Seka Ngelawang RARE BAIRAWA, Yangbatu Kangin,
Galungan, 5 April 2017. Sejak tahun 1999.
"Barong Kraras" disebut juga "Barong Brutuk" dalam filosofi Bali Kuno
adalah manifestasi kekuatan “Sanghyang Datonta”. Dalam Filosofi Bali
pertengahan disebut dengan “Ida Betara Ratu Gede Pancer Jagat”. Pancer
adalah sumbu dunia, tak lain tak bukan adalah Lingga Yoni. Dalam
filosofi kekinian disebut Siwa Mahadewa. Dengan demikian Barong Kraras
(seperti halnya Rangda dan Rarung)
adalah simbolisasi kekuatan (sakti) dari Dewa Siwa yang diberi julukan
Durga Dewi, sumber kekuatan dan kesaktian. Tak salah kalau Barong Kraras
dipakai sebagai sarana memohon kesembuhan serta sarana Tolak Bala.
(sumber, cakepan Bali Kuno)
Bersanding dengan Barong Bangkung,
simbolisasi kekuatan Sanghyang Wisnu di dunia, sebagai kekuatan
pemelihara serta pemberi anugrah kemakmuran. (sumber: Barong Swari)
#NgelawangBarong #BarongKraras #Datonta #IdaBetaraRatuGedePancerJagat #BarongBangkung #RareBairawa
#YangbatuKangin. #kanduksupatra.blogspot.com
Thursday, April 6, 2017
Tuesday, March 21, 2017
MENGAPA MEPRANI MENJELANG NYEPI ?
Tulisan ini hanyalah catatan pemahaman saya tentang meprani yang selama ini banyak yang bertanya, apa sih meprani itu? mengapa meprani? dan sebagainya. Setelah sekian lama pertanyaan itu tersimpan di dalam pikiran sambil mencari jawabannya dalam sastra, yantra, mantra, adat budaya, serta cerita para tetua, maka tersusunlah catatan ringkas ini. kanduksupatra.blogspot.com
Upacara Meprani yang dilakukan di banjar pada saat satu hari menjelang Nyepi sejatinya salah satu dari sekian banyak rangkaian upacara kesanga yang diawali dengan melasti, mecaru pemarisuda bhumi, meprani, ngerupuk, Nyepi (nyatur brata), ngembak geni.
Upacara meprani di banjar pada pagi hari sejatinya diawali dengan upacara pemarisuda bhumi (pembersihan dan penyucian bhuana agung dan bhuana alit) dalam sekala kecil yakni ruang lingkup banjar dan krama banjar. Upacara ini bersaranakan caru eka sata (ayam brumbun) sebagai sarana pengharmonisan alam sekala dan niskala, pengharmonisan Panca Maha Buta. Dilengkapi dengan banten durmanggala sebagai sarana untuk membersihan kedurmanggalan atau energi - energi yang tak sejalan dengan kehidupan manusia, dilanjutkan dengan pengulapan yakni sarana untuk mengembalikan energi - energi alam semesta ke posisinya masing - masing, dan dilanjutkan dengan ngelis dan prayascita yang maknanya adalah membersihkan dan menyucikan segala yang ada di dunia baik bhuana agung maupun buana alit, sekala dan niskala. Dengan upacara mecaru ini diharapkan energi alam semesta kembali dalam keseimbangan, bersih, tenang, dan suci. Inilah mengapa kemudian disebut dengan pemarisuda bhumi.
Lalu untuk ruang lingkup yang luas dilanjutkan dengan caru di tingkat desa yang dilakukan di catus pata desa dengan menghaturkan caru panca sata. Dilanjutkan lagi dengan yang lebih luas yakni untuk tingkat kabupaten / kota dengan pelaksanaan tawur di pusat kota. Demikian seterusnya dalam sekala yang lebih besar, dengan harapan alam semesta beserta dengan isinya kembali dalam kesimbangan (stabil) yang dalam bahasa balinya disebut dengan gumi degdeg / gumi enteg suci nirmala. kanduksupatra.blogspot.com
Kembali ke upacara yang dilaksanakan di banjar yakni meprani. Prani memiliki dua pengertian. Yang pertama pengertiannya adalah “mahluk” (sarwa prani / semua mahluk), kedua pengertiannya adalah “hidangan” yakni soda atau persembahan (dapat berupa gebogan) yang dilengkapi dengan hidangan nasi, lawar, sate, dan kuah.
Banten prani ini dihaturkan oleh setiap keluarga banjar, dibawa ke banjar. Dan ketika menghaturkan prani, banten ditempatkan langsung di hadapan krama yang menghaturkan prani. Banten prani kemudian di-astawa oleh jero mangku, dan tentunya juga oleh seluruh krama dengan cara ngayab. Jadi upacara Meprani adalah ungkapan rasa syukur dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi dengan mempersembahkan banten serta hidangan (prani) untuk memohon kesejahteraan semua mahluk (sarwa prani) dan alam semesta. kanduksupatra.blogspot.com
Setelah dilakukan bhakti pepranian (meprani) semua krama beramahtamah dengan makan bersama menikmati nasi, lawar, sate serta kuah yang ada di banten prani tersebut, sebagai simbol anugrah amerta Ida Sanghyang Widhi Wasa kepada kita semua. Acara ini memiliki nilai sosial yakni kebersamaan antar sesama warga. Untuk makan bersama ini di beberapa tempat masih berlangsung. Namun di beberapa tempat tradisi makan bersama sedikit dimodifikasi.
Dengan demikian konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sarwa prani dan alam semesta / lingkungan, serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia dapat terwujud dalam upacara meprani tersebut. Keharmonisan hubungan sekala dan niskala, dalam rangka menjalankan catur brata penyepian.
Meprani tidak saja dilakukan di banjar menjelang nyepi, namun tradisi meprani juga dilakukan di beberapa desa dan pura di Bali yang dilaksanakan pada bagian akhir dari rangkaian karya. Kurang lebih demikian. Ampura. (Ki Buyut Mesebeng Ririh)
#GamaBali #HinduBali #GamaTirtha #Nyepi #Kesanga #Meprani #OriginalArtikel kanduksupatra.blogspot.com
Wednesday, March 15, 2017
LABUH GENTUH LEMBU IRENG
Ogoh2 ST. Santi Yowana. Br Yangbatu Kangin, Saka 1939
Berawal dari perjalanan Ida Danghyang Dwijendra menuju Uluwatu dalam persiapan moksah. Dalam perjalanan beliau bercengkrama dengan Ida Betara Masceti. Tak terasa sampailah di suatu tegalan di pesisir barat. Di tempat ini beliau beristirahat sambil berbincang berdua. Pembicaraan beliau didengar oleh sosok niskala penjaga tegalan itu yakni I BHUTA IJO. Danghyang Dwijendra kemudian memanggil lalu menitipkan pecanangan (tempat sirih) beliau yang berbentuk peti kepada I Bhuta Ijo, karena Sang Maha Muni akan ke Uluwatu. Untuk menjaga pecanangan tersebut, maka I Bhuta Ijo pun dianugrahkan kesaktian. Danghyang Dwijendra lalu berpisah dengan Betara Masceti. Danghyang Dwijendra menuju Uluwatu, sedangkan Betara Masceti kembali ke alam sunia.
Singkat cerita, Ida Danghyang Dwijendra telah sampai di Uluwatu, sedangkan I Bhuta Ijo setia mengemban amanat menjaga dan mengkramatkan pecanangan. Semenjak itu terjadi keanehan di masyarakat Kerobokan. Siapa saja yang ke tegalan itu selalu mengalami sakit. Para tetua masyarakat Kerobokan mendatangi Ida Danghyang Dwijendra di Uluwatu untuk memohon petunjuk.
Beliau memberitahukan bahwa di sana adalah tempat Beliau bercengkrama dengan Ida Betara Masceti. Tempat itu pula dihuni oleh I Bhuta Ijo yang menjaga pecanangan. Danghyang Dwijendra menyarankan agar dibuatkan pelinggih untuk memuja Betara Masceti. Agar I Bhuta Ijo tak ngrebeda (mengganggu), maka pada Tilem Keulu laksanakan LABUH GENTUH LEMBU IRENG (caru bersaranakan sapi warna hitam). Pada Purnama Kesanga lakukan upacara Nangluk Merana bersaranakan LEMBU BIYANG BELANG KEBANGSAPI (sapi yang sudah pernah beranak serta terdapat tompel / belang di balik kaki belakang atau depan). Pada setiap pujawali, sajikan I Bhuta Ijo berupa segehan dengan ulam jejeron bawi mentah dan segehan agung dilengkapi tetabuhan tuak arak berem.
kanduksupatra.blogspot.com
Thursday, March 9, 2017
MENGAPA NATAB BIAKAON MENJELANG NYEPI ?
Natab Biakala adalah sebuah ritual yang dilakukan umat Hindu Bali pada pada sore hari / sandikala sebelum mebuwu buwu dan ngerupuk. Mebiakala sering disebut Mebiakaon, salah satu dari rangkaian panjang prosesi Ngesanga (perayaan Nyepi).
Natab Biakaon dilakukan di halaman rumah. Banten yang disiapkan adalah satu soroh biakala, prasita (prayascita), dan sesayut lara melaradan. Rangkaian upacaranya adalah: pertama natab biakaon bersaranakan tepung tawar sebagai sarana penawar (penetralisir) kekuatan negatif yang ada di dalam angga sarira (badan). Dilanjutkan dengan kekosot / kekosok yang terbuat dari pucuk daun pandan atau alang alang. Kekosot dilakukan dengan cara memutar-mutar di kedua belah telapak tangan. Maknanya adalah membersihkan kekotoran yang ada pada diri manusia secara lahir batin. Pemutaran kekosok ini juga diyakini akan memunculkan angin kencang (ngelinus) secara niskala, yang diharapkan mampu menghempaskan segala kekotoran (mala), segala penyakit (rogha), segala penderitaan (lara) yang melekat pada jasmani dan rohani.
Setelah itu diikatkan benang barak (merah) di kaki, sebagai simbol ngeseng (membakar) sehananing mala (segala kekotoran) yang ada dalam diri manusia secara lahir batin. Dilanjutkan dengan natab yakni ayunan tangan diarahkan ke kaki / ke bawah. Bermakna pelepasan mala agar kembali ke Sanghyang Ibu Pertiwi. Natab diarahkan ke kaki, karena kaki setiap saat kontak dengan pertiwi. Oleh sebab itulah natab biakaon sering disebut dengan natab batis. Natab Biakaon adalah memohon kehadapan Batara Kala agar tak diganggu sawateking bhuta. kanduksupatra.blogspot.com
Rangkaian selanjutnya adalah meprasita / meprayascita yakni memohon penyucian secara jasmani dan rohani. Didahului dengan berkumur tiga kali dengan air bungkak nyuh gading dilanjutkan minum air bungkak tiga kali. Dilanjutkan nunas tirtha prasita, yang sebelumnya dimohon pada sulinggih. Nunas tirtha prasita bersaranakan lis. Lis adalah rangkaian janur yang berbentuk senjata dewata nawa sanga, sebagai sarana untuk ngelis (mengupas) / membersihkan / menyucikan jasmani dan rohani. Akhir dari prasita adalah menyematkan sesarik / sesedep dan benang putih. Sesedep adalah simbol limpahan amerta, kesejahteraan dan keharuman / kemasyuran, sedangkan benang putih adalah simbol limpahan kesucian rohani (disematkan di kepala) dan kesucian jasmani (diikatkan di tangan). kanduksupatra.blogspot.com
Tahapan selanjutnya adalah natab Sesayut Pemiak Lara Melaradan. Sesayut ini ditatab untuk memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa sebagai Sanghyang Ibu Pertiwi agar dijauhkan dari sengsara / penderitaan berkepanjangan. Sesuai dengan namanya, Sesayut adalah simbol permohonan. Pemiak adalah pemisah atau penghindar. Lara adalah sengsara / penderitaan. Melaradan adalah sambung menyambung / berkepanjangan. Ketika natab sesayut ini, ayunan tangan diarahkan ke badan, yang maknanya adalah memohon agar jasmani dan rohani ini dijauhkan dari segala penderitaan berkepanjangan. kanduksupatra.blogspot.com
Prosesi natab biakaon diakhiri dengan ngukup, yakni kedua telapak tangan ditelungkupkan di atas asap pengasepan kemudian diusapkan ke wajah sebanyak tiga kali, ke badan (dada) tiga kali dan ke kaki tiga kali. Sebagai simbolisasi menyambut waranugraha penyucian pikrian, perkatan, dan perbuatan.
Setelah melakukan penyucian diri, barulah melakukan membuwu-buwu dan ngerupuk dalam rangka nyomia Sang Bhuta Kala. Karena hanya dalam jiwa raga yang bersih dan suci diharapkan mampu menyupat Bhuta menjadi Dewa. Harapannya pula, ketika menjalankan catur brata penyepian didasari atas kebersihan dan kesucian jasmani dan rohani. kanduksupatra.blogspot.com
Muncul pertanyaan: mengapa natab biakala dilakukan pada sandikala?. Karena sandikala adalah waktu peralihan dari siang ke malam. Pada saat ini terjadi peralihan dari kekuatan unsur-unsur kosmik di alam semesta. Sehingga waktu ini baik untuk pelepasan ma¬la (kotor) dan mengambil / memohon pemarisuda (penyucian). Demikian juga mengapa ngerupuk dilakukan pada sandikala adalah sebagai waktu yang baik untuk penyupatan bhuta menjadi dewa.
Demikian juga muncul pertanyaan, kenapa natab biakaon ini dilakukan di natah / di halaman. Semua ini adalah dalam rangka memohon kehadapan Sanghyang Ibu Pertiwi agar segala mala, roga, lara, kembali ke asalnya ke Ibu Pertiwi. Kira-kira demikian. I Jugul Punggung Nasikin Segara. Ampura.
#NyepiCaka #GamaBali #HinduBali #GamaTirtha #Biakaon
#OriginalArtkelKiBuyutDalu. kanduksupatra.blogspot.com
Thursday, March 2, 2017
OGOH-OGOH, PRODUK AWAL TAHUN 1980
Acara
ngerupuk di desa diramaikan dengan anak-anak membawa obor / prakpak keliling
desa. Kerlap kerlip nyala obor beriringan sejak sandikala sampai malam terasa
sangat meriah, diiringi dengan riuhnya suara “kulkul” / kentongan di bale banjar.
Demikian awalnya.
kandukssupatra.blogspot.com
Ketika
listrik sudah mulai merata di desa – desa di Denpasar pada awal tahun 1980 an,
maka kegiatan mengarak obor / prakpak keliling desa semakin khilangan greget,
karena jalanan sudah diterangi listrik. Untuk menyemarakkan pengerupukan maka sekeklompok
anak-anak muda membuat Lelakut (orang-orangan sawah) yang dibuat seram dengan bentuk
yang sangat sederhana. Lelakut ini diarak keliling desa dan di-ogah-ogah
(digoyang-goyang) sepanjang jalan sambil bersukaria. Entah siapa yang kemudian
menyebut lelakut yang diogah-ogah tersebut dengan OGOH-OGOH. Istilah ini dipakai
sampai sekarang. 
kanduksupatra,blogspot.com
Pada
awalnya hanya beberapa anak muda banjar di Denpasar yang membuat ogoh-ogoh. Kami
awalnya (th 1982) membuat ogoh-ogoh dari “sumi” (jerami) dengan garapan yang
masih sangat primitip. Kami dari Yangbatu (Yangbatu Kangin dan Yangbatu Kauh) waktu
itu mengarak ogoh-ogoh melewati Alun-alun (Puputan Badung), ke Suci (kawasan Jl
Hasanudin menuju Pemecutan, Jl. Gajah Mada, Catur Muka, dan kembali ke
Yangbatu. Para pengusung tak mengenakan baju saat itu.
kanduksupatra.blogspot.com
Sejalan
dengan perjalanan waktu, makin tahun makin bertambah anak – anak muda banjar
membuat ogoh-ogoh. Melihat perkembangan yang positif ini, maka awal tahun 1990
an, Peradah (pemuda Hindu Darma) bersama dengan parisada mengarahkan
perkembangan ogoh-ogoh agar memiliki makna spiritual dalam rangka Tawur Kesanga.
Diarahkanlah kreatifitas ini dengan membuat ogoh-ogoh berupa BHUTA KALA yang
bersumber dari cerita Purana, Pewayangan, Mitos masyarakat, Calonarang, dll.
yang mencerminkan “penyomia bhuta” (penetralisir kekuatan negatif).
Kini
ogoh-ogoh sangat pupuler. Anak-anak muda menggali mitos, tattwa agama Hindu, cerita
rakyat, dll. yang nantinya dituangkan dalam karya ogoh-ogoh. Teknis
penggarapannya pun semakin berkembang dan makin sempurna. Ogoh-ogoh sekarang kualitasnya
jauh lebih bagus dibandingkan tahun - tahun sebelumnya. Penggarapan tema serta
koriografinya pun semakin berkembang seperti yang kita saksikan belakangan ini.
Ogoh-ogoh
kini tidak saja menjadi ritual agama, namun juga menjadi atraksi budaya, seni,
dan atraksi wisata.
#OgohOgoh
#SejarahBudaya #GamaBali #GamaTirtha #TahunCaka
Thursday, February 23, 2017
SEGARA – WANA – GIRI Menggerakkan Cakra Semesta dari Tanah Luhur Blambangan
Titah dari Sanghyang Tuduh (perintah
Sang Maha Pencipta) atau Pituduh dari Sanghyang Titah (Ketetapan Sang Maha
Kuasa). Beliau Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur kembali segala
ciptaan. kanduksupatra.blogspot.com
Sanghyang Titah telah menetapkan
kebangkitan budi pekerti leluhur. Tak ada yang dapat menghalangi. Ketetapan
Sanghyang Parama Kawi bahwa ajaran budi pekerti leluhur adalah langgeng
(sanatana dharma). Hanya saja terkadang terbawa arus, tergulung ombak,
terhempas di pantai, namun akan berdiri kembali saat badai mereda. Ia tak akan pernah
melawan arus, ia tak akan pernah menerjang ombak, ia tak akan pernah menembus
badai, ia pun tak akan pernah menabrak batu karang. Sanatana dharma akan selalu
mencari celah - celah dalaam kesejukan. Kurang lebih demikian karakter budi
pekerti leluhur dalam keabadiannya di nusantara ini yang selanjutnya penulis
sebut dengan “Peradaban Kapur Sirih” (Peradaban Budi Pekerti Leluhur). kanduksupatra.blogspot.com
Salah satunya adalah Peradaban Kapur
Sirih di Tanah Luhur Blambangan. Tanah Luhur Blambangan dalam sejarahnya memang
otonum. Majapahit konon tak sepenuhnya dapat menguasai Blambangan. Ketika jaman
Mataram Baru pun Blambangan tersentuh. Melanjut ke jaman kolonial, Belanda juga
tak bisa menguasai Blambangan secara penuh. kanduksupatra.blogspot.com
Sampai kini Tanah Luhur Blambangan menyimpan
kekuatan magis tanah nusantara, aura supranatural masa lampau. Ketika para
leluhur terdesak di nusantara, maka di timur (purwo), di Tanah Blambangan
mereka masih merasakan kenyamanan. Di purwo masih ada tempat berlindung. Di
bawah lindungan leluhur, alam, niskala dan lindungan para Danghyang Tanah Jawa.
Sejatinya peradaban leluhur masih terpelihara
baik di sana, cuman disamarkan oleh insan - insan bijak agar tidak tampil
menonjol apalagi norak. Sekian ratus tahun berlalu, kini tak ada hujan tak ada
angin, tak ada badai, pekerti leluhur pelan - pelan menggeliat. Kebangkitan Peradaban
Kapur Sirih bagaikan angin sepoi-sepoi menghampiri setiap insan Tanah Luhur Blambangan.
Bagaikan angin semilir membisiki pesan leluhur ke dalam setiap nurani pewaris Tanah
Blambangan. Antara ada dan tiada, samar-samar tapi ada, para Danghyang mengingatkan
pretisentana tanah Jawa. Ia terjaga dalam sepi. Terbangun tanpa propaganda, bergulir
tanpa intimidasi. Tak banyak publikasi, apalagi “selfi”. Rupanya kebangkitan
ini sudah ditetapkan Sanghyang Tuduh, sehingga ia muncul tak menghiraukan
jaman. kanduksupatra.blogspot.com
Sebaran situs spiritual ini meliputi
pantai, hutan, pemukiman, sungai, danau, dan gunung. Konsep SEGARA - GUNUNG
seperti di Bali secara tak sengaja (atas titah Sanghyang Tuduh) terwujud di
Tanah Blambangan. Namun ketika melihat bentangan alam yang begitu luas di Tanah
Blambangan, maka konsep Segara Giri layak diperluas menjadi SEGARA – WANA –
GIRI. Mempertemukan kekuatan alam di laut (segara) yang membentang di timur dan
di selatan, di daratan Banyuwangi / hutan Purwo (Wana) serta kekuatan di gunung
(Giri) yakni Gunung Raung. kanduksupatra.blogspot.com
Dengan terwujudnya Segara – Wana – Giri
di Tanah Luhur Blambangan, maka kekuatan kaja – kelod – kangin - kauh / lor –
kidul – wetan - kulon / utara – selatan – timur - barat, membentuk TAPAK DARA,
membentang menjadi SWASTIKA, lalu bergerak PURWA DAKSINA (memutar sesuai dengan
arah jarum jam) menggerakkan CAKRA SEMESTA di Tanah Blambangan. Perputaran
Cakra Semesta akan memancarkan vibrasi pekerti luhur untuk keharmonisan dan
kerahyuan Jagat Blambangan, Jagat Nusantara, dan Jagat Semesta.
Semoga Segara – Wana – Giri terwujud di
tempat lain di Jawa Dwipa. Semoga rahayu, rahayu, rahayu ……. Ampura.
#SegaraGiri
#SegaraWanaGiri #HinduNusantara #PeradabanKapurSirih
#OriginalArtikelbyKiBuyutDalu
kanduksupatra.blogspot.com
Thursday, February 16, 2017
MENONTON LANGSUNG DADONG NGELIAK
kanduksupatra.blogspot.com. Ini kisah otentik
terkait masalah orang bisa ngeleak, dari daerah Sdm, Karangasem. Sebut saja
namanya Ni Luh Ayu, seorang anak kecil (7th) tinggal bersama ibu
tiri serta dadong (nenek) di sebuah
gubuk sepi jauh dari pemukiman. Luh Ayu ketika itu masih berumur sekitar tujuh
tahun.
Suatu hari Ayu melihat si dadong memegang
seutas kain. Kain itu menarik perhatian Ayu sambil mendekat. Kain itu dilihatnya
berwarna poleng (seperti sabuk). Ia tak tahu apa itu. Dadong kemudian menaruh
kain itu di tempat khhusus di dalam rumah. Kerapkali Ayu melihat dadongnya
berbicara sendiri menghadap ke kain poleng itu.Ia tak mengerti apa yang dilakukan
oleh dadong dan siapa yang diajak bicara. Ayu pun bertanya kepada dadongnya
tentang siapa yang diajak bicara. Dadongnya cuma menjawab “sing dadi, sing
dadi”.
Beberapa hari kemudian, suatu malam kain
itu dikeluarkan oleh dadong lalu di letakkan di atas meja. Tampak oleh Ayu kain
itu diajak bicara oleh dadong. Anehnya lagi kain tersebut seperti bisa berdiri
dan tampak hidup seperti ular. Ayu bertanya pada dadong, apa yang dadong
bilang, apa yang dadong lalukan?. I Dadong mengatakan “ten dados”, tak boleh,
tak boleh ikut, tak boleh tahu. kanduksupatra.blogspot.com
Beberapa saat dadong kemudian keluar
menuju halaman rumah memakai kain poleng itu. Karena saking sayangnya kepada
dadong, Ayu lalu mengikuti sambil bertanya “dadong kar kije…. dadong kar kije”
(nenek mau kemana?). Dadong tak menyahut,
langkahnya pasti dan lurus ke luar rumah. Ayu pun terus mengikuti. Ayu memang
tak bisa berpisah dari dadongnya. Sesampai di tempat tertentu, Ayu melihat
dadongnya mengurai rambut, kemudian salah satu kakinya diangkat kemudian melompat
– lompat (nengkleng). Ayu yang lugu
pun diam menunggui dadongnya melakukan
ritual yang tak ia ketahui. Setelah beberapa kali nengkleng sambil berputar,
kemudian Ayu melihat wajah dadongnya berubah menjadi membesar dan berlubang-
lubang (mungkin itu yang dikatakan orang selama ini sebagai wajah seperti umah tabuan / rumah tawon). Ayu sama
sekali tak takut, karena ia sangat sayang pada dadongnya.
Dadong yang sudah berubah wujud kemudian
meneruskan langkahnya, entah kemana. Namun Ayu tetap bertanya “dadong kar kije”.
Dadongnya yang sudah “nadi” tak menyahut. Sempat Ayu mengikuti langkah
dadongnya beberapa langkah, namun dadongnya semakin menjauh. Ayu lalu tak lagi
mengikuti dan bergegas ke rumah untuk memberi tahu ibu tirinya yang sedang
tidur. Ia membangunkan ibu tirinya dan mengatakan “biang, biang,… dadong di
sisi ngigel sambil nengkleng, muane dadi cara umah tabuan” (ibu, ibu,.. nenek
di luar sana menari-nari, mukanya seperti rumah tawon). Lalu dadong pergi entah
kemana. Demikian Ayu memberitahu ibu tirinya. kanduksupatra.blogspot.com
Ibu tirinya menyahut “ahh… ten dados.. ten dados” (ah tidak boleh…).
Maksudnya tak boleh melihat dan tak boleh mengikuti. Mungkin saja ibunya sudah tahu
dadongnya mempraktekkan ilmu pengeliakan.
Setelah mendapat jawaban demikian, Ayu
kembali mencari dadong. Ternyata dadongnya sudah ada di sana. Ia bertanya lagi,
“dadong mare kije, dadong ngudiang ?” (dadong tadi kenana?). Dadongnya diam. Ayu
hanya bisa memandangi dadongnya. Dadongnya juga asyik dengan ritualnya. kanduksupatra.blogspot.com
Ketika itu Ayu merasakan sakit perut
ingin beol (maaf). Ia kemudian beol di semak-semak tak jauh dari tempat
dadongnya ngeliak. Dadongnya tampak berjalan keliling dan sesaat hilang. Beberapa
saat kemudian muncul di Ayu yang sedang beol. Dadongnya kini sudah berubah
wujud kembali menjadi kuda berkaki tiga, dua di belakang, satu di depan.
Ayu menjadi heran dan bingung kok
dadongnya bisa kelihatan seperti kuda berkaki tiga dan mengeluarkan suara kuk,..
kukk,… kuuk,… kuk…, demikian sambil keliling. Terdengar juga suara gledug,..
gledug,… gledug… seperti suara langkah kaki kuda. Ayu mengamati dadongnya
dengan seksama. Ketika kuda lewat di depan Ayu, ternyata dari belakang tak
tampak kuda lagi. Yang kelihatan malah dadongnya sendiri yang berjalan
membungkuk tertatih-tatih memegang tongkat dengan kedua tangannya. Jadi
kelihatan seperti kuda berkaki tiga (kaki belakang adalah dua kaki dadong, satu
kaki depan adalah tongkat yang dibawanya). Dadong tampak seperti bermuka kuda,
karena saat itu dadong sambil meniup sebuah alat bunyi-bunyian, sehingga mulut
dadong kelihatan monyong. Alat bunyi ini ditiup mengeluarkan suara kuk… kuk..
kuk… Sedangkan suara gledug… gledug… tersebut adalah suara hentakan tongkat
yang dibawa oleh dadong.
kanduksupatra.blogsopt.com
Ayu yang sama sekali tak merasa takut,
cuman dia bertanya-tanya dalam hatinya, dadongnya sedang ngapain. Ia ingin
dadongnya cepat pulang. Ritual malam itu pun berakhir, dadong kembali ke rumah diikuti
Ayu. Sesampai di rumah, dadongnya menaruh kain sesabukan itu di tempat semula.
Disarankan oleh dadongnya, kalau dadong sudah keluar rumah memakai sabuk ini
malam-malam, maka tak boleh ikut. Demikian juga ibunya juga menyarankan demikian.
Pada suatu hari, penasaran dengan benda
seperti ikat pinggang poleng berisi bentol bentol itu, Ayu kemudian melihatnya di
tempat penyimpanan. Barang itu tergeletak di sana. Ia mengambil barang itu dan
melilitkannya di pinggang seperti apa yang dilakukan oleh dadongnya. Lalu ia
berjalan keluar. Ternyata Ayu merasakan dirinya berjalan melayang tanpa menyentuh
tanah, ia pun kebingungan dan takut. Ia kembali ke dalam rumah lalu membuka
ikat pinggang dan menaruhnya di tempat semula. Ia kembali merasa seperti biasa.
Hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan dadongnya. Karena merasakan keajaiban
sabuk dadongnya itu, maka ia tak berani lagi coba-coba.
Demikian kisah nyata yang di alami Ni
Luh Ayu ketika kecil. Ayu kini sudah dewasa. Ia mulai memahamai benda tersebut serta
praktek yang dilakukan oleh dadongnya. Rupanya kain poleng itu sabuk pengeliakan. Sedangkan ritual
nengkleng yang dilakukan dadongnya adalah ritual ngerehin dengan sikap masuku
tunggal (berdiri dengan satu kaki) sambil menari-nari memuja Hyang Betari
untuk mencapai puncak yang disebut nadi.
Pada saat nadi, maka bayu sabda idep
menyatu, si pelaku lalu diselimuti oleh energi sukma tertentu, sehingga yang
bersangkutan tampak seperti apa yang mereka inginkan. Ada yang diselimuti oleh
energy sukma dimana mukanya tampak berubah menyeramkan berupa bojog, celuluk,
jaran, kebo, bade, rangda, dll. Si pelaku liak asik dengan dirinya, menikmati
puncak pemujaannya (lia, lila, liang
/ senang / nikmat) dengan segala sensasinya. Yang tampak seperti jaran berkaki
tiga disebut dengan gegendu jaran,
sedangkan kerbau berkaki tiga dsebut dengan gegendu
kebo.
Menurut cerita, jarang ada orang yang
bisa dilihat oleh orang lain ketika melakukan ritual nengkleng, kecuali memang
satu murid seperguruan. Namun kejadian Ayu yang masih kecil ini termasuk aneh.
Mungkin karena Ayu dianggap masih kecil, tak tahu apa-apa, sehingga dadongnya
tak melarang Ayu menyaksikan ritual ngeliak yang ia lakukan. Mungkin dadongnya
berpikir begini “walaupun dilihat toh juga ia tak mengerti”. Bisa juga
dadongnya sengaja memperkenalkan pengeliakan sedini mungkin kepada cucunya Ayu
sebagai generasi penerus ilmu liaknya nanti.
Mungkin dadongnya juga berpikir begini “ngeliak sambil ngempu” (ngeliak
sambil mengajak cucu). Tapi dadongnya tak berpikir bahwa apa yang dilihat oleh
cucunya itu tersimpan dalam memori Ayu, lalu ketika dewasa ia akan memikirkan kembali
masa kecil dan teringat dengan apa yang ia lihat. Pada saat itulah baru ia akan
tahu tentang apa yang dilakukan oleh dadongnya terdahulu. Cucunya mulai paham
bahwa ternyata dadongnya sebagai penekun ilmu liak. Dan… ketika semua itu
disadari oleh Ayu, dadongnya sudah meninggal.
Nah
yang menjadi pertanyaan sekarang, dimanakah sabuk itu disimpan oleh dadongnya?
Siapakah yang mewarisi ilmu itu sekarang? Kepada siapakah sabuk itu diberikan?
Ni Luh Ayu merasa heran, takjub dan kadangkala lucu ketika menceritakan
pengalaman masa kecilnya itu. Sedangkan Ni Luh Ayu sampai saat ini tak pernah
menyentuh dunia liak seperti yang dilakoni oleh dadongnya terdahulu. Ia malah ngiring sesuhunan dan menjadi seorang
spiritualis. Demikian Ayu menceritakan kepada penulis.
#LiakAdalahBudaya
#MisteriBali #BudayaBali #OriginalArtikelByKiBuyutDalu
kanduksupatra.blogsopt.com
Subscribe to:
Posts (Atom)

