akhir dari prasita adalah menyematkan sesarik / sesedep dan benang putih. Sesedep adalah simbol limpahan amerta, kesejahteraan dan keharuman / kemasyuran, sedangkan benang putih adalah simbol limpahan kesucian rohani (disematkan di kepala) dan kesucian jasmani (diikatkan di tangan). kanduksupatra.blogspot.com
Tahapan selanjutnya adalah natab Sesayut Pemiak Lara Melaradan. Sesayut ini ditatab untuk memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa sebagai Sanghyang Ibu Pertiwi agar dijauhkan dari sengsara / penderitaan berkepanjangan. Sesuai dengan namanya, Sesayut adalah simbol permohonan. Pemiak adalah pemisah atau penghindar. Lara adalah sengsara / penderitaan. Melaradan adalah sambung menyambung / berkepanjangan. Ketika natab sesayut ini, ayunan tangan diarahkan ke badan, yang maknanya adalah memohon agar jasmani dan rohani ini dijauhkan dari segala penderitaan berkepanjangan. kanduksupatra.blogspot.com
Prosesi natab biakaon diakhiri dengan ngukup, yakni kedua telapak tangan ditelungkupkan di atas asap pengasepan kemudian diusapkan ke wajah sebanyak tiga kali, ke badan (dada) tiga kali dan ke kaki tiga kali. Sebagai simbolisasi menyambut waranugraha penyucian pikrian, perkatan, dan perbuatan.
Setelah melakukan penyucian diri, barulah melakukan membuwu-buwu dan ngerupuk dalam rangka nyomia Sang Bhuta Kala. Karena hanya dalam jiwa raga yang bersih dan suci diharapkan mampu menyupat Bhuta menjadi Dewa. Harapannya pula, ketika menjalankan catur brata penyepian didasari atas kebersihan dan kesucian jasmani dan rohani. kanduksupatra.blogspot.com
Muncul pertanyaan: mengapa natab biakala dilakukan pada sandikala?. Karena sandikala adalah waktu peralihan dari siang ke malam. Pada saat ini terjadi peralihan dari kekuatan unsur-unsur kosmik di alam semesta. Sehingga waktu ini baik untuk pelepasan ma¬la (kotor) dan mengambil / memohon pemarisuda (penyucian). Demikian juga mengapa ngerupuk dilakukan pada sandikala adalah sebagai waktu yang baik untuk penyupatan bhuta menjadi dewa.
Demikian juga muncul pertanyaan, kenapa natab biakaon ini dilakukan di natah / di halaman. Semua ini adalah dalam rangka memohon kehadapan Sanghyang Ibu Pertiwi agar segala mala, roga, lara, kembali ke asalnya ke Ibu Pertiwi. Kira-kira demikian. I Jugul Punggung Nasikin Segara. Ampura.
#NyepiCaka #GamaBali #HinduBali #GamaTirtha #Biakaon
#OriginalArtkelKiBuyutDalu. kanduksupatra.blogspot.com

Thursday, March 2, 2017

OGOH-OGOH, PRODUK AWAL TAHUN 1980





Acara ngerupuk di desa diramaikan dengan anak-anak membawa obor / prakpak keliling desa. Kerlap kerlip nyala obor beriringan sejak sandikala sampai malam terasa sangat meriah, diiringi dengan riuhnya suara “kulkul” / kentongan di bale banjar. Demikian awalnya.
kandukssupatra.blogspot.com

Ketika listrik sudah mulai merata di desa – desa di Denpasar pada awal tahun 1980 an, maka kegiatan mengarak obor / prakpak keliling desa semakin khilangan greget, karena jalanan sudah diterangi listrik. Untuk menyemarakkan pengerupukan maka sekeklompok anak-anak muda membuat Lelakut (orang-orangan sawah) yang dibuat seram dengan bentuk yang sangat sederhana. Lelakut ini diarak keliling desa dan di-ogah-ogah (digoyang-goyang) sepanjang jalan sambil bersukaria. Entah siapa yang kemudian menyebut lelakut yang diogah-ogah tersebut dengan OGOH-OGOH. Istilah ini dipakai sampai sekarang.
kanduksupatra,blogspot.com

Pada awalnya hanya beberapa anak muda banjar di Denpasar yang membuat ogoh-ogoh. Kami awalnya (th 1982) membuat ogoh-ogoh dari “sumi” (jerami) dengan garapan yang masih sangat primitip. Kami dari Yangbatu (Yangbatu Kangin dan Yangbatu Kauh) waktu itu mengarak ogoh-ogoh melewati Alun-alun (Puputan Badung), ke Suci (kawasan Jl Hasanudin menuju Pemecutan, Jl. Gajah Mada, Catur Muka, dan kembali ke Yangbatu. Para pengusung tak mengenakan baju saat itu.

kanduksupatra.blogspot.com
Sejalan dengan perjalanan waktu, makin tahun makin bertambah anak – anak muda banjar membuat ogoh-ogoh. Melihat perkembangan yang positif ini, maka awal tahun 1990 an, Peradah (pemuda Hindu Darma) bersama dengan parisada mengarahkan perkembangan ogoh-ogoh agar memiliki makna spiritual dalam rangka Tawur Kesanga. Diarahkanlah kreatifitas ini dengan membuat ogoh-ogoh berupa BHUTA KALA yang bersumber dari cerita Purana, Pewayangan, Mitos masyarakat, Calonarang, dll. yang mencerminkan “penyomia bhuta” (penetralisir kekuatan negatif).
kanduksupatra.blogspot.com 
  
Kini ogoh-ogoh sangat pupuler. Anak-anak muda menggali mitos, tattwa agama Hindu, cerita rakyat, dll. yang nantinya dituangkan dalam karya ogoh-ogoh. Teknis penggarapannya pun semakin berkembang dan makin sempurna. Ogoh-ogoh sekarang kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan tahun - tahun sebelumnya. Penggarapan tema serta koriografinya pun semakin berkembang seperti yang kita saksikan belakangan ini.

Ogoh-ogoh kini tidak saja menjadi ritual agama, namun juga menjadi atraksi budaya, seni, dan atraksi wisata.
#OgohOgoh #SejarahBudaya  #GamaBali #GamaTirtha #TahunCaka