Friday, September 18, 2015

Liak Sandal Vs Kapsul Tetra




Sore menjelang Hari Suci Nyepi, I Made Sugrama disibukkan dengan mengurus istrinya yang terjungkal jatuh di jalan setapak ketika menjemput kakaknya yang bekerja di sawah. Ketika itu Ni Luh Kembang Bungah mengendarai sepeda motor Mio warna kuning kesayangannya. Entah apa yang terlindas oleh sepeda motornya, tiba-tba ia sudah terjatuh, tertindih sepeda motor. Cek kali cek ternyata kakinya sedikit keseleo, bengkak sehingga harus diurut. Hari itu juga I Mde Sugrama segera mengajak istrinya ke tempat Pekak Tukang Wuut (kakek tukang urut) yang ada di banjar sebelah. Ketika itu ia dihadapkan pada sebuah pilihan. Sebab balian tukang urut di banjar tersebut ada dua dan alamatnya berada dalam satu gang dan bahkan rumahnya bersebelahan.
Maka dipilihlah tukang wut yang rumahnya lebih di depan. Karena jero balian itu yang lebih dahulu bisa dijangkau. Canang sesari dua puluh ribu pun dihaturkan memohon agar diberikan jalan penyembuhan oleh sesuhunan sang balian. Lalu mulai prosesi balian wut melakukan terapi. Kaluarlah minyak-minyak bertuah dari kamar suci sang balian, diurutkan ke kaki Ni Luh Kembang Bungah.
Dalam prosesi itu, sang balian sepertinya sedang menerima suatu bisikan dari niskala, lalu terucap kalimat “badah… ne iluh ulung sing je ulian apa. Ne ada anak nyengkalen. Sandalne misi pepasangan. Kutang sandale to, pang sing ngrebeda buin”. Dalam terjemahan bebasnya maksudnya adalah bahwa yang menyebabkan Iluh mengalami kecelakaan seperti ini adalah karena perbuatan orang yang tidak suka kepadanya, dengan cara memberikan suatu di sandalnya, agar ni luh mengalami celaka. Disuruh oleh sang balian agar sandal tersebut dibuang.
I Made Sugrama dan Ni Luh Kembang terhenyak mendengar pernyataan sang balian. Dan karena ingin cepat sembuh, maka ia percaya dengan omongan sang balian, lalu membuang sandal tersebut di depan pintu gerbang sang balian. Namun ketika itu I Made Sugrama sambil berpikir, sayang dengan sandalnya itu harus dibuang, sebab sandal itu baru dibeli dan masih bagus. Tapi terdorong oleh omongan sang balian, maka sandal itu dibuangnya saja dengan berat hati. Merekapun pulang, dengan harapan sampai di rumah sudah baikan. Namun sampai di rumah I Made Sugrama berfikir, untung saja liak itu hinggap di sandal, bagaimana kalau liak itu hinggap di motor mio, berarti motor itu harus dibuang. Waduh … mahal dan sayang …
Setelah dua hari diurut, ternyata sakit kaki dari Niluh Kembang tak ada perubahan, bahkan makin bengkak. I Made Sugrama menjadi berpikir, rugi berobat ke sana tak ada perubahan. Kalau dihutung keruigiannya sesari canang Rp 20.000 ditambah harga sandal 150.000, maka total kerugian mencapai 170,000. Belum lagi dua hari tak kerja, tak ada pemasukan. Maka I Made Sugrama bergegas untuk nunas tamba alias berobat ke pekak tua yang juga balian urut yakni balian yang lagi satunya. Rumahnya agak di belakang dari rumah balian yang satunya. Maka Made Sugrama pun mengendap-endap dan menyelinap masuk ke rumah pekak balian yang satunya, karena tak enak kalau dilihat oleh balian yag satunya.
Setelah menceritakan semua kejadiannya, maka canang sari dihaturkan dengan sesari dua puluh ribu rupiah. Lalu dilakukan pengobatan dengan lengis sakti yang dimiliki oleh pekak tersebut yang konon berasal dari sebuah batu sakti yang ia dapatkan terdahulu ketika menyabit rumput di sawah. Konon minyak dari batu sakti itu telah menyembuhkan banyak orang sakit sejak dahulu.
Dengan kepercayaan penuh Ni Luh dan I Made Sugrama nunas tamba di sana. Ketika proses sedang berlangsung, lagi-lagi I Made Sugrama dikejutkan dengan pernyataan pekak balian yang menyatakan bahwa tulang Niluh Kembang sudah hancur di dalam. I Made Sugrama pun panik dalam hati, ia berpikir istrinya tak bisa berjalan lagi karena tulangnya sudah benyah alias remuk. Namun si pekak balian meyakinkan kembali I Made Sugrama bahwa ia akan berangsur sembuh karena kasiat dari minyak yang ia punya. Singkat cerita, mereka berdua pulang dengan kaki bengkak dan berjalan dipapah, dan berharap beberapa saat setelah pengobatan akan terjadi kesembuhan.
Pada malam itu, diceritakan Ni Luh Kembang merasakan sakit yang sangat, terasa kebet-kebet (berdenyut-denyut di bagian kakinya yang begkak). Ni Luh Kembang mengerang kesakitan dan tak bisa tidur, demikian juga dengan I Made Sugrama tak tidur semalaman menemani istrinya. Pada pagi hari kaki Ni Luh kembang semakin bengkak, dan malah memerah. Waguh… I Made Sugrama kembali menghubungi seorang penyembuh (balian) yang agak jauh dari rumahnya untuk mengecek keadaan kaki istrinya. Sang balian ketika sampai di rumah I Made Sugrama mencoba untuk menilai situasi rumah. Lalu mengecek keadaan dari Ni Luh Kembang.
Hasil anaslisa sang balian, kembali mengejutkan I Made Sugrama, konon istrinya sedang diserang liak barak. Inilah yang menyebabkan kakinya menjadi bengkak dan memerah. Waduh kembali keringat dingin keluar dari pori-pori I Made Sugrama. Sang balian kemudian memberikan sedikit jampi-jampi agar liak barak itu keluar dari kaki Ni Luh kembang.
Proses itu pun selesai begitu saja, lalu sang balian disuguhkan minuman kopi ala kadarnya di rumah I Made Sugrama. Made pun lega hatinya, berharap bengkak kaki istrinya berangsur sembuh. Beberapa saat setelah sang balian menghilang dari rumahnya, tiba-tiba sakit itu semakin jadi, dan lagi-lagi I Made Sugrama tak tidur semalaman. Poyoklah kondisi I Made Sugrama dan istrinya.
Dalam keadaan kebingungan dan ngantuk pagi itu datanglah I Ketut Catu berkunjung ke rumah I Made Sugrama. Didapatinya I Made sedang murung, ngantuk dan bingung. Maka berceritalah I Made Sugrama mengenai keadaan istrinya. I Ketut Catu yang berpikir logis dan medis menyarankan agar I Made Sugrama segera mengajak istrinya ke puskemas atau rumah sakit terdekat.
Saran I Ketut Catu didengar oleh I Made Sugrama, lalu bergegas menuju puskemas berbekal kartu JKBM yang didapatnya dari kantor kelurahan. Kaki dari Ni Luh Kembang diperiksa oleh petugas kecamatan sambil mengorek keterangan mengenai kejadian, dan tak menceritakan bahwa kakinya itu sudah diobati oleh tiga orang balian. Tampak ketika itu sang perawat membersihkan kaki Ni Luh yang bengkak, serta didapatinya sebuah luka kecil yang kemasukan pasir kotor. Luka itu dibersihkan dengan seksama kemudian diberi obat.
Sang perawat menjelaskan bahwa kaki istrinya bengkak karena ada luka kecil berisi pasir kotor. Itulah yang menyebabkan infeksi lalu terjadi bengkak memerah. Sang perawat yang sudah terbiasa dengan pasien penyakit seperti ini kemudian memberikan obat pada luka. Dan memberikan obat minum berupa tablet yakni obat untuk mengurangi rasa sakit, obat anti radang agar tak bengkak, serta antibiotic berupa Kapsul Tetra.
Setelah selesai pengobatan, I Made dikenakan biaya cuman lima ribu rupiah, lalu poulang. Sesampai di rumah, Ni Luh terasa lebih lega, dan mereka berdua juga tertidur lelap karena sudah dua hari tak tidur. Setelah terbangun pada sore hari, rasa sakit kakinya mulai berkurang, warna merah sudah berkurang, dan bengkak mulai berkurang.
Saat itu I Made Sugrama berpikir sambil memegang obat dari puskesmas dan berkata dalam hati “ternyata liak sandal dan liak barak yang dibilang oleh balian hanyalah akal-akalan saja. Ternyata liak sandal dan liak barak bisa dikalahkan oleh kapsul tetra”.  Akhirnya yang menyembuhkan adalah “Balian Puskesmas”. Demikian pikiran jahilnya muncul sambil mensyukuri kedaan istrinya yang sudah semakin membaik. (Ki Buyut/Kand.)

Kontak Dengan Wong Samar





Wong samar pengertian lugasnya adalah sosok seperti manusia yang samur, kabur, alias tak jelas, dimana sosok tersebut berada di dunia lain. Sosok mahluk samur tersebut beraktifitas seperti manusia biasa, namun aktifitasnya terpisah oleh ruang dan waktu. Artinya bahwa manusia melakukan aktifitas di tempat yang sama dengan wong samar, namun kedua aktifitas tersebut dalam dimensi yang berbeda. Apabila aktifitas antara wong samar dan manusia terjadi pada tempat yang sama, mengapa manusia tak tahu atau tak menyadari kalau di sisi lain ada aktifitas dari mahluk lainnya yang disebut dengan wong samar? Kenapa tak dirasakan, atau kenapa tak kelihatan?
Secara logika ilmiah hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Manusia dan wong samar sejatinya adalah sama-sama mahluk Tuhan, sama sama merupakan isi alam semesta. Namun keduanya ada pada dunia yang berbeda. Kedua belah pihak hidup atau beraktifitas dalam ruang dan waktu yang berbeda. Yang membedakan tersebut adalah frekewensi dan amplitudo energy-energy elektromagnetik yang dimiliki oleh kedua ciptaaan Tuhan ini. Dunia manusia bisa jadi memiliki frekwensi gelombang elektromagnetik yang lebih tinggi, sedangkan wong samar dalam energi dan amplitudo yang lebih rendah.
Hal ini bisa kita jelaskan seperti dua orang yang berkomunikasi menggunakan radio amatir seperti handy talky (HT). Dua orang ini bisa kontak atau berkomunikasi apabila mereka berada dalam frekwensi radio yang sama. Dan ketika frekwensi itu berubah, maka tak akan bisa berkomunikasi dengan yang dimaksud. Artinya pula bahwa manusia bisa saling berkomunikasi dan beraktifitas karena manusia memiliki kesamaan energy satu sama lainnya, memiliki rentang frekwensi yang relatif sama.
Dalam hal ini bisa jadi wong samar memiliki rentang energi atau frewensi yang berbeda dengan manusia, sehingga walaupun dia berada dalam tempat yang sama, maka manusia tak akan bisa kontak dengan  aktifitas wong samar tersebut.
Bagaimana dengan manusia yang bisa melakukan kontak kerja sama dengan wong samar? Inilah yang kemudian yang disebut dengan manusia dengan lintas frekwesni. Yakni manusia yang memiliki frekensi energy elektromagnetik kehidupan dengan rentang yang sangat lebar. Maksudnya bahwa rentang frekwensi yang ia miliki mencapai frekwensi setinggi manusia biasa sampai dengan frekwensi rendah serendah frekwensi kehidupan wong samar. Artinya bahwa ketika orang yang memiliki rentang energi yang lebar tersebut, apabila ingin kontak dengan wong samar maka ia harus merendahkan frekwensi energi elektromagnetik tubuhnya sehingga frekwensi tersebut bersinggungan atau berada pada frekwensi kehidupan wong samar. Ketika energy itu bersinggungan, maka pada saat itulah orang tersebut masuk ke dunia wong samar, melihat wong samar, serta mampu berkomunikasi dengan wong samar. Dan apabila mereka ingin kembali ke dunia manusia maka orang tersebut akan menaikkan frekwensi kehidupannya sehingga pada level frekwensi manusi biasa, sehingga ia keluar dari dunia wong samar dan masuk kembali ke dunia manusia biasa. Demikian seterusnya. Jadi orang tersebut secara sadar mampu mengatur naik turun frekwensi energy elektromagnetik tubuhnya. Orang ini sadar dan tahu kemampuannya. Orang yang demikian ini dikatakan memiliki tampak tis atau perangai sejuk.
Berbeda dengan seseorang yang tak menyadari dirinya memiliki frewensi kehidupan yang mencapai rentangan kehidupan wong samar. Dalam situasi tertentu ia tak menyadari bahwa frewensi tubuhnya mencapai titik rendah, lalu masuk ke dalam dunia wong samar. Ketika secara tak sadar ia masuk ke dunia samur itu, ia kemudian menjadi bengong dan terheran-heran, kemudian tak menyadari ia berada dimana. Lalu ia larut dalam kehidupan dunia wong samar. Orang tersebut menjadi tak sadar, bengong-bengong tak karuan, sehingga kehidupan normalnya sebagai manusia menjadi tak karuan. Inilah yang kemudian disebut seseorang yang sedang dikendalikan oleh wong samar. Karena ia tak sadar akan keberadaannya dan tak mampu keluar dari dunia. Tipe orang seperti ini disebut memiliki tampak nyem atau energy tubuhnya rendah alias dingin.
Keadaan energy tubuh seperti ini tak bisa dibentuk begitu saja. Ini adalah bekal lahir, dan hal ini sejatinya adalah sebagi buah dari proses kehidupan sebelumnya. Seseorang yang sering melakukan tapa brata yoga samadi atau olah batin, maka bibit-bibit olah batin atau olah frekwensi akan terbentuk dalam cita budhi manah dan ahamkara-nya yang nantinya akan mempengaruhi energi tubuh dalam kelahiran berikutnya untuk menjadi manusia yang bisa mengatur frekwensi tubuh, yakni manusia yang bisa masuk ke dalam dunia nyata dan dunia wong samar. Beberapa orang bisa melakukan hal tersebut, seperti mereka yang sudah sering kontak dengan wong samar atau mahluk lainnya. Orang ini dikatakan memiliki indra keenam.
Dengan latihan yang terus menerus serta olah batin yang tekun melakukan tapa brata yoga samadi, maka tidak saja memasuki dunia wong samar yang berada pada frekwensi yang lebih rendah, namun bisa juga memasuki dunia yang frewensinya sangat tinggi yakni dunia para mahluk yang lebih tinggi yakni dunia para widyadara widyadari, dunia betara dan dunia para dewa. Sehingga seperti jaman dahulu bahwa manusia bisa berkomunikasi dengan para dewa dan para mahluk di kayangan. Kemampuan ini hanyalah dimiliki oleh para sadhu, orang suci, para yogiswara yang tekun melakukan tapa brata yoga semadi dalam kehidupannya.
Manusia yang disebut dengan manusia memiliki keterbatasan dalam ruang gerak, karena manusia tubuhnya disusun oleh pancamahabhuta yang bersifat masif atau padat, sehingga ia memiliki ukuran dan bentuk tersendiri. Badan manusia seperti ini tak bisa melewati rintangan yang bahannya sama dengan panca mahabuta. Seperti manusia yang berbadan padat ini tak bisa menembus rintangan berupa tembok, kayu, dll. Sedangkan manusia di alam samur atau wong samar komponen penyusun tubuhnya bersifat astral atau halus. Ia hanya berupa badan suksma yang tak tersusun oleh panca maha bhuta, ia hanya tersusun oleh komponen halus yang disebut dengan panca tan matra. Sehingga ia merupakan sebuah sosok dalam kehampaan, namun berisi. Inilah mahluk samar tau mahluk astral. Sehingga ia bisa menembus tembok atau benda padat lainnya. Ia hanyalah sebuah kumpulan energy kehidupan berbentuk seperti yang ia inginkan. Dengan demikian ia bisa merubah bentuknya sesuai dengan yang ia inginkan. Dan ketika manusia berada dalam kondisi dimana energi tubuhnya sama dengan energy mahluk astral tersebut, maka pada saat itulah manusia dapat melihat keberadaan mahluk tersebut, berkomunikasi, bahkan melakukan aktifitas bersama sesuai dengan keinginannya.
Kontak yang semakin intensif dari manusia dengan mahluk astral ini memunculkan atau sampai pada tahap pertemanan yang akrab. Kalau itu sosok laki dan perempuan bisa jadi terjadi hubungan khusus yang disebut dengan pacaran bahkan perkawianan. Maka kerapkali di masyarakat ada isu bahwa seseorang memiliki pacar wong samar, atau memiliki istri atau suami wong samar. Dalam pada itu juga, kerapkali manusia menggunakan pola hubungan ini untuk melakukan suatu kegiatan sesuai dengan kepentingan dari manusia itu sendiri. Untuk kepentingan bisnis, ekonomi, kekuasaan, dunia pengobatan dan lain-lain.
Pola hubungan seperti ini awalnya adalah kontak biasa melanjut menjadi persekutuan yang sudah tentunya saling menguntungkan. Maksudnya bahwa manusia akan dibantu oleh wong samar untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh manusia itu sendri. Sedangkan manusia itu sendiri terikat kontrak perjanjian dengan wong samar yang telah membantunya. Apakah dalam bentuk haturan sesaji secara rutin atau hal lain sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak. (Ki Buyut/Kand.)    

Pastu, Para Pedagang Mengutuk Diri-sendiri





Pernah mendengar kisah Ki Dukuh Sakti Pahang yang diremehkan oleh menantunya yakni I Gusti Ngurah Agung Pinatih di Kertalangu? Ceritanya begini: Diceritakan di Kertalangu (Badung) ada seorang pendeta yang bergelar Dukuh Sakti Pahang, keturunan dari Pasek Padang Subadra, memiliki kesucian bhatin yang tinggi sehingga disebut Dukuh Sakti Pahang. Ki Dukuh adalah mertua dari penguasa Kertalangu saat itu yakni I Gusti Ngurah Pinatih keturunan Arya Wang Bang Pinatih. Pada suatu hari, Ki Dukuh mempermaklumkan kepada menantunya yakni I Gusti Ngurah Pinatih bahwa beliau sudah waktunya untuk meninggalkan dunii fana ini. Beliau akan menjalankan aji kamoksan atau kelepasan.  Mendengarkan laporan sang mertua, I Gusti Agung Pinatih menjadi tertawa dan menyangsikan perkataan mertuanya, dengan ucapan sedikit meremehkan “kalau memang benar moksah, maka saya akan pergi meninggalkan Kertalangu”.
Merasa diremehkan oleh sang menantu, maka Ki Dukuh mengucapkan pastu kepada menantunya, bahwa I Gusti Penatih akan dikerubuti semut, sehingga akan meninggalkan Desa Kertalangu”. Setelah mengeluarkan kutukan tersbeut, Ki Dujkuh sakti menuju ke tempat dimana beliau hendak meninggalkan dunia ini (moksa). Sedangkan I Gusti Ngurah Pinatih mengirim utusan untuk menyaksikan kebenaran dari ucapan mertuanya. Singkat cerita, apa yang dikatakan oleh Ki Dikuh memang benar terjadi. Lalu hal itu dilaporkan oleh utusan kepada I Gusti Ngurah Pintah. Singkat cerita, apa yang menjadi kutukan dari Ki Dukuh segera terjadi. Entah darimana datangnya semut yang tak terkira jumlahnya mengerubuti tempat tinggal I Gusti Ngurah Pinatih. Tak kuasa dengan semut yang semakin banyak, maka I Gusti Ngurah Pinatih meninggalkan Kertalangu menuju daerah lainnya. Di tempat itu juga dikerubuti semut, sampai akhirnya sampai di Desa Sulang. Di sana beliau tidak mendapatkan ketentraman.
           
Dalam kehidupan manusia Hindu Bali yang mengenal pola pemujaan leluhur juga terdapat banyak bhisama yang berkaitan dengan berkah dan kutukan. Contohnya adapah bhisama Sang Abra Sinuhun sebagai berikut: "Kamung Pasek mwang Bandesa, aywa lupa ring, kahyangan makadi ring Lempuyang, ring Besakih, ring Silayukti, mwang Gelgel Dasar Bhuwana. Yan kita, lupa ring kahyanganta, wastu kita tan anut ring apasanakan, tanwus amangguh rundah, tan mari acengilan ring apasanakan, tan wus amangguh rundah, tan mari acengilan ring apasanakan, sugih gawe kurang pangan, mangkana, piteketku ring parati santana, kapratisteng prasasti, sinuhun de kita prasama, kita tan wenang piwal ring piteketku, ila-ila dahat, aywa lupa, aywa lali, mwah yan kita pageh ring piteketku, moga tan wus kita amanggihana dirgayusa, amanggih wirya gunamanta, sidhi ngucap, jannanuraga asihhing Hyang, dibya guna, susila weruhing naya, mangkana cihanyeng lepihan"
Artinya: "Kamu Pasek dan Bandesa, jangan melupakan kayangan yakni di Lempuyang (Lempuyang Madya), di Besakih (pura Ratu Pasek), di Silayukti, dan di Gelgel Dasar Bhuwana. Bilamana kamu melupakan kayanganmu, agar kamu tidak cocok di keluarga, tidak henti-hentinya merasa gundah, selalu cekcok dalam keluarga, giat bekerja namun kekurangan makan. Demikian peringatanku kepada keturunan tercantun di dalam prasasti, harus dipuja olehmu sekalian. Kamu tidak boleh melanggar pemberitahuanku, sangat berbahaya, jangan lupa, jangan lalai, dan apabila kamu taat dengan pemberitahuanku, mudah-mudahan kamu selalu panjang umur, memperoleh kekuatan dan kepandaian sempurna, ucapanmu, tersohor di dunia, dikasihi Hyang Widhi, memiliki sifat -sifat yang mulia, berkelakuan baik dan menguasai sifat-sifat kepemimpinan, demikian tanda-tandanya harus disebarluaskan".
Kalau dicermati dari bhisama di atas adalah sebuah nasehat kebaikan dari para leluhur yang sisampaikan secar turun temurun dengan segala berkahnya. Namun dibalik itu terdapat semacam pastu sebagai akibat dari apabila tidak mengindahkan bhisama tersebut.       

Sebagai contoh lagi, yang terkenal adalah pastu dari Brahmana Keling ketika beliau diusir dari Besakih saat menemui saudaranya yakni Dalem Waturenggong dan Danghyang Nirartha. Dimana diceritakan ketika beliau dari Jawa kemudian sampai di Gelgel, beliau mendapatkan situasi sedang sepi. Dalem dan sebagian rakyat sedang berada di Pura besakih melaksanakan Karya Eka Dasa Rudra. Kemudian Brahmana Keling segera datang ke Besakih. Brahmana Keling yang kelihatan lelah, lusuh, dan kotor, langsung menuju ke tempat upacara. Secara tidak sengaja beliau istirahat di tempat upacara berlangsung. Keberadaan beliau dilihat oleh Dalem, kemudian menyakan orang yang dianggap asing tersebut. Brahmana kotor tersebut mengatakan bahwa dirinya masih saudara Dalem dan Danghyang Nirartha. Tidak ada yang percaya dengan perkataan orang tersebut. “Jangan-jangan orang tersebut adalah orang yang tidak waras“. Demikian pikiran orang-orang saat itu. Orang yang mencemooh Brahmana Keling di Besakih. Brahmana Keling tersebut diusir dari Besakih, karena dianggap mencemari karya.
Dengan tidak bergeming, Brahmana Keling beranjak dari Besakih menuju ke arah barat daya, sambil mengucapkan kutukan. “wastu tata astu, karya yang dilaksanakan di Pura Besakih tan sidakarya. Bumi kekeringan, manusia kageringan, sarwa gumatat gumitit ngrubeda di seluruh jagat Bali“. Kutukan Brahmana Keling sangatlah manjur. Semua tanaman seketika layu dan mati. Tanaman yang sudah berbuah, tiba-tiba buahnya jatuh dan berguguran, busuk dimakan ulat. Di persawahan, tanaman padi dan palawija yang sudah siap panen tiba-tiba diserang hama tikus dan balang sangit. Penyakit merajalela menyerang manusia dan binatang-binatang peliharaan. Suasana menjadi mencekam, semua menderita, baik manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan. Dalem Waturenggong menjadi bersedih karena keadaan tersebut. Tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut. Yadnya urung dilakukan karena situasi yang tidak memungkinkan.
Menghadapi situasi demikian, maka Purohito kerajaan yakni Danghyang Nirartha dan Dalem Waturenggong melakukan yoga semadi di Besakih. Dari yoga semadi tersebut beliau mendapatkan pewisik, bahwa penyebab semua ini adalah kutukan yang dikeluarkan oleh orang yang mengaku Brahmana Keling dan mengaku saudara Dalem. Hanya beliaulah yang mampu mengembalikan keadaan seperti sediakala. Maka dari itu, segera Dalem memerintahkan patih dan rakyat untuk menjemput orang tersebut sampai ketemu. Setelah beberapa lama dicari, didapat kabar bahwa Brahmana Keling telah sampai di Bandana Negara atau Badung pesisir selatan. Beliau tinggal dan membuat pesraman di sana. Di sana beliau dihadap oleh para patih dan beberapa rakyat sebagai utusan untuk menjemput Brahmana Keling untuk diajak ke Gelgel dan langsung ke Besakih.
Atas kesucian bathin beliau, Brahmana Keling bersedia datang kembali ke Besakih. Setelah sampai di Besakih beliau disambut dengan kehormatan. Dalem berkata bahwa Brahmana Keling dimohon untuk menarik kutukannya. Jika situasi kemudian dapat kembali seperti semula, maka Dalem akan mengakuinya saudara Dalem. Brahmana Keling melakukan hening sejenak sambil mengucap mantra sakti, tanpa sarana apapun. Seperti tidak diduga sebelumnya, keadaan berangsur-angsur berubah menjadi baik. Tanam-tanaman menjadi segar tumbuh subur kembali dan berbuah. Hama tikus, balang sangit dan segala jenis hama tiba-tiga menghilang dari persawahan. Rakyat yang tadinya menderita penyakit, menjadi sembuh seperti sediakala. Paceklik berubah menjadi hujan, bahkan keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Karena kesucian batin dan kesaktian dari Brahmana Keling, dan diakui sebagai saudara Dalem Waturenggong. Brahmana Keling kemudian dianugrahkan gelar Dalem. Karena berkat kesucian dan kesaktian beliau, sehingga keadaan menjadi lebih baik, dan karya yadnya dapat dilakukan dengan sukses sesuai maksud dan tujuannya, maka Brahmana Keling diberi julukan Brahmana Sidakarya. Gelar beliau menjadi Dalem Sidakarya.

Pada masa sekarang ini, mungkin pembaca sudah pernah mendengar kisah penemuan situs  Gumuk Gadung, yang sekarang dibangun Candi Purwo. Tempat itu pada awalnya dikutuk dipastu oleh Sabdapalon pada masa akhir kerajaan Majapahit. Tempat itu dilindungi oleh pastu dalam jangka waktu lima ratus tahun dengan bunyi “Jalmo Moro Jalmo Mati”. Siapa yang memasuki wilayah tersebut, maka akan tak kembali alias mati. Maksud dari pastu ini terkuak beberapa tahun yang lalu yakni menjelang tahun dua ribuan. Dimana tempat tersebut merupakan tempat pertemuan terakhir dari raja Majapahit terakhir yakni Prabu Brawijaya dengan pengasuh tanah Jawa yakni Sabdapalon Nayagenggong. Mereka berjanji akan kembali lagi untuk berkumpul di tempat ini setelah lima ratus tahun kemudian. Nah untuk melindungi tempat itu dari usikan manusia, maka tempat tersebut dipastu oleh Sabdapalon. Setelah lima ratus tahun kemudian barulah akan ada seseorang yang mendapatkan mandat untuk membuka kutukan dengan sarana Tirtha Sapta Gangga yang diperoleh melalui perjalanan spiritual yang panjang, serta godaan yang berat. Di tempat tersebut sekarang sudah dibangun sebuah candi yang bernama Candi Purwo sebagai amanat dari pengemban nusantara ini yakni Sabdapalon dan Prabu Brawijaya.

Terkait dengan urusan pastu, pembaca yang budiman mungkin sering menyaksikan di kalangan masayarat Hindu Bali tak dijinkan sembarangan membaca lontar. Hal ini memang benar adanya. Sebab dari sekian banyak lontar yang ditulis oleh para penulisnya, terdapat beberapa lontar yang dilindungi oleh penulisnya dengan memberikan pastu. Pastu itu adalah semacam peringatan keras dari penulis terhadap hasil karya. Apabila peringatan tersebut dilangar, maka akan terjadi sesuatu pada diri yang membaca lontar tersebut, atau yang mempelajari ilmu yang tersurat di dalm lontar tersebut. Nah inilah yang menyebabkan banyak orang takut membaca lontar. Lantaran takut terkena pastu dari lontar itu.
Memang tak semua lontar dilindungi dengan pastu. Tetapi banyak pula orang yang terkena pastu sebuah lontar. Seperti misalnya banyak orang yang menjadi gila karena membaca lontar tertentu. Ada pula yang kehilangan sebagian ingatannya, sehingga ia sering lupa-lupaan. Itu adalah gejala dari terkena pastu sebuah naskah kuno dan rahasia. Oleh sebab itu, orang yang mengetahui akan hal tersebut, maka ia akan mendahului pembacaan dengan mengucapkan puja puji kehadapan Betara Betari, agar tak terkena pastu, tak kena kutuk  dan tak terkena cakarabawa rajapinulah, sehingga terbebas dari pastu yang terdapat dalam lontar tersebut.

Pastu ini adalah kekuatan alam yang tak bisa dihalangi oleh siapapun, bahkan para dewa di kayangan. Banyak mitologi mengenai para dewa dikayangan yang dikenai pastu. Seperti kisah Dewa Siwa dan Parwati. Secara singkat disebutkan bahwa Dewi Parwati yang diutus untuk mencari susu lembu, ketahuan menjalin hubugan dengan seorang pengmbala lembu. Maka Dewi Parwati dikutuk serta harus menjalani hukuman menjadi Dewi Durga Bhairawa yang menjalani hidup di Setra Gandamayu sebagai Dewa sesembahan dari para bhuta kala dan penekun dari dunia kegelapan. Sampai akhirnya Dewa Siwa mengakhirinya dengan percengkramaan antara Rangda (Dewi Durga) dan Barong Ket (Dewa Siwa). Demikian dikisahkan.
Bahkan kelahiran dari Sang Panca Pandawa pun sejatinya dalam mitolofgi adalah akibat  kutukan di kayangan. Dalam Purana disebutkan bahwa Dewa Indra yang kawatir dengan tapa dari Asura Tri Sirah yang bertapa kehadapan Dewa Brhama, ingin mendapatkan kekuatan untuk menguasai kayangan. Ketika Asura Tri Sirah sedang bertapa, maka Dewa Indra lalu memenggal kepala sang asura tersebut. Karena melanggar dari sesana, maka Dewa Indra terkena kutukasn Dewa Brahma yakni Dewa Indra akan kehilangan sebagian kekuatannya. Kekuatannya akan menuju ke Dewa Dharma menjelma menjadi Sang Dharmawangsa, sebagian lagi menuju ke Dewa Bayu yang nantinya akan menjelma menjadi Sang Bima, kekuatan Dewa Indra yang masih tersisa secara langsung akan menjelma menjadi Sang Arjuna, dan sebagian lagi menuju ke dewa kembar yang akan menjelma menjadi Nakula dan Sahadewa.

Masalah pastu, mungkin pembaca masih ingat dengan kejadian Bom Bali di Kuta. Masyarakat Bali mengutuk pelaku dengan melakukan doa bersama dan upacara Karipubaya, yang akhirnya semua pelaku dan jaringannya habis tuntas terungkap.  Dan masih banyak lagi contoh mengenai pastu di dalam kehidupan masyarakat sejak jaman dahulu sampai jaman sekarang. Dalam cerita rakyat di daerah lainnya, kutukan atau pastu banyak diceritakan, seperti seseorang dikutuk menjadi batu, menajadi kayu, menjadi binatang, menjadi manusia jelek, dll. Ini membuktikan bahwa kutukan itu memang benar-benar terjadi dan nyata.

Bagaimana kutukan itu bekerja dan mengenai orang yang dikutuk. Apakah setiap orang yang dikutuk itu bisa terkena. Jelas tidak akan ada jawaban pasti, sebab akibat kutukan itu pastilah disingkronkan dengan karma yang bersangkutan serta sejauhmana derajat kesalahan dari mereka yang mengutuk, serta sejauhmana si pengucap pastu itu mendapatkan dampak kerugian dan seberapa tulus orang mengutuknya.
Dari pengamatan mengenai kutukan, mengindikasikan bahwa orang yang teraniaya, orang yang tersakiti, kutukannya manjur. Karena kutukannya dilandasi atas kebenaran dan rasa prihatin yang mendalam. Artinya si pengutuk memohon kehadapan Tuhan agar proses karma dari perbuatannya tersebut dipercepat.

Dan bicara mengenai kutukan, yang aneh lagi adalah para pedagang yang sering mengutuk dirinya sendiri untuk meyakinkan pembeli agar dapatkan untung yang besar. Sebagai contoh, dalam proses tawar menawar seringkali si penjual berucap apang sing selamet (agar tak selamat), pang lilig montor (agar dilindas sepeda motor), bani kiting / jengker (berani stroke), pang salahang betara (agar disalahkan oleh para dewa), pang mati (biar mati), dll.
Ucapan yang mengerikan itu setiap hari terucap di pasar dalam proses tawar menawar. Kenakah mereka akibat dari kutukan mereka sendiri? Rupanya hal ini hanyalah didasari atas motivasi untuk mendapatkan untung. Ini adalah sebuah ucapan sampah, sumpah serapah yang tak tulus dan tak ada sebab akibat.  Hanya berlangsung begitu saja tanpa ada yang teraniaya, tersakiti, sehingga tak berdampak bagi si pengucap. (KI Buyut/ Kanduk).

Thursday, September 10, 2015

Ida Bagus Ngekop Bola






Terbawa-bawa oleh semaraknya kompetisi di liga sepak bola negara-negara Eropa, membawa imbas ke tanah air khususnya di Bali. Dimana-mana orang ngomongin tentang bola, bola dan bola, lengkap engan skor serta bintang-bintangnya. Dari liga Ingris, Spanyol, Italia, Jerman, Belanda, dll. Namun sangat jarang mereka membicarakan tentang liga sepak bola tanah air. Mungkin kurang menarik kali.
Semaraknya dunia sepak bola di televisi, menyebabkan anak-anak jadi keranjingan main bola. Saat itu datanglah beberapa orang anak memainkan bola sepak di jaba Pura Maspahit. Di sana ada Man Upik, Yan Miko, Yan Kisin, De Landep, De Arab, Yan Dika, Gung Dewa, Gus Tra, Gus De, Patrik “si timor”, Si Katon yang berdarah Jawa. Mereka menyebut diri sebagai klub MU, kepanjangan dari “Maspahit United”. Bermainlah mereka bersama di Jaba Pura dengan menggunakan bola plastik. Seru, memang seru pertandingan anak-anak itu. Semangat, memang semangat. Anak anak itu girang bermain sepak bola, tak perduli panas menyengat. Keringat dan debu menyatu melapisi kulit mereka. Kegirangan anak-anak itu menjelang sore hari disaksikan oleh para orang tua mereka, yang turut senang melihat anak-anak mereka riang gembira bermain sepak bola.
Permainan mereka memang cukup lumayan bagus, meniru gaya para pemain dunia yang tiap minggu disaksikan di televisi. Gaya tendangan, gaya menangkap bola, gaya ngekop bola, dan bahkan gaya ketika selebrasi atau merayakan gol kemenangan. Pokoknya sudah bergaya pemain dunia “tak mau jadi pemain Indonesia”. Sayang sekali, sama sekali tak ada kebanggaan terhadap persepakbolaan Indonesia.
Ketika sedang ramai-ramainya main bola, lalu datag Bu Dayu mencari Gus De dan Gus Tra. Bu Dayu melihat anaknya sedang bermain bola dengan anak-anak yang lainnya. Kedua anak itu lalu dipanggil dan disuruh pulang, karena hari udah menjelang sandikala. Ketika itu pula permainan anak-anak berakhir dan bubar. Sejatinya Gusde, Gustra dan anak yang lain agak kesal ketika pertandingan berhenti. Namun apa boleh buat, mereka tak berani menentang orang tua.
Setelah sampai di rumah atau di griya, Gustra dan Gus De diberitahu oleh ibunya agar jangan sering-sering bermain sepak bola. Karena apa? Sebab Gustra dan Gusde adalah keturunan brahmana atau seorang Ida Bagus. Sebab ketika bermain, bola ditendang secara bergantian dari kaki ke kaki mereka, lalu dikop oleh Gustra dan Gusde. Sebagai seorang Ida Bagus, jangan ngekop bola,  sebab itu bekas kaki dari pemain lainnya. Demikian arahan dari Ibu Dayu yang sedikit fanatik dengan “soroh”.
Mendengar pengarahan tersebut, Gustra menjadi sedikit bingung, lalu berkata. “kalau main bola kan harus di tendang bolanya, dan kalau tinggi ya dikop dengan kepala. Itu sudah peraturannya begitu. Kalau tidak boleh ngekop bola ya bagaimana”. Ibunya yang sedikit kolot namun sangat fanatik itu berkata “ya kalau ada bola melambung, ya jangan di kop, dan kalau bola melintas di atas kepala ya mesti menghindar atau menjauh”.
Mendengar omongan ibunya, Gustra yang masih kanak-kanak itu mengerti dan menganggap pendapat ibunya lucu dan tak masuk akal. Ia pun tertawa cekikikan. 
Mendengar omongannya dilecehkan, lalu Ibu Dayu menjadi sedikit tersinggung, lalu ia berkata ”Kalau Gus tidak mau mengerti omongan ibu, lebih mulai besok Gustra dan Gusde tidak boleh bermain bola lagi”
Pembicaraan ibunya itu lalu didengar oleh Gus Tut (ajik dari Gustra). Gus Tut berkata “Dayu, jangan terlalu serem, jangan terlalu fanatik atau jangan terlalu kaku. Kalau dalam sepak bola memang sudah sewajar seperti itu permainannya. Kalau masalah sosial dan fanatisme dibawa ke dalam permainan, maka permainan tidak akan berlangsung. Pemain yang bukan dari golongan Ida Baus pun tak bermaksud untuk merendahkan, melecehkan atau pun membuat rohani kita menjadi cemer. Tidak demikian maksudnya. Biarkan anak-anak bermain bola sebagaimana mestinya”.
Ia (Gustut) mengingatkan istrinya agar jangan terlalu fanatik. Sebab jaman sudah berubah, tak seperti jaman feodal kerajaan terdahulu. Kalau hal itu masih menjadi bahan pikiran, terus bagaimana kata orang ketika keluarga Ida Bagus masuk ke rumah makan dan menyantap makanan dengan menggunakan piring, sendok dan gelas. Sendok, piring, dan gelas itu bukan baru, melainkan sudah sekian orang, dan sekian mulut yang memakai sendok dan gelas tersebut. Kalau itu masih menjadi pikiran kita, maka kita akan repot sendiri sebagai keluarga dari golongan Ida Bagus”. Demikian Gus Tut mengingatkan istrinya.
Lalu Gus Tut melanjutkan pembicaraannya. “sampai saat sekarang kita mesti bersyukur sebagai keturuan griya. Sebab sampai sekarang masyarakat masih menghormati serta tak menuntut keluarga griya yang tak pernah ikut negen wadah saat upacara ngaben. Itu mesti kita hormati niat baik dan rasa hormat mereka. Jangan mentang-mentang”. Demikian Gus Tut mengingatkan istrinya agar tak bertindak konyol di masyarakat.
Mendengar omongan tersebut, Gustra dan Gusde pun merasa lega dan boleh bebas berkiprah di MU (Maspahit United) bersama teman-temannya. (Ki Buyut/kanduk).