Friday, October 2, 2015

I Pasek Mencari Kawitan





Keyakinan Hindu Bali sangat beda dengan Hindu di India. Hindu Bali merupakan perpaduan bermacam sekte dan kepercayaan pra Hindu. Kepercayaan Pra Hindu yang masih kelihatan sampai sekarang adalah keyakinan akan kekuatan benda-benda, tempat kramat dan pemujaan kepada leluhur yang dikenal dengan animisme dan dinamisme. Tradisi penyembahan kepada leluhur diwujudkan dalam berbagai bentuk pemujaan berupa sanggah atau merajan, merajan agung, dadia, panti, pedharman, dan kawitan, Semuanya merupakan pemujaan kepada leluhur yang telah suci, selain pemujaan kepada Hyang Widhi.
Inilah yang menjadi pembeda antara Hindu Bali dengan Hindu di India. Kedatangan Hindu memberikan makna dan memantapkan apa yang diyakini oleh nenek moyang jaman pra Hindu. Ada kalangan mengatakan bahwa Hindu Bali adalah agama leluhur, maksudnya bahwa cara paling dekat/mudah menuju Tuhan adalah melalui pemujaan leluhur yang sudah suci. Sebab dengan keterbatasannya, manusia sulit untuk mencapai Ida Sanghyang Widhi, sehingga memerlukan proses berjenjang, yakni menyembah leluhur, bertara-betari, dewa-dewi, terus ke tingkat Hyang Maha Tunggal. Terdapat suatu keterkaitan antara manusia yang masih hidup dengan leluhurnya yang telah meninggal, yang melahirkan keterikatan dengan hukum kawitan. Baik buruknya kehidupan pretisentana (keturunan) tak terlepas pula dengan leluhur pada masa lalu. Ada sebuah hukum waris dimana kesalahan para leluhur terdahlulu diyakini dapat mempengaruhi kehidupan pretisentana di dunia ini. Sebaliknya, kebaikan, ketenangan dari para leluhur di alam sana akan sangat dipengaruihi oleh prilaku para keturunan di mercapada. Terdapat hubungan langsung maupun tak langsung antara manusia dengan leluhur di alam sana.
Atas dasar tersebut, krama Hindu meyakini ada hukum karmapala yang merupakan hukum Tuhan, hukum negara yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, dan hukum kawitan yang melandasi hubungan manusia dengan leluhur yang diyakini saling mempengaruhi. Atas dasar tersebut, umat Hindu Bali sangat berkepentingan memuliakan leluhur, agar mereka tak terkena tulah atau hukum kawitan, sesuai dengan bhisama leluhur bahwa jangan sekali-kali melupakan leluhur, kawitan. Apabila itu dilanggar maka akan menyebabkan kehidupan di dunia tak akan tentram.
Untuk itulah manusia Bali memelihara pura kawitan dan mesti tahu dari soroh (golongan) apa  mereka. Hal inilah memunculkan soroh-soroh di Bali yang bertahan sampai sekarang.
Dalam perkembangan sejarah, tak semuanya dapat mengetahui sorohnya masing-masing, sebab tak semuanya peduli dengan hal tersebut. Demikian juga karena situasi jaman, dimana jaman dahulu banyak terjadi peperangan diantara raja-raja, keluarga dengan keluarga. Yang menang berkuasa, yang kalah akan dihukum mati atau diasingkan ke tempat jauh, atau kalau mereka tak tertangkap maka mereka akan pergi sejauh-jauhnya untuk menghindari buruan para pemenang perang. Dengan demikian banyak sekali masyarakat maupun prajurit lari dari tanah kelahirannya meninggalkan merajannya untuk menyelamatkan diri, sampai akhirnya anak cucunya tak mengetahui dari golongan apa mereka, darimana asalnya, siapa leluhurnya, dll. Di sisi lain banyak orang nyineb wangsa (menyembunyikan soroh) demi keselamatan pribadi. Hal itu berlangsung turun-temurun menyebabkan banyak yang tak tahu sorohnya.
Ketika jaman penjajahan banyak penduduk dikirim ke sana kemari untuk kepentingan penjajah, entah sebagai prajurit, budak (tenaga kerja), dll. Banyak yang jauh dari tanah leluhur, semakin lama semakin hilang. Termasuk adanya pemindahan penduduk oleh pemerintah Belanda dalam bentuk kolonisasi (sekarang: transmigrasi). Hal ini juga terjadi pada jaman pemerintahan negara Indonesia.
Sekarang pun banyak yang kehilangan jejak sorohnya. Kemajuan jaman, kemajuan ekonomi meyebabkan transportasi dan hubungan antar daerah sangat gampang. Orang bisa saja dalam waktu singkat mencapai tempat yang jauh dari tanah kelahirannya. Kemudian dengan perkembangan jaman dan teknologi, banyak orang datang ke suatu tempat yang banyak terdapat pekerjaan, menetap di sana secara turun temurun. Atas kesibukannya, mereka jarang pulang yang menyebabkan anak cucunya kehilangan jejak asal-usulnya.
Kasuen-suen (lama kelamaan) banyak orang Bali mengalami suatu hal di luar akal. Banyak mengalami masalah seperti sakit tak sembuh-sembuh, cekcok dalam rumah tangga, kemiskinan, kemelaratan, dll. Berbagai macam upaya dilakukan namun tak kunjung teratasi. Sampai akhirnya nunasin (bertanya kepada orang pintar). Anehnya kebanyakan dari mereka mengatakan kesisipan karena kawitan (hukuman kawitan). Kemudian banyak orang mencari kawitan, agar tak kesisipan kawitan, sampai akhirnya gejala ini ngetren dalam beberapa dasa warsa belakangan ini. Ada sebagian orang tak mengalami apa-apa, namun melihat banyak orang mencari kawitan, mereka seolah-olah disadarkan untuk ikut mencari siapa sebenarnya dirinya, darimana dirinya, dan siapa leluhurnya. Trend mencari kulit/soroh (klan), mencari jati diri, mencari identitas keluarga, agar tak salah dalam menerapkan sesana (kewajiban) keluarga seperti apa yang telah disuratkan dalam bhisama.
Mereka yang kehilangan kawitan mencarinya dengan menelusuri dimana mereka melakukan persembahyangan seperti merajan, paibon, panti, dadya, dll. Jika hal itu tak terlacak, maka menelusurinya melalui nunasang kepada orang pintar sampai akhirnya didapat sorohnya. Ada pula yang menelusuri lewat sastra seperti babad, prasasti, pamancangah, dll. Atau menelusuri sorohnya dengan menanyakan ke grya siwa-nya. Sebab di grya banyak tersimpan lontar mengenai sastra agama, babad, prasasti soroh tertentu, dll. Konon ketika Ida Danghyang Nirartha yang waskita mengetahui bahwa beliau sudah waktunya kembali ke sunyaloka, beliau kemudian men-diksa putra-putra beliau untuk menjadi pendeta. Beliau bersabda agar semua soroh masyarakat di Bali berguru (mesiwa) kepada putra-putra beliau yang telah di-diksa untuk belajar agama, dll. Mulai saat itu kemudian hubungan antara siwa (sang sulinggih) putra dari Ida Danghyang Nirartha dengan berbagai soroh seperti I Pasek, dll menjadi sisya di grya. Dalam kelanjutan hubungan tersebut dari pihak grya kemudian mendata para sisya beliau. Siapa sisyanya, soroh apa, dimana kawitannya dll. Banyak dari para sisya dibuatkan prasasti kawitan (lelintihan) di grya sebagai catatan mengenai leluhur mereka. Ada yang prasastinya dibawa pulang untuk disungsung secara pribadi di rumah I Pasek atau soroh lain. Banyak pula yang dibiarkan di grya, sebagai dokumentasi dan catatan dari Ida Bagus mengenai sorohnya. Sehingga sampai sekarang banyak prasasti soroh tertentu yang tersimpan atau dilinggihkan di grya.
Karena ada angga grya yang tuna rungu atau mungkin terlalu tenget, menyebabkan prasasti atau lontar yang memuat lelintihan sekelompok sisyanya sejak dulu tak pernah dibaca atau dibuka. Banyak yang tak tahu kalau dalam sekumpulan cakepan di grya tersebut terselip beberapa prasasti lelintihan dari soroh tertentu, tanpa diketahui oleh pemiliknya.
Dokumen-dokumen yang tersimpan di grya pada umumnya selamat saat jaman penjajahan. Sebab grya dianggap bukan sebagai ancaman Belanda, karena dianggap tempat belajar dan tempat para pendeta. Yang dianggap ancaman adalah puri, sehingga banyak puri yang dihancurkan, dijarah oleh penjajah. Banyak pusaka yang dibawa ke luar negeri, banyak sastra di puri dibawa sebagai rampasan perang. Mungkin banyak prasasti-prasasti para parekan dan soroh-soroh di suatu kerajaan dibawa ke Belanda. Mungkin saja suatu saat I Pasek yang tak menemukan soroh karena prasastinya tak ada, malah menemukan prasasti leluhrunya di Belanda. Bisa jadi. Sedangkan untuk prasasti di grya relatif aman.
Belakangan ini banyak keluarga I Pasek menemukan prasastinya, menemukan soroh dan kawitannya di grya siwa-nya. Hal ini bisa terjadi karena I Pasek sampai saat ini masih menjaga hubungan antara siwa dan sisya. Ini adalah salah satu jalan untuk menemukan soroh. Dengan diketahui sorohnya, I Pasek menjadi galang apadang. Sepertinya I Pasek mendapatkan mataharinya yang hilang. Seolah-olah jalan hidupnya diterangi oleh sinar suci para lelehur.
Itulah I Pasek yang kelimpungan mencari kawitannya, dan menemukannya di griya siwa-nya. Walaupaun demikian, masih banyak pula sampai sekarang tak ketemu dimana kawitannya. Mereka sudah menyusuri berbagai macam jalan namun belum ketemu juga. Mungkin mereka harus masih bersabar untuk mencari ke banyak tempat lagi. Sehingga merasakan dirinya berada dalam kegelapan, mereka merasakan rumah dan keluarga mereka masih muram.
Mengetahui kawitan, berbhakti kepada leluhur, agar hidup ini diterangi oleh sinar suci para leluhur dan mendapatkan sinar suci dari para betara, dewa-dewi dan Hyang Tunggal. (buyut/kanduk).

No comments:

Post a Comment