Thursday, February 2, 2017

BERUNG BOJOG dan LIAK KELEMAHAN



Ini hanyalah pengandaian dalam bahasa Bali. Sejatinya “Berung” artinya luka borok, “bojog” adalah monyet. Monyet kalau luka, ia selalu mengutak atik lukanya. Sampai - sampai lukanya tambah lebar, tambah besar, tambah parah, dan berdarah, yang mengakibatkan boroknya semakin menjadi – jadi, tak kunjung sembuh dan semakin sakit. Tetua Bali menyebutnya “buka berung bojog” untuk menyebut suatu permasalahan yang sejatinya kecil atau sepele, tapi karena ulahnya sendiri, maka permasalahannya menjadi besar melebar dan menjadikannya semakin susah.
Ungkapan “Berung Bojog” sepertinya nyata terasa belakangan ini yang meramaikan jagat maya, jagat media sosial, jagat elektronik. Setiap saat tersiar perselisihan, permusuhan, ujaran kebencian, yang berujung saling lapor. Belum selesai yang satu, muncul yang lain, bahkan merambat ke sana kemari, melebar liar, bagaikan ungkapan di atas “BERUNG BOJOG”.

Situasi semakin manjadi-jadi, saling tuduh, saling fitnah, saling bongkar kebobrokan, saling menjelekan, saling curiga, dll. Kondisi ini oleh para tetua Bali diungkapkan dengan sebuah pengandaian “LIAK KELEMAHAN” atau “Liak Kesiangan” saling dalih satu sama lain.
Energi bernegara terkuras hanya untuk mengurusi sesuatu yang kurang perlu. Waktu tersandra hanya untuk memenuhi pekentingan pribadi / kelompok. Tenaga habis hanya untuk mempermasalahkan “kata - kata”. Daya rekat negeri terkikis hanya untuk menyuarakan perbedaaan. Kebenaran terabaikan hanya untuk berteriak “pembenaran”. Harta digunakan untuk memenuhi hasrat “Tuan Ego”, Tahta dipertaruhkan untuk mencapai tujuan “Tuan Ambisi”. Kedua “tuan” ini telah mengikis nalar, menumpulkan ketajaman logika, melunturkan keluhuran budi. Sepertinya demikian.
Semoga “Berung Bojog” cepat sembuh, serta tidak ada Liak bergentayangan pada siang hari.
#PadamuNegeri #IndonesiaDamai #BaliParasParos
kanduksupatra.blogspot.com

No comments:

Post a Comment