Thursday, April 6, 2017

NGELAWANG BARONG KRARAS lan BARONG BANGKUNG

  Seka Ngelawang RARE BAIRAWA, Yangbatu Kangin,
Galungan, 5 April 2017. Sejak tahun 1999.


"Barong Kraras" disebut juga "Barong Brutuk" dalam filosofi Bali Kuno adalah manifestasi kekuatan “Sanghyang Datonta”. Dalam Filosofi Bali pertengahan disebut dengan “Ida Betara Ratu Gede Pancer Jagat”. Pancer adalah sumbu dunia, tak lain tak bukan adalah Lingga Yoni. Dalam filosofi kekinian disebut Siwa Mahadewa. Dengan demikian Barong Kraras (seperti halnya Rangda dan Rarung) adalah simbolisasi kekuatan (sakti) dari Dewa Siwa yang diberi julukan Durga Dewi, sumber kekuatan dan kesaktian. Tak salah kalau Barong Kraras dipakai sebagai sarana memohon kesembuhan serta sarana Tolak Bala. (sumber, cakepan Bali Kuno)
Bersanding dengan Barong Bangkung, simbolisasi kekuatan Sanghyang Wisnu di dunia, sebagai kekuatan pemelihara serta pemberi anugrah kemakmuran. (sumber: Barong Swari)
#NgelawangBarong #BarongKraras #Datonta #IdaBetaraRatuGedePancerJagat #BarongBangkung #RareBairawa
#YangbatuKangin. #kanduksupatra.blogspot.com

Tuesday, March 21, 2017

MENGAPA MEPRANI MENJELANG NYEPI ?


Tulisan ini hanyalah catatan pemahaman saya tentang meprani yang selama ini banyak yang bertanya, apa sih meprani itu? mengapa meprani? dan sebagainya. Setelah sekian lama pertanyaan itu tersimpan di dalam pikiran sambil mencari jawabannya dalam sastra, yantra, mantra, adat budaya, serta cerita para tetua, maka tersusunlah catatan ringkas ini. kanduksupatra.blogspot.com
Upacara Meprani yang dilakukan di banjar pada saat satu hari menjelang Nyepi sejatinya salah satu dari sekian banyak rangkaian upacara kesanga yang diawali dengan melasti, mecaru pemarisuda bhumi, meprani, ngerupuk, Nyepi (nyatur brata), ngembak geni.
Upacara meprani di banjar pada pagi hari sejatinya diawali dengan upacara pemarisuda bhumi (pembersihan dan penyucian bhuana agung dan bhuana alit) dalam sekala kecil yakni ruang lingkup banjar dan krama banjar. Upacara ini bersaranakan caru eka sata (ayam brumbun) sebagai sarana pengharmonisan alam sekala dan niskala, pengharmonisan Panca Maha Buta. Dilengkapi dengan banten durmanggala sebagai sarana untuk membersihan kedurmanggalan atau energi - energi yang tak sejalan dengan kehidupan manusia, dilanjutkan dengan pengulapan yakni sarana untuk mengembalikan energi - energi alam semesta ke posisinya masing - masing, dan dilanjutkan dengan ngelis dan prayascita yang maknanya adalah membersihkan dan menyucikan segala yang ada di dunia baik bhuana agung maupun buana alit, sekala dan niskala. Dengan upacara mecaru ini diharapkan energi alam semesta kembali dalam keseimbangan, bersih, tenang, dan suci. Inilah mengapa kemudian disebut dengan pemarisuda bhumi.
Lalu untuk ruang lingkup yang luas dilanjutkan dengan caru di tingkat desa yang dilakukan di catus pata desa dengan menghaturkan caru panca sata. Dilanjutkan lagi dengan yang lebih luas yakni untuk tingkat kabupaten / kota dengan pelaksanaan tawur di pusat kota. Demikian seterusnya dalam sekala yang lebih besar, dengan harapan alam semesta beserta dengan isinya kembali dalam kesimbangan (stabil) yang dalam bahasa balinya disebut dengan gumi degdeg / gumi enteg suci nirmala. kanduksupatra.blogspot.com
Kembali ke upacara yang dilaksanakan di banjar yakni meprani. Prani memiliki dua pengertian. Yang pertama pengertiannya adalah “mahluk” (sarwa prani / semua mahluk), kedua pengertiannya adalah “hidangan” yakni soda atau persembahan (dapat berupa gebogan) yang dilengkapi dengan hidangan nasi, lawar, sate, dan kuah.
Banten prani ini dihaturkan oleh setiap keluarga banjar, dibawa ke banjar. Dan ketika menghaturkan prani, banten ditempatkan langsung di hadapan krama yang menghaturkan prani. Banten prani kemudian di-astawa oleh jero mangku, dan tentunya juga oleh seluruh krama dengan cara ngayab. Jadi upacara Meprani adalah ungkapan rasa syukur dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi dengan mempersembahkan banten serta hidangan (prani) untuk memohon kesejahteraan semua mahluk (sarwa prani) dan alam semesta. kanduksupatra.blogspot.com
Setelah dilakukan bhakti pepranian (meprani) semua krama beramahtamah dengan makan bersama menikmati nasi, lawar, sate serta kuah yang ada di banten prani tersebut, sebagai simbol anugrah amerta Ida Sanghyang Widhi Wasa kepada kita semua. Acara ini memiliki nilai sosial yakni kebersamaan antar sesama warga. Untuk makan bersama ini di beberapa tempat masih berlangsung. Namun di beberapa tempat tradisi makan bersama sedikit dimodifikasi.
Dengan demikian konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sarwa prani dan alam semesta / lingkungan, serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia dapat terwujud dalam upacara meprani tersebut. Keharmonisan hubungan sekala dan niskala, dalam rangka menjalankan catur brata penyepian.
Meprani tidak saja dilakukan di banjar menjelang nyepi, namun tradisi meprani juga dilakukan di beberapa desa dan pura di Bali yang dilaksanakan pada bagian akhir dari rangkaian karya. Kurang lebih demikian. Ampura. (Ki Buyut Mesebeng Ririh)
#GamaBali #HinduBali #GamaTirtha #Nyepi #Kesanga #Meprani #OriginalArtikel kanduksupatra.blogspot.com

Wednesday, March 15, 2017

LABUH GENTUH LEMBU IRENG


Ogoh2 ST. Santi Yowana. Br Yangbatu Kangin, Saka 1939
 
 Berawal dari perjalanan Ida Danghyang Dwijendra menuju Uluwatu dalam persiapan moksah. Dalam perjalanan beliau bercengkrama dengan Ida Betara Masceti. Tak terasa sampailah di suatu tegalan di pesisir barat. Di tempat ini beliau beristirahat sambil berbincang berdua. Pembicaraan beliau didengar oleh sosok niskala penjaga tegalan itu yakni I BHUTA IJO. Danghyang Dwijendra kemudian memanggil lalu menitipkan pecanangan (tempat sirih) beliau yang berbentuk peti kepada I Bhuta Ijo, karena Sang Maha Muni akan ke Uluwatu. Untuk menjaga pecanangan tersebut, maka I Bhuta Ijo pun dianugrahkan kesaktian. Danghyang Dwijendra lalu berpisah dengan Betara Masceti. Danghyang Dwijendra menuju Uluwatu, sedangkan Betara Masceti kembali ke alam sunia.
Singkat cerita, Ida Danghyang Dwijendra telah sampai di Uluwatu, sedangkan I Bhuta Ijo setia mengemban amanat menjaga dan mengkramatkan pecanangan. Semenjak itu terjadi keanehan di masyarakat Kerobokan. Siapa saja yang ke tegalan itu selalu mengalami sakit. Para tetua masyarakat Kerobokan mendatangi Ida Danghyang Dwijendra di Uluwatu untuk memohon petunjuk.

Beliau memberitahukan bahwa di sana adalah tempat Beliau bercengkrama dengan Ida Betara Masceti. Tempat itu pula dihuni oleh I Bhuta Ijo yang menjaga pecanangan. Danghyang Dwijendra menyarankan agar dibuatkan pelinggih untuk memuja Betara Masceti. Agar I Bhuta Ijo tak ngrebeda (mengganggu), maka pada Tilem Keulu laksanakan LABUH GENTUH LEMBU IRENG (caru bersaranakan sapi warna hitam). Pada Purnama Kesanga lakukan upacara Nangluk Merana bersaranakan LEMBU BIYANG BELANG KEBANGSAPI (sapi yang sudah pernah beranak serta terdapat tompel / belang di balik kaki belakang atau depan). Pada setiap pujawali, sajikan I Bhuta Ijo berupa segehan dengan ulam jejeron bawi mentah dan segehan agung dilengkapi tetabuhan tuak arak berem.
Atas petunjuk dari Ida Danghyang Dwijendra, maka di bangunlah pura yang diberinama PURA PETI TENGET sebagai tempat memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawa sebagai Ida Betara Masceti untuk memohon keselamatan dan kemakmuran. (Sumber: Dwijendra Tatwa, dan beberapa sumber lainnya)
kanduksupatra.blogspot.com

Thursday, March 9, 2017

MENGAPA NATAB BIAKAON MENJELANG NYEPI ?



Natab Biakala adalah sebuah ritual yang dilakukan umat Hindu Bali pada pada sore hari / sandikala sebelum mebuwu buwu dan ngerupuk. Mebiakala sering disebut Mebiakaon, salah satu dari rangkaian panjang prosesi Ngesanga (perayaan Nyepi).
Natab Biakaon dilakukan di halaman rumah. Banten yang disiapkan adalah satu soroh biakala, prasita (prayascita), dan sesayut lara melaradan. Rangkaian upacaranya adalah: pertama natab biakaon bersaranakan tepung tawar sebagai sarana penawar (penetralisir) kekuatan negatif yang ada di dalam angga sarira (badan). Dilanjutkan dengan kekosot / kekosok yang terbuat dari pucuk daun pandan atau alang alang. Kekosot dilakukan dengan cara memutar-mutar di kedua belah telapak tangan. Maknanya adalah membersihkan kekotoran yang ada pada diri manusia secara lahir batin. Pemutaran kekosok ini juga diyakini akan memunculkan angin kencang (ngelinus) secara niskala, yang diharapkan mampu menghempaskan segala kekotoran (mala), segala penyakit (rogha), segala penderitaan (lara) yang melekat pada jasmani dan rohani.
Setelah itu diikatkan benang barak (merah) di kaki, sebagai simbol ngeseng (membakar) sehananing mala (segala kekotoran) yang ada dalam diri manusia secara lahir batin. Dilanjutkan dengan natab yakni ayunan tangan diarahkan ke kaki / ke bawah. Bermakna pelepasan mala agar kembali ke Sanghyang Ibu Pertiwi. Natab diarahkan ke kaki, karena kaki setiap saat kontak dengan pertiwi. Oleh sebab itulah natab biakaon sering disebut dengan natab batis. Natab Biakaon adalah memohon kehadapan Batara Kala agar tak diganggu sawateking bhuta. kanduksupatra.blogspot.com
Rangkaian selanjutnya adalah meprasita / meprayascita yakni memohon penyucian secara jasmani dan rohani. Didahului dengan berkumur tiga kali dengan air bungkak nyuh gading dilanjutkan minum air bungkak tiga kali. Dilanjutkan nunas tirtha prasita, yang sebelumnya dimohon pada sulinggih. Nunas tirtha prasita bersaranakan lis. Lis adalah rangkaian janur yang berbentuk senjata dewata nawa sanga, sebagai sarana untuk ngelis (mengupas) / membersihkan / menyucikan jasmani dan rohani. Akhir dari prasita adalah menyematkan sesarik / sesedep dan benang putih. Sesedep adalah simbol limpahan amerta, kesejahteraan dan keharuman / kemasyuran, sedangkan benang putih adalah simbol limpahan kesucian rohani (disematkan di kepala) dan kesucian jasmani (diikatkan di tangan). kanduksupatra.blogspot.com
Tahapan selanjutnya adalah natab Sesayut Pemiak Lara Melaradan. Sesayut ini ditatab untuk memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa sebagai Sanghyang Ibu Pertiwi agar dijauhkan dari sengsara / penderitaan berkepanjangan. Sesuai dengan namanya, Sesayut adalah simbol permohonan. Pemiak adalah pemisah atau penghindar. Lara adalah sengsara / penderitaan. Melaradan adalah sambung menyambung / berkepanjangan. Ketika natab sesayut ini, ayunan tangan diarahkan ke badan, yang maknanya adalah memohon agar jasmani dan rohani ini dijauhkan dari segala penderitaan berkepanjangan. kanduksupatra.blogspot.com
Prosesi natab biakaon diakhiri dengan ngukup, yakni kedua telapak tangan ditelungkupkan di atas asap pengasepan kemudian diusapkan ke wajah sebanyak tiga kali, ke badan (dada) tiga kali dan ke kaki tiga kali. Sebagai simbolisasi menyambut waranugraha penyucian pikrian, perkatan, dan perbuatan.
Setelah melakukan penyucian diri, barulah melakukan membuwu-buwu dan ngerupuk dalam rangka nyomia Sang Bhuta Kala. Karena hanya dalam jiwa raga yang bersih dan suci diharapkan mampu menyupat Bhuta menjadi Dewa. Harapannya pula, ketika menjalankan catur brata penyepian didasari atas kebersihan dan kesucian jasmani dan rohani. kanduksupatra.blogspot.com
Muncul pertanyaan: mengapa natab biakala dilakukan pada sandikala?. Karena sandikala adalah waktu peralihan dari siang ke malam. Pada saat ini terjadi peralihan dari kekuatan unsur-unsur kosmik di alam semesta. Sehingga waktu ini baik untuk pelepasan ma¬la (kotor) dan mengambil / memohon pemarisuda (penyucian). Demikian juga mengapa ngerupuk dilakukan pada sandikala adalah sebagai waktu yang baik untuk penyupatan bhuta menjadi dewa.
Demikian juga muncul pertanyaan, kenapa natab biakaon ini dilakukan di natah / di halaman. Semua ini adalah dalam rangka memohon kehadapan Sanghyang Ibu Pertiwi agar segala mala, roga, lara, kembali ke asalnya ke Ibu Pertiwi. Kira-kira demikian. I Jugul Punggung Nasikin Segara. Ampura.
#NyepiCaka #GamaBali #HinduBali #GamaTirtha #Biakaon
#OriginalArtkelKiBuyutDalu. kanduksupatra.blogspot.com

Thursday, March 2, 2017

OGOH-OGOH, PRODUK AWAL TAHUN 1980





Acara ngerupuk di desa diramaikan dengan anak-anak membawa obor / prakpak keliling desa. Kerlap kerlip nyala obor beriringan sejak sandikala sampai malam terasa sangat meriah, diiringi dengan riuhnya suara “kulkul” / kentongan di bale banjar. Demikian awalnya.
kandukssupatra.blogspot.com

Ketika listrik sudah mulai merata di desa – desa di Denpasar pada awal tahun 1980 an, maka kegiatan mengarak obor / prakpak keliling desa semakin khilangan greget, karena jalanan sudah diterangi listrik. Untuk menyemarakkan pengerupukan maka sekeklompok anak-anak muda membuat Lelakut (orang-orangan sawah) yang dibuat seram dengan bentuk yang sangat sederhana. Lelakut ini diarak keliling desa dan di-ogah-ogah (digoyang-goyang) sepanjang jalan sambil bersukaria. Entah siapa yang kemudian menyebut lelakut yang diogah-ogah tersebut dengan OGOH-OGOH. Istilah ini dipakai sampai sekarang.
kanduksupatra,blogspot.com

Pada awalnya hanya beberapa anak muda banjar di Denpasar yang membuat ogoh-ogoh. Kami awalnya (th 1982) membuat ogoh-ogoh dari “sumi” (jerami) dengan garapan yang masih sangat primitip. Kami dari Yangbatu (Yangbatu Kangin dan Yangbatu Kauh) waktu itu mengarak ogoh-ogoh melewati Alun-alun (Puputan Badung), ke Suci (kawasan Jl Hasanudin menuju Pemecutan, Jl. Gajah Mada, Catur Muka, dan kembali ke Yangbatu. Para pengusung tak mengenakan baju saat itu.

kanduksupatra.blogspot.com
Sejalan dengan perjalanan waktu, makin tahun makin bertambah anak – anak muda banjar membuat ogoh-ogoh. Melihat perkembangan yang positif ini, maka awal tahun 1990 an, Peradah (pemuda Hindu Darma) bersama dengan parisada mengarahkan perkembangan ogoh-ogoh agar memiliki makna spiritual dalam rangka Tawur Kesanga. Diarahkanlah kreatifitas ini dengan membuat ogoh-ogoh berupa BHUTA KALA yang bersumber dari cerita Purana, Pewayangan, Mitos masyarakat, Calonarang, dll. yang mencerminkan “penyomia bhuta” (penetralisir kekuatan negatif).
kanduksupatra.blogspot.com 
  
Kini ogoh-ogoh sangat pupuler. Anak-anak muda menggali mitos, tattwa agama Hindu, cerita rakyat, dll. yang nantinya dituangkan dalam karya ogoh-ogoh. Teknis penggarapannya pun semakin berkembang dan makin sempurna. Ogoh-ogoh sekarang kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan tahun - tahun sebelumnya. Penggarapan tema serta koriografinya pun semakin berkembang seperti yang kita saksikan belakangan ini.

Ogoh-ogoh kini tidak saja menjadi ritual agama, namun juga menjadi atraksi budaya, seni, dan atraksi wisata.
#OgohOgoh #SejarahBudaya  #GamaBali #GamaTirtha #TahunCaka
  

Thursday, February 23, 2017

SEGARA – WANA – GIRI Menggerakkan Cakra Semesta dari Tanah Luhur Blambangan




 Titah dari Sanghyang Tuduh (perintah Sang Maha Pencipta) atau Pituduh dari Sanghyang Titah (Ketetapan Sang Maha Kuasa). Beliau Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur kembali segala ciptaan. kanduksupatra.blogspot.com

Sanghyang Titah telah menetapkan kebangkitan budi pekerti leluhur. Tak ada yang dapat menghalangi. Ketetapan Sanghyang Parama Kawi bahwa ajaran budi pekerti leluhur adalah langgeng (sanatana dharma). Hanya saja terkadang terbawa arus, tergulung ombak, terhempas di pantai, namun akan berdiri kembali saat badai mereda. Ia tak akan pernah melawan arus, ia tak akan pernah menerjang ombak, ia tak akan pernah menembus badai, ia pun tak akan pernah menabrak batu karang. Sanatana dharma akan selalu mencari celah - celah dalaam kesejukan. Kurang lebih demikian karakter budi pekerti leluhur dalam keabadiannya di nusantara ini yang selanjutnya penulis sebut dengan “Peradaban Kapur Sirih” (Peradaban Budi Pekerti Leluhur). kanduksupatra.blogspot.com
Salah satunya adalah Peradaban Kapur Sirih di Tanah Luhur Blambangan. Tanah Luhur Blambangan dalam sejarahnya memang otonum. Majapahit konon tak sepenuhnya dapat menguasai Blambangan. Ketika jaman Mataram Baru pun Blambangan tersentuh. Melanjut ke jaman kolonial, Belanda juga tak bisa menguasai Blambangan secara penuh. kanduksupatra.blogspot.com
Proteksi diri yang kuat kaum Blambangan melahirkan Suku Osing (suku yang tak menerima peradaban baru). Blambangan hanya bisa dikuasai oleh dirinya sendiri. Blambangan hanya bisa dibujuk oleh keyakinannya sendiri. Blambangan tak pernah melepaskan pekerti leluhur. Blambangan senantiasa memelihara situs - situs Peradaban Kapur Sirih. kanduksupatra.blogspot.com
Sampai kini Tanah Luhur Blambangan menyimpan kekuatan magis tanah nusantara, aura supranatural masa lampau. Ketika para leluhur terdesak di nusantara, maka di timur (purwo), di Tanah Blambangan mereka masih merasakan kenyamanan. Di purwo masih ada tempat berlindung. Di bawah lindungan leluhur, alam, niskala dan lindungan para Danghyang Tanah Jawa.
Sejatinya peradaban leluhur masih terpelihara baik di sana, cuman disamarkan oleh insan - insan bijak agar tidak tampil menonjol apalagi norak. Sekian ratus tahun berlalu, kini tak ada hujan tak ada angin, tak ada badai, pekerti leluhur pelan - pelan menggeliat. Kebangkitan Peradaban Kapur Sirih bagaikan angin sepoi-sepoi menghampiri setiap insan Tanah Luhur Blambangan. Bagaikan angin semilir membisiki pesan leluhur ke dalam setiap nurani pewaris Tanah Blambangan. Antara ada dan tiada, samar-samar tapi ada, para Danghyang mengingatkan pretisentana tanah Jawa. Ia terjaga dalam sepi. Terbangun tanpa propaganda, bergulir tanpa intimidasi. Tak banyak publikasi, apalagi “selfi”. Rupanya kebangkitan ini sudah ditetapkan Sanghyang Tuduh, sehingga ia muncul tak menghiraukan jaman. kanduksupatra.blogspot.com
Tak disangka dan tak diduga, kantong - kantong Peradaban Kapur Sirih tak semuanya terjamah oleh peradaban keyakinan baru. Semuanya disembunyikan oleh waktu. Titik - titik spiritual pun terbangun. Sekonyong – konyong berdiri situs leluhur di pinggir pantai seperti Pura Candi Purwo Gumuk Gadung Pondok Asem dan Pura Tawang Alun Pulau Merah. Yang ada di hutan meliputi Pura Giri Selaka dan banyak pura di sekitarnya. Sedangkan di kawasan Lereng Gunung Raung berdiri Petilasan Gumuk Kancil, Pura Sandya Darma, Pura Natarsari, Pura Anantabhoga, Pura Banyu Bening, Pura Sugih Waras, Pura Kawasan Rowo Bayu, Pura Tirto Jati Di kawasan lainnya juga berdiri Pura Gunung Srawet, Pura Puja Dharma, Giri Wiseso, Pura Giri Nata, Pura Purwo Katon, dan banyak lagi. Sedangkan yang monumental serta menjadi titik sentral adalah Pura Agung Blambangan. kanduksupatra.blogspot.com
Sebaran situs spiritual ini meliputi pantai, hutan, pemukiman, sungai, danau, dan gunung. Konsep SEGARA - GUNUNG seperti di Bali secara tak sengaja (atas titah Sanghyang Tuduh) terwujud di Tanah Blambangan. Namun ketika melihat bentangan alam yang begitu luas di Tanah Blambangan, maka konsep Segara Giri layak diperluas menjadi SEGARA – WANA – GIRI. Mempertemukan kekuatan alam di laut (segara) yang membentang di timur dan di selatan, di daratan Banyuwangi / hutan Purwo (Wana) serta kekuatan di gunung (Giri) yakni Gunung Raung. kanduksupatra.blogspot.com
Konsep Segara – Wana - Giri mempertemukan kekuatan purusa dan predana, kekuatan lingga dan yoni dipertemukan di daratan sebagai penataran yakni Pura Agung Blambangan,yang diyakni sebagai peninggalan kerajaan Blambangan. kanduksupatra.blogspot.com Atau kekuatan Segara Giri dipertemukan di hutan (wana) yakni di Pura Giri Selaka Alas purwo sebagai tempat mesandekan / peristirahatan, penyepian serta tempat beryoganya para leluhur ketika mengalami berbagai tantangan di masa lalu.
Dengan terwujudnya Segara – Wana – Giri di Tanah Luhur Blambangan, maka kekuatan kaja – kelod – kangin - kauh / lor – kidul – wetan - kulon / utara – selatan – timur - barat, membentuk TAPAK DARA, membentang menjadi SWASTIKA, lalu bergerak PURWA DAKSINA (memutar sesuai dengan arah jarum jam) menggerakkan CAKRA SEMESTA di Tanah Blambangan. Perputaran Cakra Semesta akan memancarkan vibrasi pekerti luhur untuk keharmonisan dan kerahyuan Jagat Blambangan, Jagat Nusantara, dan Jagat Semesta.
Semoga Segara – Wana – Giri terwujud di tempat lain di Jawa Dwipa. Semoga rahayu, rahayu, rahayu ……. Ampura.
#SegaraGiri #SegaraWanaGiri #HinduNusantara #PeradabanKapurSirih
#OriginalArtikelbyKiBuyutDalu kanduksupatra.blogspot.com
  

 

Thursday, February 16, 2017

MENONTON LANGSUNG DADONG NGELIAK





kanduksupatra.blogspot.com. Ini kisah otentik terkait masalah orang bisa ngeleak, dari daerah Sdm, Karangasem. Sebut saja namanya Ni Luh Ayu, seorang anak kecil (7th) tinggal bersama ibu tiri serta dadong (nenek) di sebuah gubuk sepi jauh dari pemukiman. Luh Ayu ketika itu masih berumur sekitar tujuh tahun.
Suatu hari Ayu melihat si dadong memegang seutas kain. Kain itu menarik perhatian Ayu sambil mendekat. Kain itu dilihatnya berwarna poleng (seperti sabuk). Ia tak tahu apa itu. Dadong kemudian menaruh kain itu di tempat khhusus di dalam rumah. Kerapkali Ayu melihat dadongnya berbicara sendiri menghadap ke kain poleng itu.Ia tak mengerti apa yang dilakukan oleh dadong dan siapa yang diajak bicara. Ayu pun bertanya kepada dadongnya tentang siapa yang diajak bicara. Dadongnya cuma menjawab “sing dadi, sing dadi”.
Beberapa hari kemudian, suatu malam kain itu dikeluarkan oleh dadong lalu di letakkan di atas meja. Tampak oleh Ayu kain itu diajak bicara oleh dadong. Anehnya lagi kain tersebut seperti bisa berdiri dan tampak hidup seperti ular. Ayu bertanya pada dadong, apa yang dadong bilang, apa yang dadong lalukan?. I Dadong mengatakan “ten dados”, tak boleh, tak boleh ikut, tak boleh tahu. kanduksupatra.blogspot.com
Beberapa saat dadong kemudian keluar menuju halaman rumah memakai kain poleng itu. Karena saking sayangnya kepada dadong, Ayu lalu mengikuti sambil bertanya “dadong kar kije…. dadong kar kije” (nenek mau kemana?).  Dadong tak menyahut, langkahnya pasti dan lurus ke luar rumah. Ayu pun terus mengikuti. Ayu memang tak bisa berpisah dari dadongnya. Sesampai di tempat tertentu, Ayu melihat dadongnya mengurai rambut, kemudian salah satu kakinya diangkat kemudian melompat – lompat (nengkleng). Ayu yang lugu pun diam  menunggui dadongnya melakukan ritual yang tak ia ketahui. Setelah beberapa kali nengkleng sambil berputar, kemudian Ayu melihat wajah dadongnya berubah menjadi membesar dan berlubang- lubang (mungkin itu yang dikatakan orang selama ini sebagai wajah seperti umah tabuan / rumah tawon). Ayu sama sekali tak takut, karena ia sangat sayang pada dadongnya.
Dadong yang sudah berubah wujud kemudian meneruskan langkahnya, entah kemana. Namun Ayu tetap bertanya “dadong kar kije”. Dadongnya yang sudah “nadi” tak menyahut. Sempat Ayu mengikuti langkah dadongnya beberapa langkah, namun dadongnya semakin menjauh. Ayu lalu tak lagi mengikuti dan bergegas ke rumah untuk memberi tahu ibu tirinya yang sedang tidur. Ia membangunkan ibu tirinya dan mengatakan “biang, biang,… dadong di sisi ngigel sambil nengkleng, muane dadi cara umah tabuan” (ibu, ibu,.. nenek di luar sana menari-nari, mukanya seperti rumah tawon). Lalu dadong pergi entah kemana. Demikian Ayu memberitahu ibu tirinya. kanduksupatra.blogspot.com
Ibu tirinya menyahut “ahh…  ten dados.. ten dados” (ah tidak boleh…). Maksudnya tak boleh melihat dan tak boleh mengikuti. Mungkin saja ibunya sudah tahu dadongnya mempraktekkan ilmu pengeliakan.
Setelah mendapat jawaban demikian, Ayu kembali mencari dadong. Ternyata dadongnya sudah ada di sana. Ia bertanya lagi, “dadong mare kije, dadong ngudiang ?” (dadong tadi kenana?). Dadongnya diam. Ayu hanya bisa memandangi dadongnya. Dadongnya juga asyik dengan ritualnya. kanduksupatra.blogspot.com
Ketika itu Ayu merasakan sakit perut ingin beol (maaf). Ia kemudian beol di semak-semak tak jauh dari tempat dadongnya ngeliak. Dadongnya tampak berjalan keliling dan sesaat hilang. Beberapa saat kemudian muncul di Ayu yang sedang beol. Dadongnya kini sudah berubah wujud kembali menjadi kuda berkaki tiga, dua di belakang, satu di depan.
Ayu menjadi heran dan bingung kok dadongnya bisa kelihatan seperti kuda berkaki tiga dan mengeluarkan suara kuk,.. kukk,… kuuk,… kuk…, demikian sambil keliling. Terdengar juga suara gledug,.. gledug,… gledug… seperti suara langkah kaki kuda. Ayu mengamati dadongnya dengan seksama. Ketika kuda lewat di depan Ayu, ternyata dari belakang tak tampak kuda lagi. Yang kelihatan malah dadongnya sendiri yang berjalan membungkuk tertatih-tatih memegang tongkat dengan kedua tangannya. Jadi kelihatan seperti kuda berkaki tiga (kaki belakang adalah dua kaki dadong, satu kaki depan adalah tongkat yang dibawanya). Dadong tampak seperti bermuka kuda, karena saat itu dadong sambil meniup sebuah alat bunyi-bunyian, sehingga mulut dadong kelihatan monyong. Alat bunyi ini ditiup mengeluarkan suara kuk… kuk.. kuk… Sedangkan suara gledug… gledug… tersebut adalah suara hentakan tongkat yang dibawa oleh dadong.  kanduksupatra.blogsopt.com
 Ayu yang sama sekali tak merasa takut, cuman dia bertanya-tanya dalam hatinya, dadongnya sedang ngapain. Ia ingin dadongnya cepat pulang. Ritual malam itu pun berakhir, dadong kembali ke rumah diikuti Ayu. Sesampai di rumah, dadongnya menaruh kain sesabukan itu di tempat semula. Disarankan oleh dadongnya, kalau dadong sudah keluar rumah memakai sabuk ini malam-malam, maka tak boleh ikut. Demikian juga ibunya juga menyarankan demikian.
Pada suatu hari, penasaran dengan benda seperti ikat pinggang poleng berisi bentol bentol itu, Ayu kemudian melihatnya di tempat penyimpanan. Barang itu tergeletak di sana. Ia mengambil barang itu dan melilitkannya di pinggang seperti apa yang dilakukan oleh dadongnya. Lalu ia berjalan keluar. Ternyata Ayu merasakan dirinya berjalan melayang tanpa menyentuh tanah, ia pun kebingungan dan takut. Ia kembali ke dalam rumah lalu membuka ikat pinggang dan menaruhnya di tempat semula. Ia kembali merasa seperti biasa. Hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan dadongnya. Karena merasakan keajaiban sabuk dadongnya itu, maka ia tak berani lagi coba-coba.
Demikian kisah nyata yang di alami Ni Luh Ayu ketika kecil. Ayu kini sudah dewasa. Ia mulai memahamai benda tersebut serta praktek yang dilakukan oleh dadongnya. Rupanya kain poleng itu sabuk pengeliakan. Sedangkan ritual nengkleng yang dilakukan dadongnya adalah ritual ngerehin dengan sikap masuku tunggal (berdiri dengan satu kaki) sambil menari-nari memuja Hyang Betari untuk mencapai puncak yang disebut nadi. Pada saat nadi, maka bayu sabda idep menyatu, si pelaku lalu diselimuti oleh energi sukma tertentu, sehingga yang bersangkutan tampak seperti apa yang mereka inginkan. Ada yang diselimuti oleh energy sukma dimana mukanya tampak berubah menyeramkan berupa bojog, celuluk, jaran, kebo, bade, rangda, dll. Si pelaku liak asik dengan dirinya, menikmati puncak pemujaannya (lia, lila, liang / senang / nikmat) dengan segala sensasinya. Yang tampak seperti jaran berkaki tiga disebut dengan gegendu jaran, sedangkan kerbau berkaki tiga dsebut dengan gegendu kebo.
Menurut cerita, jarang ada orang yang bisa dilihat oleh orang lain ketika melakukan ritual nengkleng, kecuali memang satu murid seperguruan. Namun kejadian Ayu yang masih kecil ini termasuk aneh. Mungkin karena Ayu dianggap masih kecil, tak tahu apa-apa, sehingga dadongnya tak melarang Ayu menyaksikan ritual ngeliak yang ia lakukan. Mungkin dadongnya berpikir begini “walaupun dilihat toh juga ia tak mengerti”. Bisa juga dadongnya sengaja memperkenalkan pengeliakan sedini mungkin kepada cucunya Ayu sebagai generasi penerus ilmu liaknya nanti.  Mungkin dadongnya juga berpikir begini “ngeliak sambil ngempu” (ngeliak sambil mengajak cucu). Tapi dadongnya tak berpikir bahwa apa yang dilihat oleh cucunya itu tersimpan dalam memori Ayu, lalu ketika dewasa ia akan memikirkan kembali masa kecil dan teringat dengan apa yang ia lihat. Pada saat itulah baru ia akan tahu tentang apa yang dilakukan oleh dadongnya terdahulu. Cucunya mulai paham bahwa ternyata dadongnya sebagai penekun ilmu liak. Dan… ketika semua itu disadari oleh Ayu, dadongnya sudah meninggal.  
Nah yang menjadi pertanyaan sekarang, dimanakah sabuk itu disimpan oleh dadongnya? Siapakah yang mewarisi ilmu itu sekarang? Kepada siapakah sabuk itu diberikan? Ni Luh Ayu merasa heran, takjub dan kadangkala lucu ketika menceritakan pengalaman masa kecilnya itu. Sedangkan Ni Luh Ayu sampai saat ini tak pernah menyentuh dunia liak seperti yang dilakoni oleh dadongnya terdahulu. Ia malah ngiring sesuhunan dan menjadi seorang spiritualis. Demikian Ayu menceritakan kepada penulis.
#LiakAdalahBudaya #MisteriBali #BudayaBali #OriginalArtikelByKiBuyutDalu
kanduksupatra.blogsopt.com