
Fenomena mudik
ini mengindikaiskan bahwa tingkat urbanisasi di Indonesia sangatlah tinggi,
sebagai konsekwensi dari terkonsentrasinya perekonomian hanya di perkotaan, yang
artinya pemerataan pembangunan dan kegiatan ekonomi yang dicita-citakan
pemerintah belum terwujud. Sehingga ratusan ribu bahkan jutaan manusia Indonesia yang ada di pedesaan harus pergi ke kota untuk mengadu nasib,
mencari sesuap nasi.
Ditinjau dari
segi budaya, mudik adalah sebuah warisan budaya Hindu Nusantara masa lampau yang di Jawa
disebut dengan sungkem, kalau dalam
bahasa Balinya disebut dengan mesimakrama.
Artinya mengunjungi sanak famili ketika hari raya untuk mohon maaf, mohon restu
kehadapan orang tua. Ini adalah sebagai cerminan dari manusia yang tak melupakan
tanah kelahirannya, tak melupakan asalnya, atau dalam bahasa Bali
disebut dengan inget tekening rerama tur
inget teken kawitan (ingat dengan orang tua dan ingat dengan asal). Entah
yang mana dominan dari kedua aspek tersebut, (ekonomi dan budaya), yang jelas
mudik menjadi semakin ngetren setiap tahun.
Mudik Memang
rame di daerah Jawa dan semakin ngetren ketika semua masyarakat Indonesia
ikut-ikutan mudik. Tak ketinggalan masyarakat Bali
yang berasal dari Jawa. Ketika Lebaran semuanya mudik. Karena sekian banyaknya
masyarakat mudik, membuat kota Denpasar sebagai
jantungnya perekonomian masyarakat Bali juga
terkena imbas. Tampak adanya kelesuan aktivitas ketika mudik itu berlangsung.
Ditambah lagi dengan masyarakat kota
Denpasar yang beragama Hindu yang berasal dari desa-desa di Bali juga ikut
mudik karena liburan, maka lengkaplah sudah kelesuan itu terjadi.
Nah, sekarang
bagaimana dengan masyarakat Denpasar yang asli atau yang tak mudik. Kelesuan dan
kesepian sangat terasa sekali. Kota
menjadi sepi, jalan menjadi lebih lengang. Anehnya lagi adalah I Made Kuwir
tampak mondar-mandir ke sana
ke mari di jalan naik sepeda motor. Apa yang dicari?. Ternyata
ia sedang mencari dagang makanan seperti bakso, nasi goreng, dll. I Made Kuwir
berkata, onye dagange mudik, keweh baane,
sing ada dagang apa” (semua dagang mudik, tak ada dagang makanan”. Hal itu
didengar oleh I Bonglet dan berkata “dagang
apa alih cai, to dagang liu. Cai mula ja demen meblanja ajak nak Jawa” (dagang apa yang kau cari. Dagang banyak.
Dasar kamu senang belanja di warung Jawa).
Itu hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak
krama Bali yang merasa kesulitan dan kelimpungan mencari dagang ketika musim
mudik. Kejadian di atas menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Bali atau
penduduk Denpasar ketika mudik berlangsung merasa kesulitan untuk mencari
dagang makanan. Sebagian masyarakat kelimpungan, merasa kehilangan ketika
ditinggal mudik oleh saudara-saudara dari Jawa.
Ini sebagai indikasi bahwa ketergantungan krama Bali terhadap saudara dari Jawa sudah sedemikian jauh, sehingga ketika
ditinggal mudik, mereka seperti pitik kilangan
ina (anak ayam kehilangan induknya). Ini juga sebagai indikasi bahwa
sedemikan besarnya peranan para perantau dari jawa sudah menguasai denyut nadi
perekonomian masyarakat Bali.
I Bonglet yang cinta Bali mengatakan bahwa
semuanya itu disebabkan oleh ulah krama Bali sendiri yang tidak suka belanja di
warung krama Bali sendiri dan lebih suka berbelanja di sauadara non Bali. Krama Bali menjadi bangkrut dan krama
pendatang jadi semakin menjadi-jadi. Apakah kualitas dagangan orang Bali jelek
atau lebih mahal ? Rasa-rasanya juga tidak. Memang inilah fenomena krama Bali, kenapa tak mau memberdayakan saudara sendiri. Sepertinya kita lebih suka
melihat orang Bali bangkrut di tanah kelahirannya dan mulai tergantung dengan
teman-teman dari luar. Seandainya Krama Bali saling mendukung satu sama lain,
maka ketergantungan terhadap pihak luar akan menjadi semakin minim, sehingga
ketika mereka mudik, krama Bali tak repot ke sana- kemari untuk mencari warung
makanan.
Semestinya momen mudik ini digunakan oleh krama
Bali untuk bangkit, untuk kembali meningkatkan rasa solidaritas diantara sesama
krama Bali untuk membangun ekonominya tanpa banyak tergantung dengan pihak
lain. Kenapa kita merasa kehilangan di tanah kelahiran kita sendiri ?.
Hilangkah rasa iri hati di antara sesama manusia Bali. Jangan berpikir sirik
kepada suadara sesama Bali. Satu lagi, sebaiknya krama Bali jangan terlalu
gengsi dalam meilih pekerjaan. Hilangkan gengsi gede-gedean yang telah membawa
orang Bali tak berdaya di tanah kelahirannya serta tak mampu bersaing dengan
saudara rantau.
Lagi pula kalau hal makanan, krama Bali tergila-gila
dengan masakan teman rantau, tetapi sadarilah bahwa sampai saat ini mereka
belum mau menyentuh masakan orang Bali karena perintah agama yang diyakini. Mereka sebagai orang rantau memang tak salah,
tapi kita-kita ini sebagai krama Bali yang tak mau memproteksi diri, sehingga
harus menjadi tergantung dengan mereka-mereka itu. Kalau masih aja sikap
krama Bali seperti ini, yah kita akan semakin tergantung dengan saudara
dari seberang sana. Ingat semua ini adalah kesalahan krama Bali sendiri. Krama
Bali mesti lebih protek terhadap dirinya sendiri kalau tak ingin kehilangan
jati diri. Demikian I Bonglet ngoceh kepada I Kuwir. (I Nyoman Ibuk).
Wah informatif sekali, Daftar Tarif Tol dan Jalur Mudik
ReplyDelete