kanduksupatra.blogspot.com. Diceritakan dua bersaudara kakak beradik bernama Kebo Milir dan Kebo Ngraweg. Keduanya belum mengenal etika, budhi pekerti, sehingga mereka selalu membuat onar, sekaligus mereka kurang disukai oleh saudara dan keluarga. Pada suatu hari mereka meninggalkan wilayah Kediri menuju pertapaan Mandhalangu atas petunjuk dari seorang siswa pertapaan tersebut yang bernama Hulukembang. Di sana mereka berdua diterima menjadi murid, lalu berganti nama: Kebo Milir menjadi Gagaking, sedangkan Kebo Ngraweg menjadi Bubuksah.
Mereka berguru pada seorang pertapa suci, belajar tentang ajaran rahasia keabadian. Mereka juga belajar kepada Sang Jugulwatu, salah seorang putra sang mahamuni yang telah berhasil dalam ujian pantangan-pantangan. Dikatakan berbadan gaib meski usianya masih muda, ia tidak ragu-ragu jika akan menemui ajalnya. Diceritakan pada suatu hari, lebih sepekan badan beliau seperti mati tidak ada yang mengetahui kerahasiaannya, tubuhnya menebar keharuman “pati nira keh wong gawok dening anilih tan katon”. Wafat beliau sangat gaib oleh karena badan beliau tidak terlihat. kanduksupatra.blogspot.com

Sebelum membuat tempat pertapaan, mereka menuju ke sebuah pancuran air. Dilihatlah sebuah patung yang menceritakan lakon Arjuna Tapa. Saat Arjuna melaksanakan tapa yang hebat, meskipun digoda oleh bidadari cantik Supraba, Gagarmayang, dan Tilotama, tidak mengurungkan tapa semadinya. kanduksupatra.blogspot.com
Dikisahkan Gagaking dan Bubuksah melakukan tapa berata dengan cara yang berbeda. Gagaking menjalankan tapa dengan TIDAK MEMAKAN DAGING dan segala yang berasal dari hewani, hanya tumbuhan yang dianggap makanan suci. Sedangkan Bubuksah sebaliknya, dia melakukan tapa brata dengan tekun namun aneh, SEGALA JENIS MAKANAN DIMAKAN. Sesuai dengan janjinya, apapun yang terkena jebag / jebakan yang dipasangnya akan dimakan habis, tidak saja kancil, tikus, dan binatang lainnya juga dimakannya. Diolah menjadi makanan sambil menyanyikan kidung-kidung suci, minum air nira (tuak). Bubuksah sangat ketat dalam menjalankan tapa bratanya. Bubuksah tidak kalah mengagumkan dalam menjalankan tapa bratanya, siang dan malam selalu ingat dengan makanannya, karena masakan yang dibuat harus habis, tidak tersisa sedikitpun. Ini disebut berawa. kanduksupatra.blogspot.com
Dalam pertapaannya, pada suatu hari mereka terlibat diskusi yang hangat. Gagaking memberi tahu kepada adiknya “adinda, apakah yang adinda lalukan itu adalah suci? kenapa kita tidak menjalankan tapa brata yang sama saja dengan memakan makanan yang suci?”.
Bubuksah rupanya tetap teguh dengan pendirian tapa bratanya, meski sang kakak menyatakan ajarannya keliru dan tidak akan dapat mencapai kesempurnaan batin. Bubuksah tetap menjalankan tapa bratanya dengan tekun. kanduksupatra.blogspot.com
Dikisahkan pada suatu hari Betara Guru (Dewa Siwa) mendapatkan laporan dari dewa Indra bahwa ada dua orang manusia yang melakukan tapa untuk mendapatkan surga. Atas laporan tersebut Dewa Siwa hendak menguji keteguhan dalam menjalankan tapa brata. Diutuslah Sang Kala Wijaya untuk menguji kedua pertapa itu. Menguji siapa yang telah mencapai tyaga pati yakni kepasrahan atau kesiapan dalam menyambut kematian.

Mendengar perkataan Gagaking, macan itu lalu menghampiri Bubuksah untuk memangsanya. Melihat kehadiran dari macan putih datang untuk memangsanya, Bubuksah yang pemberani dan siap meskipun ajal menjemputnya. Dia meminta macan itu menunggu sebentar, karena ia akan membersihkan badannya dan melakukan asuci laksana. Setelah itu Bubuksah mempersilahkan macan itu untuk memangsanya. kanduksupatra.blogspot.com

Mendengar perkataan Bubuksah, macan putih yang garang itu mengurungkan niatnya, lalu mengatakan bahwa dirinya diutus oleh Betara Guru untuk menguji tapa mereka. Singkat cerita, atas tapa dari kedua bersaudara itu, macan putih lalu mengajak mereka ke suargaloka menghadap Betara Guru. Bubuksah menunggangi harimau putih itu, sedangkan Gagaking menggelantung di ekornya. Keduanya mencapai kesempurnaan, keduanya mendapatkan sorganya masing-masing. Gagaking mendapatkan sorga tingkat lima sedangkan Bubuksah mendapatkan sorga tingkat tujuh (sorga tertinggi). Demikian ceritanya. kanduksupatra.blogspot.com
Kutipan Lontar Bubuksah ini menjadi renungan penulis, karena hakekat dari pencapaian kebebasan abadi adalah ketulusan, kepasrahan (LASCARYA) dan ketidakterikatan terhadap hal-hal duniawi. Jaman sekarang, laku spiritual yang dijalankan kerapkali atas motif duniawi, popularitas, citra diri, (mohon maaf) kerapkali terselubung motif bisnis, dll. Masih kuat lekatan ego dan kama duniawi. kanduksupatra.blogspot.com

Lontar Bubuksah ditulis pada Wadoprana Aburih, wuku Kurantil, pada hari kesembilan bulan terang, menjelang bulan (sasih) Jyesta (bulan sebelas) tahun saka 1619. Kemudian di gubah pada Menail Umanis, bulan Kartika, hari ke dua belas bulan gelap tahun saka 1811. kanduksupatra.blogspot.com #OriginalArtikelByKanduk
No comments:
Post a Comment