Sunday, November 6, 2016

DARI BALI UNTUK NUSANTARA, Manusia Unik Bernama “Manusia Bali”





Kanduksupatra.blogspot.com. Bagaimana mungkin leluhur yang telah tiada sejak berabad abad yang lalu bisa menghidupi manusia yang ada saat ini?
Saya yang melontarkan pertanyaan ini pada awalnya juga ragu! Apa benar seperti kata hati saya ini?. Setelah bengong sesaat, ternyata saya punya keyakian bahwa memang benar manusia Bali saat ini dihidupi oleh para leluhur. Ini bukan mistis, bukan dongeng, dan bukan pula mitos. Dasar pemikirannya begini:
Peradaban manusia Bali sejatinya terbentuk di nusantara ini sejak dahulu kala secara berjenjang mulai jaman bahari, pra sejarah, jaman Siwa Budha nusantara, jaman Bali kuno, jaman Bali Majapahit serta jaman Bali kekinian. Dalam kurun sejarah panjang inilah manusia Bali hidup dan berkembang, melahirkan tradisi, budaya, dan peradaban dijiwai mitologi animisme dinamisme, bersenyawa dengan kearifan Siwa Buda, disemarakkan oleh Bhairawa Tantra.
Peradaban ini sejatinya tersebar di seluruh nusantara. Namun dalam perjalanannya, sejarah berkata lain. Belahan bumi nusantara lainnya ada yang telah mengadopsi cara hidup, cara pandang serta keyakinan yang baru, berbeda dengan keyakinan leluhur sebelumnya. Berubah pula adab, peradaban, adat, serta budayanya. Sedangkan manusia Bali masih kukuh dengan keyakinan leluhur nusantara. Oleh karena itu Bali menjadi lain, Bali menjadi tersendiri dan menyendiri, Bali menjadi unik, walaupun sebagian yang skeptis mengatakan “aneh”. Bali menjadi bahan pembicaraan orang-orang di luar sana. Bali dipuji oleh banyak orang dan tidak sedikit pula yang “membenci”. Konon Bali sangat eksotis, dirasa sebagai surga, negeri para dewa, tanah mistik berlatar mitos, walaupun mereka yang tak sepaham mengatakan bahwa Bali “penyembah berhala”. Banyak yang ingin merasakan getaran magis tanah Bali, menikmati kesenian Bali, keindahan seni lukis, dan patung Bali yang menawan, walaupun ada pula yang ingin “menghapus” tradisi manusia Bali. Bali menjadi karakeristik. Bali dirasakan sangat beda. Banyak turis datang, banyak kegiatan diadakan konon untuk mendapatkan inspirasi. Berbarengan dengan itu, banyak lapangan kerja, banyak investasi, banyak penghasilan. Pariwisata berkembang, manusia Bali bisa hidup darinya. Tidak saja manusia Bali yang memeluk keyakinan leluhur, bahkan  mereka yang tak sepaham pun menikmati manisnya anugrah leluhur ini di tanah Bali.
Bali tak memiliki tambang minyak, emas, perak, timah, batubara, dll. Bali hanya memiliki keyakinan dan spirit yang diwarisi dari para leluhur. Pemuliaan warisan leluhur dengan segala ritual dan mitologinya inilah yang kemudian  menempatkan manusia Bali sebagai manusia yang unik dengan tradisi, ritual dan peradabannya. Ritual inilah yang memberikan energi positif kepada tanah Bali, yang menjadi daya tarik dari orang-orang dari belahan bumi nun jauh di sana untuk melihat manusia unik yang bernama MANUSIA BALI. Inilah sejatinya menghidupi manusia Bali. Bukan teknologi, bukan kekayaan tambang, bukan yang lain. Hanya satu yakni KETEGUHAN HATI MANUSIA BALI MENJALANKAN TRADISI DAN KEYAKINAN LELUHUR.
Bali tak berarti apa-apa bila jauh dari keyakinan leluhur. Peradaban manusia Bali akan hampa dan hambar tanpa spirit leluhur. Bali akan meredup tanpa peradaban leluhur. Bali akan ditinggal wisatawan bila meninggalkan keyakinan leluhur. Dan…. Bali akan hancur jika menyimpang dari ajaran leluhur.
Pada akhirnya akal sehat saya berkata, haruskah Bali dan Manusia Bali berpaling kepada keyakinan dan kebudayaan orang lain? Mereka yang sehat akan berkata “tidak”. Bagi mereka yang masih punya akal akan berkata “untuk apa berpaling!.
Kita berharap keteguhan manusia Bali dalam menjalankan tradisi leluhur diikuti oleh saudara-saudara di seluruh  NUSANTARA dalam rangka membangkitkan spirit nusantara. Dari Bali untuk Nusantara Jaya. Dari Bali untuk Nusantara, Merah Putih, Pancasila, Garuda, Bineka Tunggal Ika. Sujud bakti kepada leluhur nusantara. Ampura. kanduksupatra.blogspot.com. / ki buyut dalu.
#OriginalArtikelByKanduk

No comments:

Post a Comment