
Ketika kegembiraan
berlangsung, maka sudah hukumnya duka akan melintas juga. Ini adalah hukum Rwa Bhineda. Suatu pagi di kantornya,
Pak De Gresiuh merasakan badannya lemas, kemudian pikirannya kurang fit alias
kosong ditambah lagi terasa sakit di bagian pinggang sebelah kiri. Ia mencoba memeriksakannya
ke dokter dan sempat rawat inap atas tanggungan pemerintah. Namun, penyakitnya
belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.
Suatu hari
berkunjunglah seorang teman Pak De Gresiuh yang bernama I Ketut Mauk. Ia
menyarankan agar menempuh jalan alternatif sambil menunjukkan nama seorang balian sakti tan paingen (tak tertandingi), yang konon telah berhasil mengobati
para pejabat daerah bahkan pejabat pusat. Demikian I Ketut Mauk mendesak dan
sedikit mempromosikan balian saktinya
itu.
Pak De Gresiuh
tertarik dengan cerita tersebut dan bergegas untuk datang berobat ke sana. Singkat
cerita, Sang balian menerima Pak De
Gresiuh dengan ramah. Penampilan balian
memang meyakinkan. Di rambutnya yang panjang terselip bunga pucuk bang, kamen putih, saput
poleng, cincin di jari terkesan magis dan sakti, ditambah dengan kalung jimatnya.
Suasana rumah juga kental dengan bau minyak serta berbagai benda-benda bertuah.
Sang balian menyatakan telah
menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan berbagai tingkat keparahan.
Dimulailah prosesi
pendeteksian penyakit oleh sang balian
sakti tersebut. Dengan konsentrasi
penuh, sang balian mencoba mendalami
dan mencari tahu penyakit Pak De Gresiuh. Balian
sakti berkata halus kepada Pak De, “Penyakit
ini sebenarnya sudah lama diderita, tetapi baru kelihatan. Ini bukanlah
penyakit biasa, melainkan penyakit yang sudah ngelalah atau menyebar ke seluruh tubuh. Untung saja Pak De cepat datang
ke sini. Ini adalah penyakit gegaen anak
(amah leak). Rupanya keluarga dan
teman kantor Pak De banyak yang iri dengan kedudukan Pak De. Pak De dikeroyok
banyak orang”. Kata-kata sang balian itu
sangat mengejutkan. Sesaat kemudian, sang balian
sakti kembali berkata, “Walaupun sudah lama, tetapi tak usah khawatir. Semua
ini bisa saya kendalikan”. Sang balian
menyatakan kesanggupannya dengan nada agak sesumbar.
Sang balian sakti memberikan obat berupa minyak
untuk dipakai setiap hari ketika menjelang tidur. Balian juga memberikan sebutir permata yang konon adalah mirah dan beberapa pelengkapnya sebagai
jimat penjaga. Dengan nada basa-basi, sang balian
mengatakan bahwa barang tersebut telah disimpannya sejak lama. “Kalau tidak Pak
De yang datang ke sini, maka barang ini tidak saya berikan. Barang ini sangat sulit
untuk dicari”. Demikian sang balian.
Pak De yakin
dengan perkataan sang balian, sehingga
menerima barang tersebut. Namun, perasaannya tidak enak. Maksudnya tidak enak
memakai barang tersebut kalau tidak memberi imbalan. Secara berbisik, Pak De
menanyakan berapa ia harus menghaturkan sesari
(penghalusan untuk bahasa membayar). Sang balian
menjawab dengan nada basa-basi pula.
”Ya, dipakai dulu. Kalau sudah baikan, besok atau dua hari dibicarakan”. Pak De
pun mendesak dalam hal ini. Sang balian
dengan nada basa-basi berkata lagi, ”Barang tersebut sebenarnya tidak saya
jual, dan toh kalau dijual harganya puluhan
juta rupiah. Namun untuk Pak De, lima
belas juta saja”. Demikian bisikan sang balian. Pak De begitu terhibur dengan “kecap
manis” (promosi) balian sakti.
Diceritakan pak
De tertidur lelap di rumahnya ketika dating dari berobat. Mungkin karena kelelahan
akibat perjalanan panjang menuju rumah balian
tersebut. Keesokan harinya Pak De segera mengirimkan uang lima belas juta
rupiah kepada sang balian melalui
perantara I Ketut Mauk, teman dekatnya.
Keesokan harinya,
penyakit Pak De kambuh lagi. Kembali dirinya mendatangi balian tersebut. Balian
berkata, “Mungkin perlu waktu beberapa hari lagi, masalahnya obat yang kemarin
belum nyusup atau menyerap ke seluruh
tubuh”. Kemudian Pak De balik lagi setelah menghaturkan canang dengan sesari.
Dalam waktu
beberapa hari setelah itu, penyakitnya tetap saja tak berkurang. Pak De datang
lagi. “Mungkin perlu ditambah dengan obat dan jimat. Karena penyakitnya sudah
berlangsung lama dan dikeroyok banyak orang, sehingga kekuatan penyakit sangat
besar”, demikian sang balian memberikan
penjelasan. Pak De pun pulang kembali setelah menghaturkan sesari pada sang balian.
Setelah beberapa
lama Pak De tak sembuh-sembuh, ia menanyakan perkembangan penyakitnya kepada sang
balian. Sang balian mencoba untuk menerawang, dan berkata lagi, “Rupanya ada
ketidakberesan dalam pekarangan rumah Pak De. Nanti saya akan datang ke sana untuk membersihkan
sumber penyakit yang sudah bersarang di pekarangan, bahkan di tempat tidur Pak De”.
Keesokan harinya,
sang balian datang ke rumah Pak De
dengan sendirinya pada sore hari. Ia mengecek pekarangan rumah Pak De yang
mewah, sampai ke ruangan tempat tidur dengan menggunakan sebuah tongkat kecil. Hasil
investigasi sang balian sakti,
ternyata benda tersebut menunjuk ke sebuah sudut pekarangan Pak De yang konon terdapat
tetaneman. Inilah yang konon juga
ikut menggerogoti badan Pak De. Kemudian pada hari sandikala, sang balian
menyuruh seseorang dari keluarga untuk menggali tanah di sekitar tempat tersebut.
Dalam kedalaman setengah meter, terdapat benda yang dikatakannya sebagai tetaneman. Sang balian berkata bahwa benda seperti ini biasanya dikirim atau dibuat
oleh orang lain yang bermaksud untuk menyakiti. Kemungkinan tersbesar melakukan
ini adalah orang terdekat, yakni keluarga. Sudah dapat dipastikan, mereka akanlangsung
terprovokasi dan menduga bahkan menuduh pelaku, tanpa ada bukti. Sudah mulai
muncul kebencian keluarga Pak De terhadap saudara-saudaranya.
Begitu sang balian tuntas mengadakan pembersihan
terhadap pekarangan rumah pasiennya, ia pulang dengan dibekali canangsari dan uang saku oleh keluarga Pak
De. Namun, kepergian sang balian
telah menanamkan rasa curiga dan kebencian dari keluarga Pak De terhadap saudara-saudaranya.
Pak De juga menaruh curiga pada teman-teman sekantor yang dianggap saingan
ketika mencapai karier jabatan. Akhir kata, hubungan dengan keluarga di rumah sudah
cekcok, demikian juga dengan hubungan di kantor yang sudah tidak harmonis akibat dari mulut berbisa sang balian.
Penyakit Pak De
tak kunjung sembuh, biaya sudah banyak habis, ditambah lagi cekcok dalam
keluarga dan teman sekantor. Lengkaplah penyakit yang diderita oleh Pak De
gara-gara menelan mentah-mentah omongan dari balian ngaku-ngaku sakti. Anak dan istrinya bingung, malu minta
tolong kepada keluarga besarnya yang sudah dituduh menyakti Pak De, belum lagi
teman sekantor sudah tidak simpati lagi. Dalam kegalauan tersebut, datang I Nyoman Sepan Sepan, saudara
misan Pak De dari keluarga ibunya menjenguk. I Nyoman Sepan Sepan sudah mendengar
permasalahan yang dihadapi oleh Pak De. I Nyoman Sepan Sepan walaupun ia
seorang pengangguran dan tidak sekolah tinggi, tetapi ia masih mampu berpikir
realistis ketimbang Pak De yang konon pejabat dengan pendidikan tinggi, tetapi
kurang jernih dalam menghadapi masalah.
I Nyoman Sepan menyarankan
untuk kembali ke dokter. Hasil lab. menunjukkan Pak De menderita penyakit saluran
perkencingan kronis, sehingga perlu waktu untuk penyembuhan dan perlu
kesabaran. Demikian kata dokter ahli yang memeriksa Pak De sambil secara
diam-diam mengamati kondisi kejiwaannya. Dokter yang didatangi tersebut adalah
dokter spesialis yang juga memiliki kemampuan mendeteksi secara psikologis. Dokter
menyarankan agar Pak De Gresiuh bersabar menjalankan pengobatan, jangan
berpikir macam-macam apalagi negatif thinking
kepada orang lain, terlebih keluarga. “Sebenarnya Bapak ini tidak ada masalah,
cuma dihinggapi rasa senang yang berlebihan, kemudian di satu pihak dihinggapi
rasa khawatir yang lebih terhadap karier. Pak De mengalami depresi, sehingga
penyakit mudah muncul. Untuk itu tetap bersabar, berdoa kepada Hyang Widhi,
kemudian cobalah hidup seperti orang biasa. Sebab setinggi-tingginya jabatan
tersebut sudah pasti akan kita tinggalkan dan semuanya akan kembali kehidupan
yang biasa. Paling penting dan berharga untuk dipelajari adalah bagaimana
menjadikan hidup ini seperti biasa. Seperti nabe
agama Hindu yakni Bhagawan Byasa”, demikian nasihat sang dokter.
Atas penangan
medis dari sang dokter ahli, ditambah dengan kemampuan psikologis tersebut, Pak
De berangsur-angsur sembuh dengan gairah hidup baru, dan filosofis hidup baru.
Ia menemukan jati diri sebagai manusia, menemukan hakikat hidup, tak ada beban
lagi. Ia sembuh total secara fisik dan rohani.
I Nyoman Sepan
Sepan kemudian berkata dalam hatinya, karena terdorong oleh nafsu duniawi,
malah terjerumus ke dalam jurang yang gelap dan dalam. Pikiran tidak realistis
lagi, terombang-ambing oleh isu serta omongan orang yang tak bertanggung jawab.
Serta omongan beracun dari si balian yang ngaku sakti. Agar dikatakan ririh,
sakti dan hebat, tak jarang si balian
melakukan acting di depan pasiennya
dan mengatakan sumber penyakit dibuat atau dilakukan oleh seseorang, dengan
menyebut nama atau ciri dari yang bersangkutan. Padahal semua itu tidak pernah
ia ketahui dengan sebenarnya. Banyak sekali yang sudah menjadi korban
percekcokan dalam keluarga akibat bes
nyadin munyin balian ane ngaku sakti (terlalu mempercayai omongan balian yang ngaku-ngaku sakti). Walaupun tak semua balian seperti itu.
Singkat cerita,
Pak De Greisuh sembuh dalam beberapa waktu kemudian.
---------------
* Fenomena krama
Bali yang suka nyadin munyin balian. Mesti disaring dan dipilah dulu, tak usah
ditelan mentah mentah.
* Hidup ini
sudah susah, tak perlu dipersusah lagi dengan yang macam-macam. Lebih baik hormati
keluarga dan nyama braya, bakti kepada widhi dan leluhur, serta selegang megae.
Jeg pasti rahayu. Demikian grenggeng I belog di karang suwung.
No comments:
Post a Comment