Friday, June 12, 2015

PURA mesti punya PURANA




KALAU TAK  INGIN GENERASI BERIKUTNYA NGAMBANG !


Pura dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata Pur yang artinya tembok, atau kota yang dikelilingi tembok, atau dapat pula berarti benteng. Jadi kata Pura dalam bahasa Sansekerta dapat diartikan sebagai kota berbenteng atau benteng saja. Dengan demikian ada yang mengatakan bahwa pura berarti suatu benteng pertahanan spiritual atau benteng agama. Karena mengingat pura adalah sebagai tempat menjalankan segala kegiatan spiritual keagamaan, sebagai tempat memperdalam ajaran agama, dan sebagai fungsi sosial di dalam masyarakat sedharma.
Dalam praktek agama Hindu, pura berarti suatu tempat berstana para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan sebagai tempat pemujaan bagi para bhakta. Sebagai tempat suci, pura tersebut sangatlah dijaga kebersihan dan kesuciannya. Pembangunannya pun dari sejak awal sudah dimulai dengan unsur-unsur kesucian. Baik itu dari mulai memilih tempat, membersihkan dan menyucikan tempat tersebut secara sekala dan niskala, dengan sarana bebantenan, pemujaan dengan mantra-mantra sang sulinggih. Pemilihan bahan yang akan digunakan untuk membangun pura tersebut juga mempertimbanggkan faktor-faktor kesucian di mana bahan tersebut tidaklah kotor atau cemar secara niskala. Termasuk di dalamnya memilih waktu yang baik atau subha dewasa dalam pembangunan pura terebut. Orang-orang atau masyarakat yang membangun pura tersebut juga melakukan yang namanya yasa kerthi yakni senantiasa menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan yang didasari atas kesucian.
Sampai akhirnya sebuah pura setelah selesai dibangun sebagai tempat suci memerlukan ritual atau upacara pembersihan dan penyucian, dan senantiasa dijaga kebersihan dan kesuciannya. Dengan demikian pura memang benar-benar sebagai tempat suci, baik itu sebagai tempat berstana Dewa-Dewi, maupun sebagai tempat melakukan hubungan rohani kehadapan Hyang Kuasa.
Sedangkan Purana adalah naskah-naskah kuno atau cerita-cerita kuno yang memuat mengenai sejarah atau asal-usul alam semesta, cerita para Dewa-Dewa, terciptanya manusia, terjadinya suatu tempat, atau terjadinya suatu benda tertentu. Memuat mengenai suatu perkembangan suatu hal atau kejadian tertentu di masa lampau. Berbicara mengenai masalah waktu atau perkembangan jaman, atau kadangkala menginformasikan suatu hal yang berkaitan dengan suatu tempat.
Seperti diketahui bahwa dalam purana ada beberapa macam golongan  purana. Ada yang digolongkan maha purana seperti Brahma Purana, Siwa Purana, Padma Purana, dan lain lain yang kesemuanya ada sekitar sembilan belas maha purana.  Kemudian ada golongan purana yang sifatnya lebih rendah yang dikenal dengan istilah Upa purana. Dan banyak lagi purana-purana kecil yang bersifat lokal dan memuat suatu hal yang bersifat khusus.
Brahma Purana yang digolongkan purana besar banyak menceritakan mengenai terjadinya alam semesta, termasuk pula sejarah atau hirarki para dewa, sejarah raja-raja penguasa dunia pada masa lampau, dan lain sebagainya. Terjadinya suatu tempat suci, dan kejadian-kejadian masa lampau yang sifatnya dapat dipakai suatu pegangan bagi masa berikutnya.
Pura dan Purana sangatlah dekat dan berkaitan maknanya dalam kehidupan agama Hindu. Terkait dengan pengertian kedua kata tersebut di atas, maka dalam perkembangan agama Hindu di Bali sebenarnya para tetua atau pembesar Hindu di Bali telah memikirkan hal tersebut. Seperti yang sering didengar atau dikenal adanya Raja Purana Besakih, dan Raja Purana Batur, ataupun purana yang dimiliki oleh pura-pura kayangan jagat yang lainnya.
Purana sebuah pura memuat mengenai sejarah pembangunan pura dan suatu hal yang melatar belakanginya. Dilengkapi dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pura tersebut seperti masyarakat pengempon, pemaksan, laba pura, pelinggih yang ada di pura tersebut, termasuk pula aci atau upacara yang diselenggarakan di pura tersebut berdasarkan waktunya dan tempat. Demikian pula Ista Dewata atau Dewa yang dipuja di tempat suci, termasuk berbagai jenis banten yang dihaturkan pada setiap pelinggih. Purana tersebut dapat pula memberikan informasi mengenai kepemangkuan di pura tersebut. Memuat berbagai macam pantangan yang harus ditaati dan berbagai macam kewajiban yang harus dilaksanakan di dalam pura tersebut. Kadangkala dilengkapi dengan berbagai kejadian bersejarah atau kejadian yang dianggap aneh yang terkait dengan keberadaan pura tersebut.
Penulisan purana sebuah pura sangatlah penting adalah untuk dapat digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan yadnya. Dapat digunakan sebagai pegangan dalam memperbaiki atau memelihara tempat suci tersebut. Demikian pula untuk kepentingan kesinambungan informasi antara generasi terdahulu dengan generasi berikutnya. Sehingga terjadi suatu aliran emosional, aliran keyakinan antara masyarakat atau leluhur terdahulu dengan generasi berikutnya.
Banyak sekali kejadian di masyarakat dewasa ini di mana sekelompok masyarakat pengempon pura tidak mengetahui mengenai hal ikhwal pura tersebut. Karena mungkin para pendahulunya tidak menulis atau membuat sebuah purana yang dapat dipakai pegangan oleh generasi berikutnya. Atau banyak pula terjadi kejadian bahwa sebuah purana yang ditulis di masa lalu, sangat disakralkan sekali, tanpa pernah ada niat untuk mengetahui apa isi tulisan, baik itu yang berupa prasasti, purana, atau pamancangah. Padahal tujuan dari penulisan prasasti, purana ataupun bentuk lainnya adalah untuk memberikan penjelasan atau petunjuk kepada generasi berikutnya. Akibat dari sikap yang demikian menyebabkan terjadi suatu terputusnya informasi. Apa yang terjadi kemudian, bahwasannya genersai berikutnya tidak mengetahui mengenai keberadaan pura bersangkutan pura.
Ada yang lebih parah lagi bahwa sebuah pura tidak diketahui secara pasti nama pura tersebut, siapa yang dipuja di sana (ista dewata), dan status dari pura tersebut. Termasuk pula aci yang diselenggarakan di sana.
Sangat disayangkan atau sangat ironis kalau sekelompok masyarakat pengempon pura tidak mengetahui mengenai hal ikhwal pura atau tempat suci mereka sendiri. Sehingga ritual atau suatu kegiatan yang dilakukan di sebuah pura hanyalah suatu hal yang gugon tuwon atau nak mula keto atau kene tampi kene jalanin. Dan apa yang dilakukan hanyalah sebuah rutinitas yang hampa tanpa makna, dan kadangkala meraba-raba. Walaupun semua keadaan ini tidak mengurangi rasa bhaktinya kehadapan betara sesuwunan atau Dewata yang dipuja di tempat suci tersebut.
Sangatlah ironis kalau kita datang ke sebuah pura di mana kita tidak mengetahui mengenai keadaan atau keberadaan pura tersebut.
          Diyakini bahwa tidak semua pura memiliki purana yang bercerita tentang pura itu sendiri dengan segala seluk beluknya. Jangankan pura yang bersifat pribadi atau masih dalam status kecil, malah pura-pura yang digolongkan dalam pura sungsungan jagat diyakini belum semua memiliki yang namanya purana. Sehingga kalau kita tidak ingin generasi berikutnya kehilangan tongkat estafet penerus dari keyakinan leluhur, maka pembuatan purana sangatlah penting untuk dilakukan.








No comments:

Post a Comment