
Pada
hari itu I Made Joblar mempersiapkan diri dahulu. Ia tidur siang, padahal tidak
biasa dilakukannya. Kemudian, menjelang malam ia ngopi agar tidak ngantuk ketika menonton nanti. Padahal ia biasanya
ngopi di pagi hari saja. Begitulah I
Made Joblar bersemangat nonton Wayang Joblar.
Kini
tibalah malam yang ditunggu-tunggu oleh I Made Joblar di wantilan pura. I Joblar tidak melihat ada persiapan sebagaimana
biasanya sebuah pertunjukan wayang. Yang ada hanyalah taban atau dipan. Made Joblar jadi ragu, apa benar ada wayang
Joblar. Dalam keraguannya, tampak sebuah
truk datang dengan segala perlengkapan. Rombongan tersebut memasang rangki wayang sangat jauh berbeda dari
apa yang pernah dilihat oleh Made Joblar. Tempat kelir dan gedebong-nya
dibawa sendiri, kemudian dirakit di tempat secara knock down. Berbagai macam alat-alat elektronik tampak
dipersiapkan, dengan kabel-kabel berbagai macam ukuran. I Made Joblar tak
melihat ada blencong atau damar wayang digantung. Ia hanya melihat
beberapa buah lampu dipasang di atas kedudukan sang dalang, dan samping kanan serta
kiri. Ada
sebuah lampu ngeleb atau lepas. Di
hadapan sang dalang ada seperangkat knop
(tombol) dan saklar yang entah
apa gunanya, belum diketahui oleh I Made Joblar.
Setelah
perangkat itu dipasang, baru kemudian muncul rombongan kedua yakni sekaa gambelan beserta dengan
penabuhnya. I Made Joblar melihat ada sebuah piano di sana dan seorang perempuan muda cantik. I
Joblar menjadi semakin bingung dan sedikit usil. “Mungkin ini istri sang
dalang,” demikian pikirannya.
Berikutnya,
barulah muncul keropak wayang dan sang dalang. Pertunjukan wayang dimulai
dengan tabuh petegak yang atraktif
dan mendapatkan sambutan hangat dari penonton. I Joblar ketika itu diam saja,
karena masih bingung dengan apa yang dilihatnya. Lampu-lampu sudah mulai
diaktifkan yang konon katanya itu adalah laser
berteknologi canggih. Blencong kecil
atau damar diletakkan di atas lampu,
ukurannya kecil dengan nyala sekadarnya saja, karena peran blencong telah digantikan dengan laser. Mungkin sang dalang tak mau
menghapuskan blencong.
Pertunjukan
menjadi atraktif ketika wayang mulai dimainkan oleh sang dalang. Dengan
memainkan lampu laser, memainkan dua buah kekayon
dan dua buah gunungan layaknya wayang
Jawa, diiringi tabuh bleganjur, alunan
suara dalang menggema melalui sound
system canggih. Lagi-lagi I Made Joblar terkejut, karena cewek cantik yang ia
sangka istri sang dalang, ternyata menyanyi sebagai gerong atau sinden. I Made Joblar berkata dalam hati, “Oh, rupanya
sang dalang mengikuti wayang kulit Jawa.”
Lagu-lagu
Bali yang menjadi trend di masyarakat saat ini
bersahutan antara dalang dan gerong,
diiringi musik piano yang dimainkan oleh seorang tuna netra. Perpaduannya
menjadikan pertunjukan wayang semakin variatif.
Seperti
biasa, I Made Joblar ingin mengetahui cerita wayang dari bebaosan yang dilakukan setelah wayang megunem. Namun, semuanya terlewatkan dan tertutupi oleh kehebohan
pertunjukan. Tiba-tiba muncul sepasang parekan
yang bernama Nang Klenceng dan Nang Eblong. Percakapan inilah yang
ditunggu-tunggu oleh penonton, karena penuh dengan kekocakan yang menjurus ke
hal-hal konyol, kritis, dan lebih sering porno.
Wayang
Joblar seringkali memunculkan adegan atraktif dari para bala-bala bojog dengan berbagai macam atraksi yang lincah dan sering
menjurus ke hal porno. Yang sering terjadi adalah pengarahan cerita ke sunyaloka dengan menmpilkan sosok Sang
Suratma yang muncul dengan gaya
khas dan kocak, berdialog dengan para atma
dengan berbagai macam karakter. Ini juga yang sangat disenangi oleh penonton.
Tokoh
sang raja hanya muncul sebentar, kemudian muncul punakawan Merdah dan Tualen. Kedua punakawan ini juga mengeluarkan banyolan-banyolan segar, yang
membuat I Made Joblar dan juga penonton lainnya terpingkal-pingkal. Muncul lagi
sosok wayang yang bernama I Joblar sebagai masyarakat biasa dalam cerita
tersebut dengan segala kekonyolannya. Digambarkan, I Joblar adalah seorang lelaki
berperawakan besar, mulut lebar, kepala lengar,
dan konyol, sekaligus banyol. Tokoh inilah yang menjadi maskot wayang tersebut
sehingga ia disebut dengan Wayang Joblar. Seperti pendahulunya yakni Wayang
Ceng Blong yang terkenal dengan dua punakawan
yang bernama Nang Klenceng dan Nang Eblong.
Ketika
babak cerita berganti ke Alengka, muncul punakawan
Sangut Delem. Dengan keangkuhan I Delem
dan kecerdikan I Sangut, dengan humor yang segar, menggelitik, dan tetap ada
unsur sedikit jaruh untuk mengundang
gairah penonton agar bersemangat. Ketika cerita mencapai puncaknya yakni perseteruan
antara rwang ngawan dan rwang ngebot, maka gambelan pun menjadi
semakin ramai, dengan berbagai atraksi ceceng
kopiak dan kendang sehingga gemuruh perang menjadi ramai.
Ketika
cerita wayang usai, ternyata pertunjukan Wayang Joblar belum selesai. Sang
dalang menghibur penonton dengan pertunjukan lagu dangdut diiringi musik piano
serta kombinasi kendang dan gambelan. Memang pertunjukan menjadi ramai seiring
dengan alunan suara si sinden. Di layar kelir
tampil sosok wayang wanita dengan body
seksi sedang menggoyangkan pinggul sambil angkuk-angkuk.
Yang lebih seronok lagi ketika I Sangut ikut berjoged sambil mencium bokong penari
seksi dalam wayang tersebut. Setelah menyanyikan beberapa buah lagu, pertunjukan
pun berakhir. Sang dalang dan krunya berkemas pulang. Tentunya setelah urusan sesari sudah beres.
Sekarang,
bagaimana dengan I Made Joblar yang sedari tadi terheran-heran melihat
pertunjukan tersebut? Ketika itu I Blego berkata, “Buaahhhh, ne mara dalang hebaaattt! Ne mara wayang luwung adane, wayangne lucu, gambelane bervariasi.
Menurutmu bagaimana, Blar (I Made Joblar)?” “Kalau menurutku, leluconnya memang
segar dan sangat lucu sekali. Aku jadi tidak terasa ngantuk. Mungkin ini yang
disenangi oleh masyarakat sekarang,” sahut I Joblar.
“Aku
suka pertunjukan ini, cuman aku akan
menjadi semakin senang kalau pakem pewayangan dijalankan sebagaimana mestinya
serta tidak dikaburkan. Kapan saatnya megunem,
kapan saatnya ngeraos, kapan saatnya pengrahina, dan yang penting lagi adalah
kesinambungan cerita. Maksudku begini, kalau hanya mengandalkan lelucon saja,
maka lama-kelamaan penonton akan menjadi semakin bodoh, karena tidak mengetahui
dasar cerita Ramayana atau Mahabarata. Ia hanya tahu dan menunggu lelucon segar
dari sang dalang. Padahal, wayang itu sendiri adalah media penyuluhan dan media
untuk penyampaian kisah luhur Mahabarata dan Ramayana untuk menyampaikan ajaran
Weda kepada umat manusia.”
“Kalau
nantinya hanya didominasi atau mengandalkan lelucon saja, maka aku khawatir
wayang kulit nanti tidak ada bedanya dengan lawakan biasa. Sekarang memang
masyarakat gandrung, tetapi nanti akan menjadi campah sendiri. Dan wayang akan kehilangan karakteristiknya dan
juga dunianya. Siapa yang mengira kalau drama gong yang dulunya digandrungi,
kini tenggelam? Siapa menyangka arja
muani yang kocak mengocok perut, kini telah sriat-sriut membosankan? Tidakkah wayang kulit yang serba modern
setengah tradisional ini akan bernasib seperti itu?”tutur I Joblar panjang
lebar. Entahlahhhhhhhhh…… I Made Joblar
yang fanatik akan wayang kulit tetap berharap pakem pewayangan tidak
ditinggalkan, tetapi ia juga tidak melarang sang dalang berkreasi. I Made
Joblar pulang dengan penuh kebingungan. Karena saking bingungnya sendiri,
akhirnya ia berkata, “To ngudiang awak pusing pedidi, apa kal maan……….?”
(Kanduk and Joblar).
No comments:
Post a Comment