Monday, June 8, 2015

Celuluk Kasmaran




Kembali cerita datang dari tanah Nusa Penida. Kisah ini dialami oleh Tut Badeng Senged yang sehari-harinya sebagai seorang petani rumput laut di desanya. Pada suatu hari terik matahari menyengat menyianri tanah Nusa Penida. Saat itu adalah saat yang baik untuk turun ke laut menanam rumput laut. Tut Badeng Sengged ngeblok permukaan bibir pantai sekitar lima puluh are ditanami rumput laut bersama istrinya Ni Luh Made Pemulu Nyandat Gading. Tut Badeng S bersama dengan istri sejak pagi sudah berada di laut, sampai siang dan bahkan sampai malam. Ia pun membawa bekal makanan ke pantai. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Pulang pada malam hari. Ketika sampai di rumah anaknya sudah tidur, dan ketika mereka berangkat kerja, anaknya masih tidur Jadi jarang mereka bercengkrama dengan anaknya.
Suatu hari I Ketut Badeng Senged berada di laut besama istrinya sampai malam hari, karena bulan purnama. Setelah selesai bekerja dan merasa lelah, ia bergegas untuk pulang sambil membawa beberapa rumput laut. Sebelumnya ia mengambil sepeda motornya yang ditaruhnya sekitar dua ratus meter dari tempat ia bekerja di bibir pantai. Saat itu memang ia sendiri yang masih di laut, yang lainnya sudah mendahului pulang.
Sepeda motor Yamaha Yupiter berwarna biru kesayangannya diparkir di bawah pohon waru. Motor distarter …. dan hidup.. greng..greng…greng. Gas ditarik, lalu berjalan. Namun setelah beberapa meter roda berputar di atas tanah yan berpasir, Ketut merasakan motornya agak seret jalannya, dan terasa berat. Ia mencoba untuk ngeget motornya. Jalannyapun masih lebih kencang, namun ia punya perasaan kok lari kendaraan masih berat. Ada apa. Ia pun terus saja mengendarai motornya di jalan yang agak remang-remang. Dan setelah beberapa saat itu kekawatirannya itu terjadi. Tak disangka ada sesuatu yang melingkar memegang pingangnya. Seperti ada yang memeluk dirinya. Ia melihat ke bagian pinggangnya, tak ada apa-apa. Namun seperinya ia sedang membonceng seseorang. Perasaannya mengatakan bahwa istrinya masih di pantai dan sekarang akan ke sana untuk menjemput. Ada apa ini? Demikian perasaannya.
Sambil pelan-pelan ia mencoba untuk menoleh ke belakang yang sepi, tak ada apa-apa. Ia kembali mengendarai sepeda motornya. Mungkin ini hanya perasaan saya saja, demikian kata hatinya. Setelah sekitar dua puluh meter dari tempat semula ia kembali merasakan hal serupa, Kendaraannya berat dan seret. Pinggannya kembali seperi ada yang memeluk. Sampai akhirnya ia mencoba untuk melihat ke pingangnya, terlihat olehnya jari-jari manis putih memeluk pinggangnya. Ia terkejut, kok ada waita cantik yang boncengan. Ia ingin tahu wajahnya dengan wasa-was. Ia menoleh ke belakang. Tak dinyana dan tak diduga, Ketut Badeng terkejut setengah mati, melihat sosok cantik putih berambut panjang. Namun kepalanya botak setengah dengan mulut lebar nyonyok lambih. Rupanya ia sedari tadi diganggu oleh celuluk tersebut. Tut Badeng jatuh tersungkur bersama dengan celuluk yang diboncengnya, bahkan celuluk itu menindih badan Ketut Bdeng dalam posisi berciuman.
Cepat-cepat kemudian Tut Badeng melepaskan diri dari cengkrama celuluk yang menikmati ciuman tersebut. Walaupun bau badan celuluk itu miik alias harum, namun bon kah alias bau mulutnya sangat busuk. Hampir-hampir I Ketut Badeng muntah dibuatnya. Ia merasakan bahwa ini ciuman yang paling tidak indah yang pernah ia rasakan. Berciuman dengan celuluk mulut busuk.
Melihat Si Ketut sudah kalap, celuluk tersebut kemudian tesenyum manis sambil berkelebat menghilang di balik pohon kelapa. Ketut berusaha untuk menemukan celukuk kurang ajar tersebut, namun tak ketemu. Ia menghujat celuluk tersebut dengan kata-kata “celuluk bangkan-bangkan totonan….”
Iapun kemudian segera mengamil motornya yang tersungkur di semak-semak berpasir, lalu menghidukannya. Sesampai di pinggir pantai ia disapa oleh istrinya yang sudah lama menunggu. Tut Badengan hanya bisa mengatakan bahwa tadi motornya mogok. Tut Badeng yang hatinya kesal lalu membonceng istri cantiknya ke rumah, sambil membayangkan kejadian tadi.
Tak berselang lama, sampailah mereka di rumah. Lalu beristirahat tidur. Keesokan harinya, mereka kembali ke pantai untuk menanam rumput laut. Ketika istrinya sedang di tengah pantai menanam rum put laut, I Ketut Badeng sedang menyiapkan bibit rumput laut di pinggir pantai. Sedang asiknya ia bekerja, tiba-tiba datang seorang perempuan menghampirinya dan tersenyum manis pada I Ketut Badeng. Perempuan manis itu berkata “kenken bli, nyak luwung sirepe ibi sanja. Tiang ngipi megelut tur mediman ajak bbli ibi sanja. Sangkanang tiang sing nyidang sirep kanti semeng. To awanan tiang mai, apang maan ketemu ajak beli” Artinya: Bagaimana Bli, nyenyak tidurnya tadi malam? Saya mimpi beperlukan dan berciuman dengan beli. Itu sebabnya saya tak bisa tidur sampai pagi. Itu pula sebabnya saya menghampiri beli ke sini”.
Lagi-lagi perempuan bertubuh blentek (pendek gemuk) tersebut berkata “saya senang sekali dengan mimpi saya yang atadi malam itu. Bagaimana dengan beli, apa yang beli rasakan”. Mendengar semua itu, I Ketut menjadi kaget dan berpikir, bisa jadi orang ini yang menjadi celuluk kemarin malam yang mengganggu dirinya.
Ketut berkata “eh lesung (panggilan untuk orang yang pendek gemuk)… rupanya kamu yang kemarin malam menjadi celuluk dan menggangu aku. Tak tahu malu, masih saja engkau mengejar aku sejak dulu. Awas sekali lagi kamu menggangguku akan aku ikat engkau semalaman di pohon pandan”.
Mendengar omongan Ketut yan mulai kesal, Ni Wayan Ani Yudayani alias Lesung segera pergi sambil tesenyum genit cengengesan. I Ketut Badeng Senged pun tak bisa bebuat apa, sebab Ni Wayan Ani Yudanyani dulu pernah menjadi kekasihnya. (*)      

Tuesday, June 2, 2015

Gugurnya Kebo Iwa, Nusantara Bersatu






               Pada jaman pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten atau dikenal dengan nama Raja Gajah Waktra atau Gajah Wahana berkedudukan di Bata Anyar (Bedahulu), raja sangat sakti dan bijaksana, sehingga disegani oleh rakyat, lebih-lebih didukung oleh para patih yang sangat berpengaruh dan tangguh seperti Ki Tunjung Biru, Ki Tunjung Tutur, Ki Kopang, Ki Walung Singkal, Ki Gudug Basur, Ki Tambyak, Ki Ularan, Ki Kala Gemet, Ki Buahan, Ki Karang Buncing, Ki Kebo Iwa, dan Ki Pasung Grigis sebagai Patih Agung.
               Ki Pasung Grigis sebagai patih agung kerajaan Bedahulu adalah putra dari Sri Mpu Indra Cakru yang berpasraman di Puncak Bukit Gamongan (Lempuyang). Sri Indra Cakru juga dikenal dengan nama Sri Hyang Sidhimantra Dewa, seorang yang tekun memuja Hyang Widhi dan bertapa. Pertapaan beliau ada di gunung Semeru di Jawa dan di puncak Gunung Lempuyang (puncak Bukit Gamongan), sehingga beliau meninggalkan kerajaan dan digantikan oleh adiknya, yakni Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lancana. Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lancana diibaratkan sebagai Sang Hyang Guru menjelma ke dunia, karena kerajaan dan rakyat hidup aman sejahtera berkat kebijaksanaan beliau sang raja.
               Pada masa pemerintahan Sri Hyang Ning Adi Dewa Lancana, terjadi serangan dari kerajaan Singasari ke Bali, kemudian pemerintahan sementara dipegang oleh Kryan Demung Sasabungalan dari Singasari. Kemudian digantikan oleh putranya, yakni Kebo Parud. Setelah pemerintrahan Kebo Parud, pemerintahan kembali dipegang oleh keturunan dari raja-raja Bali pada masa sebelumnya.
               Raja Sri Gajah Waktra yang berkuasa di Bedahulu adalah keturunan dari raja Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lancana. Demikian, Mahapatih Ki Pasung Grigis masih satu garis keturunan dengan Maharaja Gajah Waktra. 
            Selain Mahapatih Ki Pasung Grigis, pada masa itu terdapat pula salah seorang patih yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Orang tersebut bernama Kriyan Kebo Iwa. Kriyan Kebo Iwa adalah juga seorang patih kerajaan yang amat terkenal. Beliau disebut juga Kriyan Kebo Taruna, karena belum menikah. Badannya sangat tinggi besar, jauh lebih besar dari ukuran orang normal. Kebo Iwa sangat mahir dalam hal bangunan, sakti, pemberani. Beliau tinggal di Blahbatuh. Kriyan Kebo Iwa adalah putra dari Sri Jayakatong (Sri Jaya Karang Buncing), sedangkan Sri Jaya Karang Buncing adalah kakak dari Ki Pasung Grigis.

               Sri Jaya Karang Buncing mempunyai putra tiga, yakni Sirarya Karang Buncing, Kebo Iwa, dan Sirarya Karang. Ketiganya ditinggal pergi beryoga ke bukit Gamongan (Lempuyang) oleh ayahnya, mengikuti kakaknya Sri Indra Cakru. Sirarya Karang Buncing mempunyai keturunan bernama Sirarya Karang Buncing, sama dengan nama ayahnya. Ki Kebo Iwa sendiri tidak berketurunan, karena belum kawin, dan Sirarya Karang berketurunan bernama Karang. Demikianlah diceritakan riwayat keluarganya.
               Kembali diceritakan di Bedahulu, karena kekuatan kerajaan Bedahulu, menyebabkan Raja Majapahit, Sri Maharaja Dewi (Tri Buwana Tungga Dewi) menjadi kawatir, sehingga memerintahkan kepada Mahaptih Gajahmada mencari jalan keluar untuk menundukkan Bali. Atas perintah dari Sri Maharaja Dewi itulah kemudian muncul “Sumpah Pala”, yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan raja Majapahit.
               Tak diceritakan, segeralah berangkat rombongan yang dipimpin Gajah Mada menuju Bali menggunakan perahu dan mendarat di Pantai Gumicik. Kemudian menuju ke utara menuju daerah yang sekarang disebut Sukawati. Sampai di sana rombongan Gajah Mada dicegat oleh pasukan Ki Pasung Grigis. Melihat kedatangan Ki Pasung Grigis, Patih Gajah Mada mulai mengatur siasat dengan berpura-pura berlaku sopan dan menunjukkan rasa takut, seraya menghaturkan sembah dan penghormatan.
               Pasung Grigis turun dari kudanya dan bertanya “Wahai yang mulia tuan bagaikan Wisnu. Maafkan hamba bertanya, karena belum kenal. Siapakah gerangan tuan sudi datang ke desa dusun. Dari mana asal tuan dan ke mana tujuan tuan. Apakah yang tuan perlukan datang kemari. Silahkan ceritakan kepada saya secara sungguh-sungguh, agar saya maklum.”    
               Patih Gajah Mada menjawab sopan: “Ampun Tuan hamba ibaratkan Hyang Rudra Murti. Maafkanlah saya si bodoh dan nista ini. Saya ini tidak lain adalah Si Mada. Saya berasal dari Majapahit. Saya utusan dari Sri Maha Dewi, Ratu Majapahit, hendak menghadap duli paduka Sri Maharaja pelindung rakyat dan nusa Bali. Kedatangan hamba adalah membawa surat untuk disampaikan kepada Sri Maharaja Bali yang Agung. Mohon kiranya Gusti Patih menerima kami sebagai utusan guna menyampaikan surat penting ini”       
               Ki Pasung Grigis: “Wahai adinda Mahapatih, mengertilah saya dengan maksud kedatangan adinda ke Bali. Adinda yang mulia, untuk kepentingan ini kami akan antarkan adinda menghadap Sri Baginda Maharaja. Namun sebelumnya saya akan melapor kehadapan Baginda Raja, selanjutnya kita tunggu perintah Beliau. Saya harap agar adinda Gajah Mada sabar menunggu. Dan ada baiknya adinda menunggu di Blahbatuh, di rumah Sri Jaya Karang Buncing.”
               “Baiklah dan terima kasih atas kebaikan Paduka Patih”, demikianlah sahut Patih Gajah Mada.
               Kemudian rombongan Gajah Mada dan Ki Pasung Grigis berangkat bersama menuju Blahbatuh. Kedatangannya di sana disambut oleh Sri Jaya Karang Buncing. Demikian pula Gajah Mada diperkenalkan dengan Rakriyan Kebo Iwa. Pertemuan dengan Kebo Iwa adalah bagaikan pepatah, pucuk dicita, ulam tiba. Karena yang menjadi tujuan utama dan sasaran utamanya, adalah bertemu dengan Kebo Iwa. Dan di lain pihak, Ki Pasung Grigis segera berangkat menuju istana Bedahulu untuk melapor.
               Diceritakan di rumah Ki Karang Buncing, rombongan Gajah Mada dijamu dengan sangat baik dan ditemani bersenda gurau oleh Ki Kebo Iwa. Ketika itu, Gajah Mada mulai menebarkan jaring-jaring perangkapnya. Gajah Mada menuturkan maksud kedatangannya ke Bali adalah untuk meningkatkan persaudaraan antara Majapahit dengan kerajaan Bali. Untuk maksud tersebut, di samping Sri Ratu Majapahit menghadiahkan barang-barang kepada Raja Bali, Sri Ratu juga menghaturkan seorang putri kepada Ki Kebo Taruna untuk dijadikan istri.
               Patih Gajah Mada sangat lihai dalam bertutur kata, sehingga Sri Jaya Karang Buncing dan Ki Kebo Iwa menjadi terpengaruh, dan semakin tumbuh simpatinya kepada Maha Patih Gajah Mada. Sama sekali, kedua tokoh Bali tersebut tidak menyangka akan adanya maksud yang sangat berbahaya dari semua itu. Dan kedua patih tabeng dada kerajaan Bedahulu tersebut telah berada dalam perangkap Sang Maha Patih Gajah Mada.
               Diceritakan bahwa Ki Pasung Grigis sudah tiba di Bedahulu segara masuk ke istana dan langsung mempermaklumkan kepada Sri Maharaja Arta Sura Ratna Bumi Banten. Ki Pasung Grigis berdatang sembah dan berkata : “Ampun paduka Sri Maharaja, kini ada utusan dari Majapahit, yakni Si Patih Gajah Mada hendak menghadap duli tuanku Maharaja. Kini, utusan tersebut ada di rumah hamba di Blahbatuh. Rombongan utusan tersebut telah hamba periksa dan juga perahunya. Tidak ada ditemukan membawa peralatan perang. Bagaimana rencana tuan hamba? Hamba menunggu perintah Sri Maharaja.”
               Ketika itu, Maharaja bersabda. “Wahai kamu Pasung Grigis, daku perkenankan utusan itu menghadap. Utusan tidak boleh ditolak, supaya jelas diketahui maksud dan tujuannya, ” demikian sabda sang raja Asta Sura Ratna Bumi Banten kepada Patih Agung Ki Pasung Grigis..
               Ki Pasung Grigis segera berangkat menjemput utusan Majapahit ke Blahbatuh.         Selanjutnya, semuanya segera berangkat ke Bedahulu. Di belakangnya diiringi oleh Ki Kebo Iwa. Rombongan utusan pejabat dari Majapahit dan Bali beriringan berangkat ke Bedahulu. Sesampai di pintu istana, semua rombongan berjalan membungkuk merunduk sebagai rasa hormat kehadapan Sang Raja. Tidak terkecuali Mahapatih Gajah Mada. Begitulah tata tertib menghadap Sri Maharaja Bedahulu.
               Menyaksikan perilaku sopan dan hormat dari Gajah Mada dan rombongan, Sri Maharaja menjadi berkenan.   Raja Gajah Waktra bersabda : “Wahai kamu Gajah Mada serta pejabat tinggi semua. Silahkan duduk kemari dan jangan menjauh. Apa maksud dan tujuan kamu datang kemari? Ceritakan yang sesungguhnya kepadaku. Berita apa yang kamu bawa dari ratumu untukku?”
               Ki Patih Gajah Mada menghaturkan sembah kepada Maharaja. “Ya, ampunilah hamba, hamba Si Mada yang bodoh dan nista, durhaka berani menghadap duli paduka Maharaja. Hamba menghadap Sri Maharaja untuk mempersembahkan surat dari Raja Putri junjungan kami di Majapahit. Mohon paduka menerimanya.”
               Patih Gajah Mada juga menjelaskan bahwa baginda Raja Sri Mahadewi atau Tri Bhuwana Tungga Dewi di Majapahit sangatlah resah dan khawatir. Takut dengan kesaktian Sri Paduka Maharaja Bali. Baginda Raja Majapahit memohon agar Sri Maharaja Bali tidak menyerang Majapahit. Baginda Ratu menghendaki persahabatan sejati.
               “Apabila Sri Maharaja Bali berkenan bersahabat dengan Sri Baginda Ratu Mahadewi, Baginda memohon agar Kyayi Kebo Iwa diperkenankan pergi ke tanah Jawa untuk segera dinikahkan dengan seorang putri dari Lemah Tulis. Putri tersebut amatlah cantik. Pandai, baik hati, dan juga sosok tubuhnya yang sangat harmonis kalau disandingkan dengan Krian Kebo Iwa. Sebab sayang Kryan Kebo Iwa yang gagah perkasa, sampai lewat usianya belum ada jodohnya. Itulah salah satu sebagai tanda persahabatan sejati “.
               Demikianlah hatur sembah utusan Ki Patih Gajah Mada yang membuat Sri Maharaja Bedahulu menjadi berkenan. Beliau meluluskan semua permintaan dari Ratu Tribhuwana Tungga Dewi dari Majapahit. Permintaan tersebut dikabulkan tanpa ragu-ragu.
              
Isi surat dari Majapahit memuat empat hal:
1)  Memohon agar kerajaan Bali tidak menyerang Majapahit.
2) Memohon agar hubungan kerajaan ditingkatkan menjadi persaudaraan.
3) Sebagai tanda persaudaraan, Sri Ratu berkenan menyerahkan seorang putri untuk dinikahkan dengan Kebo Iwa.
4) Memohon agar Kebo Iwa diperkenankan menjemput calon istrinya ke tanah Jawa.
               Dengan telah dipenuhinya kesepakatan antara Gajah Mada yang mewakili kerajaan Majapahit dengan Maharaja  Bedahulu, Sri Gajah Waktra membuat gembira hati dari para utusan tersebut. Karena jaring-jaring perangkap yang mereka tebar telah mengena. Dengan demikian, hanya tinggal selangkah lagi pasukan Majapahit akan menundukkan dan menguasai Bali Aga. Karena saking gembira hatinya, rombongan Majapahit tersebut menganggap Bali Aga dengan segala isinya sudah dalam gemgaman mereka.

                                 KEBO  IWA  “ KAREBUT “

               Tidak diceritakan berapa lama Patih Gajah Mada di Bedahulu. Datanglah saatnya untuk kembali ke Majapahit. Semua rombongan mohon pamit kehadapan Sri Maharaja Gajah Wahana. Tidak ketinggalan Ki Kebo Iwa yang akan berangkat ke tanah Jawa. Ketika itu Sri Maharaja menasehati Ki Kebo Iwa agar berperilaku baik-baik, sopan dan tidak membuat malu di Majapahit. Kebo Iwa menghaturkan sembah untuk selalu mengingat nasihat dan pesan Sri Maharaja Gajah Waktra. Sekalian Kebo Iwa mohon pamit untuk pergi ke Majapahit bersama dengan rombongan Mahapatih Gajah Mada.
               Mendengar segala percakapan dan permohonan Gajah Mada sebagai utusan Majapahit, yang kemudian dikabulkan oleh Sri Maharaja Gajah Wahana, maka Ki Kebo Iwa sangat gembira hatinya. Mukanya bersinar-sinar dan cerah. Terbayang hatinya akan segera mendapatkan jodoh yang cantik dan baik hati di tanah Jawa, seperti apa yang dijanjikan atau diiming-imingi oleh Gajah Mada. Sama sekali tidak terbayang bahwa semua itu adalah sebuah tipu daya untuk menghabisi dirinya. Ia pun tidak menyadari bahwa ia sudah  masuk perangkap. Bahaya di tanah Jawa telah menunggunya. Diliputi oleh suasana hati yang berbunga-bunga, Kebo Iwa pun tidak menyadari apa yang akan terjadi pada dirinya.
               Dikisahkan kemudian perjalanan rombongan Gajah Mada berlayar bersama Kebo Iwa menuju Majapahit. Kebo Iwa menggunakan perahu layar tersendiri. Ketika berada di tengah laut dalam, rombongan Gajah Mada mulai untuk upaya pertamanya yakni secara diam-diam mencoba untuk menenggelamkan perahu Kebo Iwa. Dengan upaya tersebut menyebabkan perahu layar Ki Kebo Iwa tenggelan dan ditinggalkan oleh perahu Gajah Mada.
               Melihat perahunya terbalik dan Kebo Iwa tidak kelihatan karena ditelan gelombang laut yang ganas, pasukan Gajah Mada menjadi senang hatinya. Mereka bersorak sorai telah berhasil menenggelamkan Kebo Iwa yang sakti itu. Mereka merasa sangat lega karena tugas untuk menyingkirkan Kebo Iwa yang sakti dapat dilakukan dengan cara yang mudah. Mereka pun mengira bahwa Kebo Iwa telah tewas. Namun, karena kesaktian dan kemahirannya, Kebo Iwa tidaklah tenggelam dan ia masih hidup. Kebo Iwa muncul dari dalam air dan berenang mendekati perahu rombongan Gajah Mada. Bahkan, Kebo Iwa dapat berenang dan menyelam lebih cepat dari perahu Gajah Mada. Kebo Iwa kemudian mendekati perahu Gajah Mada dan berkata: 
               “Jangan Tuan Mahapatih takut atau khawatir, sebab samudera ini adalah tempat permandian hamba sejak kecil ”, demikianlah kata-kata Kebo Iwo kepada Gajah Mada, yang membuat hati Gajah Mada menjadi gusar. Sebab Kebo Iwa memang lihai, mahir dan sakti. Kesal hatinya ketika gagal membunuh atau menenggelamkan Kebo Iwa di tengah laut.
               Kebo Iwa yang tidak menyadari dirinya akan dihabisi di tengah laut, dengan hati tanpa beban dan bersenang-senang berenang dan menyelam di laut. Meluncur dengan cepat melampaui perahu yang ditumpangi Gajah Mada. Bahkan, Kebo Iwo lebih dahulu sampai di pantai tanah Jawa. Menyaksikan semua ini, semakin heran dan semakin khawatir rombongan Majapahit akan keberhasilannya untuk membunuh Kebo Iwa.
               Tidak diceritakan panjang perjalanan rombongan dan Kebo Iwa di tanah Jawa. Akhirnya, mereka sampai di bumi Wilwatikta atau Majapahit. Patih Gajah Mada segera melapor kepada Ratu Mahadewi bahwasannya Kebo Iwa telah berhasil dibawa ke tanah Jawa. Dan diceritakan pula mengenai kesaktian Patih Kebo Iwa.
               Mendengar penjelasan dari Gajah Mada, maka Ratu Mahadewi menitahkan untuk menjalankan rencana selanjutnya, yakni dipertemukan dengan wanita cantik calon istrinya. Namun, ketika itu wanita cantik tersebut telah diberitahukan sebelumnya mengenai siasat yang akan dijalankan untuk menghabisi Kebo Iwa.
               Ketika itu, Patih Kebo Iwa disambut dan dijamu layaknya seorang menteri. Kemudian wanita cantik calon istrinya dipertemukan dan diberi kesempatan bercumbu rayu. “Aduhai kakanda pemberani dan tersohor di dunia. Kanda memiliki tubuh yang sangat kuat dan sempurna, sakti, serta mahir dalam ilmu bangunan. Kini, adinda bermaksud untuk membuat sumur untuk digunakan ketika menikah nanti.” Ketika itu tersenyum Kebo Iwa, tertikam oleh panah asmara Sang Hyang Semara.  Kebo Iwa pun menyahut “Jangan khawatir adinda, sekarang pun kanda akan membuat sumur untuk dinda, tinggal dinda tunjukkan di mana tempatnya.”
                  Tepat pada tempat yang ditunjukkan oleh wanita tersebut, Kebo Iwa memulai membuat sumur. Kebo Iwa kemudian membuat sumur tersebut dengan tanpa menggunakan alat pembuat sumur. Digunakan tangan dan kakinya yang kuat untuk menggali tanah dan batu-batu. Kebo Iwa tidak mengetahui kalau di sekitar tempat tersebut telah disediakan banyak sekali batu-batu besar untuk menimbun Kebo Iwa nantinya kalau sumur yang dibuatnya sudah dalam. Setelah dalam sumur yang dibuat, Kebo Iwa juga tidak menyadari akan bahaya. Di sekeliling tempat itu telah banyak pasukan yang akan menimbun Kebo Iwa dengan senjata, batu dan tanah.
               Diceritakan kemudian sumur yang dimintai oleh calon istrinya tersebut sudah selesai dan berukuran dalam, maka pasukan yang telah siap di sekeliling sumur tersebut segera diperintahkan untuk menjalankan tugasnya. Ketika dikomando, semua prajurit Majapahit melemparkan batu-batu besar tersebut, dan juga senjata kepada Kebo Iwa yang ada di dalam sumur.
               Mendapat serangan dari atas, ketika itu baru Kebo Iwa menyadari bahwa dirinya akan segera dihabisi. Kebo Iwa menjadi kesal hatinya dan marah mengetahui maksud licik dari tawaran wanita cantik kepada dirinya tersebut. Dalam hatinya menjadi panas dan murka, karena telah diperdaya oleh orang-orang Majapahit. Pada saat diserang atau dihujani dengan senjata-senjata dan batu-batu besar dari atas, tidak membuat Kebo Iwa terluka. Karena ia memang orang yang sakti dan kebal terhadap senjata.
               Kemudian dalam keadaan demikian, dilemparnya kembali senjata-senjata, batu-batu dan tanah tersebut ke atas, dan mengenai prajurit-prajurit yang menimbun itu.  Hal ini membuat prajurit Majapahit tersebut menjadi kocar-kacir dan mengalami banyak korban. Karena Kebo Iwa memang orang yang sakti mandraguna.
               Dengan hati yang marah, Kebo Iwa naik dari sumur dan berkata. “Hai engkau Patih Gajah Mada. Terlalu curang hatimu. Ini bukanlah sasana dari seorang ksatria. Ini adalah perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, angkara murka perbuatanmu karena mengingkari persahabatan”, demikian Patih Kebo Iwa mengingatkan Mahapatih Gajah Mada. Namun, Patih Kebo Iwa ketika itu menyadari bahwa semua ini adalah kehendak Hyang Maha Kuasa. Ia sendiri menyadari telah masuk dalam perangkap musuh yang sangat kuat dan besar. Walaupun memiliki kesaktian dan kekuatan, tampaknya tak mungkin akan dapat keluar dari perangkap ini. Rupanya kali ini adalah menjelang dari akhir hidupnya di dunia, dan ini adalah semua sebagai akibat karma yang harus ia terima. Ini adalah saatnya ia kembali ke alam Wisnu.
               Ketika itu, Kebo Iwa memberitahukan kepada Gajah Mada bahwa ia tidak mati oleh senjata. “Kalau ingin membunuhku timbunlah aku dengan kapur.” Demikian Patih Kebo Iwa memberitahukan kepada Mahapatih Gajah Mada yang berkeinginan  besar untuk menghabisinya. Hal ini membuat takjub dari para patih Majapahit akan kesaktian dan kejujuran dari Patih Kebo Iwa. Mereka pun mejadi sedikit lega dalam hatinya, karena musuh besar yang ditakutinya telah masuk perangkap dan telah mengatakan rahasia kesaktiannya.
               Ketika itu pula,  Kebo Iwa dengan penuh kesadaran, ketulusan, hati yang suci, memusatkan pikiran kepada Hyang Maha Pelebur, dan turun ke dalam sumur. Dan segera para pasukan beserta para patih Majapahit menimbun sumur tersebut dengan kapur. Setelah ditimbun dengan kapur, maka melayanglah jiwatman Sang Kebo Iwa disertai bau harum semerbak, ditiup angin sepoi-sepoi menuju Wisnuloka. Daerah atau tempat dibunuh atau ditimbunnya Kebo Iwa dalam sumur tersebut kemudian dinamakan dengan Telagourung (sumur yang belum jadi).

               Sorak-sorai gegap gempita suasana di Majapahit. Sebab yang ditakuti atau yang dikhawatirkan penguasa Majapahit adalah Kebo Iwa yang telah dapat dihabisi melalui tipu muslihat. Dengan telah berhasil disingkirkannya Patih Sakti Kebo Iwa, seolah-olah kemenangan sudah di depan mata. Kini tinggal mempersiapkan para patih dan pasukan untuk menyerang kerajaan Bali (sumber:Lontar Usana Bali Pulina/inks).


















































Pura Maspait beda dengan Pura Majapahit ?





Pura Maspahit sampai sekarang memang masih menjadi misteri. Siapa yang dipuja di Pura Maspahit. Namun karena namanya Maspahit, kemudian banyak yang berpendapat bahwa pura Maspahit sama dengan Pura Majapahit, yakni tempat pemujaan kehadapan Ratu Majapahit di Jawa. Bisa jadi hal ini disebabkan karena kuatnya pengaruh Majapahit di tanah Bali. Tetapi kalau dikatakan demikian, seperti masih perlu dikaji lagi sebab di beberapa tempat di Denpasar misalnya, ada pura Majapahit berada dalam satu wilayah dengan Pura Maspahit. Dari kenyataan ini kemudian mengundang pertanyaan, jangan - jangan kedua pura ini adalah berbeda satu sama lain. Di satu pihak adalah Pura Majapahit yang memang sebagai tempat pemujaan kepada Ratu Majapahit di Jawa, sedangkan Pura Maspahit sendiri sebagai pemujaan tersndiri.
Dalam beberapa sumber sejarah disebutkan bawha Pura Maspahit sudah ada sejak jaman peradaban Bali Kuno, jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Seperti keberadaan pelinggih Maspahit di Pura Kentel Gumi, dimana pura tersebut dibangun atas prakarsa dari Mpu Kuturan. Demikian pula dengan pelinggih Maspahit yang ada di Pura Agung Besakih. Seperti diketahui bahwa Mpu Kuturan menjadi purohito  / bagawanta sekaligus sebagai senapati kerajaan Bali Kuno jauh sebelum kerajaan Majapahit berdiri.
Di Pura Agung Besakih, pada bagian strata III dari palemahan Besakih yakni di atas Pura Padma Tiga Penataran Besakih, terdapat sebuah meru tumpang sebelas sebagai stnana dari Ratu Maspahit atau sering disebut dengan Ratu Mas. Pelinggih ini memiliki arti dan kedudukan yang sangat penting bagi masyarakat Besakih sejak jaman dahulu dan juga bagi masyarakat di pegunungan yang disebut masyarakat pragunung. Pada jaman dahulu di meru tumpang sebelas ini masyarakat Besakih menghaturkan sesaji khsusus yang terkait dengan upacara perkawinan. Demikian juga masyarakat pragunung menghaturkan pengapih atau semacam peson – peson (iuran wajib) berupa uang kepeng yang dihaturkan kehadapan Ratu Maspait dan digunakan untuk membiayai odalan dan pemeliharaan bangunan meru. Odalan di pelingggih meru sebagai stana Ratu Maspait ini diselenggarakan pada sugi manik atau sugian jawa. Pada hari ini masyarakat Besakih menghaturkan sembah bakti di meru ini.
Walaupun masyarakat Besakih tak lagi menjalankan tradisi tua tadi di meru tumpang sebelas Linggih Ratu Maspait, namun masyarakat Desa Selat yang masih memiliki ikatan sejarah dengan Besakih masih memuja Ratu Maspait dalam sebuah ritual khusus yang diselenggarakan setelah hari Puncak Betara Turun Kabeh, bersamaan dengan ritual Desa Selat lainnya di Pura Kiduling Kreteg. Upacara pemujaan kehadapan Ratu Maspait disebut sebagai Nunas Merta Sanjiwani (memohon air suci kehidupan abadi). Dimana dalam upacara tersebut masyarakat menghaturkan sesaji yang terdiri dari nasi dilengkapi dengan sembilan jenis olahan daging babi.Sesaji tersebut dihaturkan di bale pelik / tajuk. Dalam upacara tersebut pemangku beserta dengan masyarakat memuja Ratu Maspait dan kemudian diperciki tirta / wangsuhpada (air suci) yang disebut dengan merta sanjiwani. Setelah itu masyarakat secara bersama - sama menikmati sesaji yang telah mendapatkan percikan merta sanjiwani.
Dalam pustaka Raja Purana (RP I 8.7-9, 14.3-4) disebutkan bahwa Ratu Maspait didentikkan dengan  Batara Wulan / Batara Candra / Dewi Bulan. Namun tak ada penjelasan lebih lanjut mengeni hal tersebut.
Demikian juga dengan di desa tua Trunyan dimana terdapat pelinggih yang disebut dengan Pancering Jagat. Terpisah dari komplek pelinggih itu, juga terdapat komplek pelinggih Maspahit yang diperuntukkan bagi stana Ida Ayu Maspait (Dewi), berupa sebuah bangunan yang berbentuk bale agung yang disebut dengan bale Agung Maspait. Dan ada yang menarik dan kemiripan dengan di Besakih yakni adanya upacara mepekandelan. Yakni upacara dalam rangkaian pernikahan dimana pasangan suami istri akan sembahyang di pelinggih Maspait, setelah itu barulah pasangan pengantin sah menjadi krama desa.     
Pendapat berbeda juga diberikan oleh Singin Wikarman dan Rijasa (tahun 1980) dalam edisi Pamancangah Maspahit, dimana di dalamnya dikatakan bahwa Ratu Maspahit adalah sebutan bagi roh suci Mpu Kuturan. Mereka berpendapat bahwa Ratu Maspahit dipuja di bangunan suci yang disebut dengan Menjangan Seluang.
Di Denpasar juga banyak terdapat Pura Maspahit seperti di Banjar Grenceng yang kini masuk dalam cagar budaya. Demikian juga dengan Pura Maspahit tonja yang masuk cagar budaya. Di Banjar Jematang, di Yangbatu juga terdapat pura Maspait. Selain itu banyak pula pura Maspait di masing masing desa di Denpasar atau di kabupaten lainnya di Bali. Ada yang khusus dalam bentuk pura, atau hanya berupa sebuah pelinggih dalam satu kawasan pura tertentu.
Melihat dari beberapa sumber sastra dan sejarah, sangat besar kemungkinannya bahwa Pura Maspait atau Maspahit tidak sama dengan Pura Majapahit, walaupun memiliki kemiripan nama. Mungkin karena kemiripan nama serta kuatnya pengaruh Majapahit di Bali menyebabkan peran Ratu Maspahit menjadi kabur dan dipahami sebagai Ratu Majapahit.
Dan menurut Raja Purana dan tradisi masyarakat Bali pegunungan sekitar Besakih mengindikasikan bahwa Ratu Maspait yang distanakan di meru tumpang sebelas adalah memiliki kedudukan yang sangat penting. Dimana dalam tradisi pembuatan bangunan suci pada masa Bali kuno, bahwa bangunan meru tumpang sebelas adalah bangunan untuk dewa tertinggi. Ini artinya bahwa Maspait sejatinya adalah Dewa yang kedudukannya tinggi dalam pemujaan masyarakat Bali Kuno, kalau ditinjau dari bentuk pelinggih dan tingkatan meru. Demikian juga dalam beberapa sumber sastra di atas disebutkan bahwa Maspait dinyatakan sebagai Ratu Maspait, Ida Ayu Maspait (Dewi), yang mana penyebutan ini lebih condong kepada aspek predana atau sakti yang memiliki fungsi khusus dan penting dalam kehidupan manusia dan alam semesta.
Demikian juga dengan ritual pemujaan yang dilakukan terhadap Ratu Maspait yang dilakukan adalah untuk memohon tirtha amerta sanjiwani. Ini artinya bahwa Ratu Maspait adalah dewa tertinggi yang memberikan anugrah kehidupan yang abadi, dimana simbol dari anugrahnya adalah tirtha amerta sanjiwani. Dalam mitologi dewa dewa, hanya dewa dengan kedudukan tinggi yang berwenang menganugrahkan Tirtha Amerta Sanjiwani.
Menilik dari uraian dan bukti sejarah, adat, serta - sastra di atas, maka dapat diambil suatu pendekatan kesimpulan bahwa Ratu Maspait adalah salah satu nama Dewa Tertinggi dalam tradisi Hindu dalam peradaban Bali Kuno. Pura Maspait adalah ura sebagai tempat pemujaan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabawa sebagai Ratu Maspait yakni Dewa penganugrah amerta sanjiwani atau kehidupan abadi. Artinya pula bahwa Pura Maspait adalah pemujaan kehadapan Dewa yang memberi anugrah kehidupan, kesejahteran, kemakmuran dan kemulyaan di dunia.
Ditegaskan di sini bahwa Pura Maspait atau pelinggih bukanlah pemujaan untuk Ratu di Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Namun tak dipungkiri pula memang ada Pura Majapahit yang ditujukan untuk memuja para penguasa Kerajaan Majapahit terdahulu atau ditujukan bagi para leluhur di tanah Jawa terdahulu. Artinya: Pura Maspait tidak sama dengan Pura Majapahit.