Tuesday, June 2, 2015

Pura Maspait beda dengan Pura Majapahit ?





Pura Maspahit sampai sekarang memang masih menjadi misteri. Siapa yang dipuja di Pura Maspahit. Namun karena namanya Maspahit, kemudian banyak yang berpendapat bahwa pura Maspahit sama dengan Pura Majapahit, yakni tempat pemujaan kehadapan Ratu Majapahit di Jawa. Bisa jadi hal ini disebabkan karena kuatnya pengaruh Majapahit di tanah Bali. Tetapi kalau dikatakan demikian, seperti masih perlu dikaji lagi sebab di beberapa tempat di Denpasar misalnya, ada pura Majapahit berada dalam satu wilayah dengan Pura Maspahit. Dari kenyataan ini kemudian mengundang pertanyaan, jangan - jangan kedua pura ini adalah berbeda satu sama lain. Di satu pihak adalah Pura Majapahit yang memang sebagai tempat pemujaan kepada Ratu Majapahit di Jawa, sedangkan Pura Maspahit sendiri sebagai pemujaan tersndiri.
Dalam beberapa sumber sejarah disebutkan bawha Pura Maspahit sudah ada sejak jaman peradaban Bali Kuno, jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Seperti keberadaan pelinggih Maspahit di Pura Kentel Gumi, dimana pura tersebut dibangun atas prakarsa dari Mpu Kuturan. Demikian pula dengan pelinggih Maspahit yang ada di Pura Agung Besakih. Seperti diketahui bahwa Mpu Kuturan menjadi purohito  / bagawanta sekaligus sebagai senapati kerajaan Bali Kuno jauh sebelum kerajaan Majapahit berdiri.
Di Pura Agung Besakih, pada bagian strata III dari palemahan Besakih yakni di atas Pura Padma Tiga Penataran Besakih, terdapat sebuah meru tumpang sebelas sebagai stnana dari Ratu Maspahit atau sering disebut dengan Ratu Mas. Pelinggih ini memiliki arti dan kedudukan yang sangat penting bagi masyarakat Besakih sejak jaman dahulu dan juga bagi masyarakat di pegunungan yang disebut masyarakat pragunung. Pada jaman dahulu di meru tumpang sebelas ini masyarakat Besakih menghaturkan sesaji khsusus yang terkait dengan upacara perkawinan. Demikian juga masyarakat pragunung menghaturkan pengapih atau semacam peson – peson (iuran wajib) berupa uang kepeng yang dihaturkan kehadapan Ratu Maspait dan digunakan untuk membiayai odalan dan pemeliharaan bangunan meru. Odalan di pelingggih meru sebagai stana Ratu Maspait ini diselenggarakan pada sugi manik atau sugian jawa. Pada hari ini masyarakat Besakih menghaturkan sembah bakti di meru ini.
Walaupun masyarakat Besakih tak lagi menjalankan tradisi tua tadi di meru tumpang sebelas Linggih Ratu Maspait, namun masyarakat Desa Selat yang masih memiliki ikatan sejarah dengan Besakih masih memuja Ratu Maspait dalam sebuah ritual khusus yang diselenggarakan setelah hari Puncak Betara Turun Kabeh, bersamaan dengan ritual Desa Selat lainnya di Pura Kiduling Kreteg. Upacara pemujaan kehadapan Ratu Maspait disebut sebagai Nunas Merta Sanjiwani (memohon air suci kehidupan abadi). Dimana dalam upacara tersebut masyarakat menghaturkan sesaji yang terdiri dari nasi dilengkapi dengan sembilan jenis olahan daging babi.Sesaji tersebut dihaturkan di bale pelik / tajuk. Dalam upacara tersebut pemangku beserta dengan masyarakat memuja Ratu Maspait dan kemudian diperciki tirta / wangsuhpada (air suci) yang disebut dengan merta sanjiwani. Setelah itu masyarakat secara bersama - sama menikmati sesaji yang telah mendapatkan percikan merta sanjiwani.
Dalam pustaka Raja Purana (RP I 8.7-9, 14.3-4) disebutkan bahwa Ratu Maspait didentikkan dengan  Batara Wulan / Batara Candra / Dewi Bulan. Namun tak ada penjelasan lebih lanjut mengeni hal tersebut.
Demikian juga dengan di desa tua Trunyan dimana terdapat pelinggih yang disebut dengan Pancering Jagat. Terpisah dari komplek pelinggih itu, juga terdapat komplek pelinggih Maspahit yang diperuntukkan bagi stana Ida Ayu Maspait (Dewi), berupa sebuah bangunan yang berbentuk bale agung yang disebut dengan bale Agung Maspait. Dan ada yang menarik dan kemiripan dengan di Besakih yakni adanya upacara mepekandelan. Yakni upacara dalam rangkaian pernikahan dimana pasangan suami istri akan sembahyang di pelinggih Maspait, setelah itu barulah pasangan pengantin sah menjadi krama desa.     
Pendapat berbeda juga diberikan oleh Singin Wikarman dan Rijasa (tahun 1980) dalam edisi Pamancangah Maspahit, dimana di dalamnya dikatakan bahwa Ratu Maspahit adalah sebutan bagi roh suci Mpu Kuturan. Mereka berpendapat bahwa Ratu Maspahit dipuja di bangunan suci yang disebut dengan Menjangan Seluang.
Di Denpasar juga banyak terdapat Pura Maspahit seperti di Banjar Grenceng yang kini masuk dalam cagar budaya. Demikian juga dengan Pura Maspahit tonja yang masuk cagar budaya. Di Banjar Jematang, di Yangbatu juga terdapat pura Maspait. Selain itu banyak pula pura Maspait di masing masing desa di Denpasar atau di kabupaten lainnya di Bali. Ada yang khusus dalam bentuk pura, atau hanya berupa sebuah pelinggih dalam satu kawasan pura tertentu.
Melihat dari beberapa sumber sastra dan sejarah, sangat besar kemungkinannya bahwa Pura Maspait atau Maspahit tidak sama dengan Pura Majapahit, walaupun memiliki kemiripan nama. Mungkin karena kemiripan nama serta kuatnya pengaruh Majapahit di Bali menyebabkan peran Ratu Maspahit menjadi kabur dan dipahami sebagai Ratu Majapahit.
Dan menurut Raja Purana dan tradisi masyarakat Bali pegunungan sekitar Besakih mengindikasikan bahwa Ratu Maspait yang distanakan di meru tumpang sebelas adalah memiliki kedudukan yang sangat penting. Dimana dalam tradisi pembuatan bangunan suci pada masa Bali kuno, bahwa bangunan meru tumpang sebelas adalah bangunan untuk dewa tertinggi. Ini artinya bahwa Maspait sejatinya adalah Dewa yang kedudukannya tinggi dalam pemujaan masyarakat Bali Kuno, kalau ditinjau dari bentuk pelinggih dan tingkatan meru. Demikian juga dalam beberapa sumber sastra di atas disebutkan bahwa Maspait dinyatakan sebagai Ratu Maspait, Ida Ayu Maspait (Dewi), yang mana penyebutan ini lebih condong kepada aspek predana atau sakti yang memiliki fungsi khusus dan penting dalam kehidupan manusia dan alam semesta.
Demikian juga dengan ritual pemujaan yang dilakukan terhadap Ratu Maspait yang dilakukan adalah untuk memohon tirtha amerta sanjiwani. Ini artinya bahwa Ratu Maspait adalah dewa tertinggi yang memberikan anugrah kehidupan yang abadi, dimana simbol dari anugrahnya adalah tirtha amerta sanjiwani. Dalam mitologi dewa dewa, hanya dewa dengan kedudukan tinggi yang berwenang menganugrahkan Tirtha Amerta Sanjiwani.
Menilik dari uraian dan bukti sejarah, adat, serta - sastra di atas, maka dapat diambil suatu pendekatan kesimpulan bahwa Ratu Maspait adalah salah satu nama Dewa Tertinggi dalam tradisi Hindu dalam peradaban Bali Kuno. Pura Maspait adalah ura sebagai tempat pemujaan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabawa sebagai Ratu Maspait yakni Dewa penganugrah amerta sanjiwani atau kehidupan abadi. Artinya pula bahwa Pura Maspait adalah pemujaan kehadapan Dewa yang memberi anugrah kehidupan, kesejahteran, kemakmuran dan kemulyaan di dunia.
Ditegaskan di sini bahwa Pura Maspait atau pelinggih bukanlah pemujaan untuk Ratu di Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Namun tak dipungkiri pula memang ada Pura Majapahit yang ditujukan untuk memuja para penguasa Kerajaan Majapahit terdahulu atau ditujukan bagi para leluhur di tanah Jawa terdahulu. Artinya: Pura Maspait tidak sama dengan Pura Majapahit. 

No comments:

Post a Comment