Friday, January 30, 2015

Dongkang dan Desti



Konon katanya, dongkang (kodok darat yang kulitnya kasar), memiliki kepekaan yang tinggi dalam ilmu leak. Maksudnya si dongkang bukan sebagai balian sakti atau spiritualis. Maksudnya bahwa si dongkang tersebut memilki kepekaan atau iritabilita yang tinggi tentang perubahan aura di sekitarnya. Mungkin saja si dongkang memiliki antena atau kulitnya yang kasar tersebut mampu mendeteksi perubahan lingkungan sekitarnya. Kalau ada perubahan yang mungkin tak normal, maka ia akan bersuara. Korok … korokkkkk… Cerita ini berkembang dari jaman ke jaman dari awaktu ke waktu secara turun temurun, di kalangan masyarakat Bali. Sehingga ada keyakinan bahwa dongkang memiliki kemampuan untuk melihat leak.
Ngomong tentang dongkang, I Made Bibih Lambih punya cerita tentang ini. Suatu malam ia tidur di rumahnya. Sebelum tertidur ia seperti biasa nonton tipi sampai tengah malam. Ia masuk ke kamar tidur lalu. Tidurnya tak begitu nyenyak alias ngeramangsawa, menerawang tak karwan. Matanya ngantuk, tetapi pikirannya masih bekerja, artinya seperti setengah tidur. Dalam situasi yang demikian, dibolak balik bantalnya agar bisa tidur (demikian kata orang ditirunya). Namun tetap saja ia masih gelisah. Sampai akhirnya pada suatu saat merrasakan malam begitu kelam, tak ada suara apa sedikitpun. Suasananya senyap. Ia lalu mendengar suara dongkang di luar korok korok, kororokkkk…. Ia teringat dengan cerita bapaknya dulu, bahwa kalau tengah malam ada dongkang berbunyi, apalagi pada musim kering, pastilah dongkang itu melihat sesuatu. Dongkang tersebut pastilah melihat atau merasakan ada leak di dekatnya.
Ingat dengan cerita tersebut, I Made Bibih Lambih menjadi teringat dan terbayang, pastilah di rumahya sedang ada leak. Pastilah ada rangda, celuluk, bojog, atau yang lainnya di halaman rumahnya. Ihhhh takuuttttt…. Demikian perasaan I Made Bibih Lambih. Ia mencoba untuk melihat ke luar melalui kaca jendela rumahnya, namun tak terlihat apa-apa. Ia berpikir mungkin saja leak tersebut sedang bersembunyi atau ada di bagian lain dari sudut rumahnya sehingag tak terlihat dari tempatnya mengintip. Demikian I Made Bibih Lambih secara tak sengaja menakut-nakuti dirinya sendiri. Makin takutlah ia, sedangkan dongkang tersebut juga tetap berbunyi. Tak hanya satu, ada lagi dongkang menyahut di bagian lain dari sudut pekarangan rumahnya.  I Made Bibih Lambih menjadi semakin takut, malah ia berpikir leak yang ada di rumahnya lebih dari satu. Ia berpikir rumahnya sedang dikepung leak. Ia mencoa untuk membangunkan kakaknya yang sedang terlelap tidur di kamar sebelah. Tak lama kemudian kakaknya I Wayan Sarwa Medengen terbangun. Kakaknya ini memang suka dengan hal yang berbau magis, mistik dan suka berguru kepada orang untuk belajar kanuragan. Ia juga banyak banyak punya jimat-jimat sebagai penangkal bahaya. Oleh karena ceritanya seputar itu-itu saja, maka namanya dibekang ditambahkan oleh orang-orang dengan sebutan “medengen” yang artinya gawat genting dan serem. Padahal nama aslinya I Wayan Sarwa.
Ketika terbangun, ia bersama adiknya mengamati situasi rumah. Mendengar suara krokkk krokkk, pikiran I Wayan Sarwa sudah melayang serem dan mistik. I Wayan Sarwa Medengen teringat dengan “bekal” (jimat) yang diberikan oleh gurunya ketika berguru ke Karangasem. Pesan gurunya “kalau ada leak, pakailah sabuk ini dan ucapkan mantra selengkapnya”.
Segera ia pergi ke kamarnya untuk mengenakan sabuk tersebut, sambil mengucapkan mantra-mantra yang diajarkan oleh gurunya terdahulu. Sabuk dililitkan di pinggang, bungkung (cincin) dengan permata yang cukup besar dikenakannya di jari tengah kanan dan kiri, warna merah dan hitam. Artinya sebagai penempur leak menggunakan kekuatan Brahma dan Wisnu. Demikian katanya. Ia teringat lagi, kalau ia masih punya benda bertuah lainnya yakni, sebuah keris kecil diselipkan di pinggangnya yang telah terlilit sabuk. Belum yakin dengan kekuatan dari benda-benda tersebut, ia masih mempunyai simpanan berupa kayu bertuah yang konon diambil dari daerah Bali bagian barat yang sudah di-pasupati.
Barulah I Wayan Sarwa Medengen merasa yakin dengan dirinya tak akan terkena pengaruh leak yang sedang mengepung  rumahnya. Bagaimana dengan adiknya? I Made Bibih Lambih tak begitu suka dengan yang namanya jimat-jimat. Ia hanya mengamati dari dalam rumahnya, sambil menguap ngantuk. Ia tak seberani kakaknya dan tak tertarik dunia aeng seperti kakaknya.
Dengan gagah berani dan yakin, I Wayan Sarwa Medengen keluar rumah untuk mencari tahu, dan kalau mungkin bertempur dengan leak yang sedang berada di pekaranagn rumahnya. Ia keluar rumah dengan keyakinan penuh, sambil membawa senter kecil. Ia mengendap-endap sambil mengamati dan mendekat ke sumber bunyi dongkang tersebut, sambil membayangkan kira-kira bagaimana rupa leak yang akan ia hadapi. Dalam hatinya ia berpikir, kalau tampak akan ia bakar dengan jimat-jimat yang sudah memenuhi badannya.
Suara donkang itu berada di sekitar pohon mangga di halaman rumahnya. Ia mendekat ke sana sambil waspada. Suara dongkang makin dekat. Dengan kewaspadaan penuh, ia sudah berada di bawah pohon mangga. Tiba-tiba ada sesuatu yang menerpa punggungnya dan terasa dingin. I Wayan Sarwa Medengen sedikit terkejut. Diraba punggungnya, terasa ada sesuatu yang lengket. Rupanya leak telah menyerang dirinya dari belakang. Ia mulai semakin waspada dan tegang. Sedangkan suara dongkang sudah tak berbunyi lagi. Dalam hatinya ia berbisik “perlihatkan dirimu leak, akan kubakar dirimu. Berani berani mengganggu ke rumahku”. Sekejap kemudian tiba-tiba ada serangan kedua mengenai kepalanya. Yang ini agak encer dan terasa agak hangat.
Si Wayan Sarwa Medengen mulai mengayunkan tongkat saktinya, dengan harapan leak yang tak kelihatan tersebut terkena dengan sendirinya. Sekali ayun, tongkat saktinya mengeluarkan suara wuussssss….. Suara tongkat tersebut terdengar agak keras karena malam hari. Akibat ayunan tongkat tersebut, tiba-tiba di atas pohon mangga berkelebat beberapa bayangan terbang menuju ke kegelapan malam. Si Wayan semakin siaga dan mencoba untuk menyenter ke arah dahan pohon.
Di cabang pohon mangga tersebut ternyata ada yang bertengger berbulu hitam dan putih. Bukan leak seperti dalam pikirannya, namun beberapa ekor ayam manuk dan pengina yang sedang tidur. Rupanya yang berkelebat tadi adalah dua ekor ayam yang kaget dan terbang tak menentu ke arah kegelapan malam. Dan sialnya lagi, ternyata serangan lengket dingin yang mengenai punggungnya adalah tain blek (tai ayam hitam bau) yang dikeluarkan oleh ayam-ayam itu. Termasuk serangan hangat encer yang menerpa kepalanya adalah tai ayam yang baru keluar dari pantat ayam betina yang terbang tadi. Sial…. Sial…. memang sial. Sambil mangkel ia kembali ke tempat semula dengan kesal, lampu senternya dalam keadaan hidup. Secara tak sengaja lalu ia melihat dongkang sebanyak empat ekor sedang betumpuk-tumpuk. Waahhhh.… rupanya dongkang ini ribut bukannya ngetarang leak (memberitahu ada leak), tapi ia bersuka ria sambil menikmati musim kawinnya yang indah di malam hari. Sialaan……, malah aku mengeluarkan segala macam jimat. Lebih kesalnya lagi bahwa jimat yang ia pakai itu tak bisa melindunginya dari serangan kotoran ayam tadi. Demikian I Wayan ngomel dengan rasa kesal.
Kisah berlanjut. Suaranya yang berisik di tengah malam, menyebabkan anjingnya terbangun dan menggongong ngawur akibat terkejut karena kepupungan. Semakin kesal ia dengan anjing miliknya sendiri yang menggonggong majikannya di tengah malam. I Wayan Sarwa Medengen menjadi semakin kesal sambil berkata “sajan cicing sing nawang bo” (dasar anjing tak bisa mencium bau majikannya). Karena saking kesalnya digonggong anjing, akhirnya tongkat sakti yang dibawanya itu digunakan untuk ngelempag (memukul) anjing piaraannya. Kaiiiiiiiiiing…… kaing…. kaing…   demikian terdengar di kegelapan malam. Anjing jenis kacang yang bernama I Sansiro Moderano kontan menjauh dari majikannya sambil menggongong kembali.
Saking kesalnya I Wayan, ia menjadi emosi tak karuan. Tongkat saktinya hanya bertuah untuk memukul anjing. Ia kembali ke kamarnya sambil memeriksa badannya yang bau karena pejunin siap (kena tai ayam). Ia membuka semua jimat-jimat saktinya. Lalu ada yang kurang. Keris kecil sakti yang ia selipkan dipinggangnya ternyata tak ada.
Ia bergegas dengan senternya ke tempat “pertempuran sengit” tadi. Senter disenter, akhirnya keris kecil tersebut ketemu dan terjatuh dibawah penyemuhan baju (jemuran baju). “Badah, sialan lagi. Keris saktiku jadi leteh karena jatuh di tempat yang kotor” demikian kata I Wayan Sarwa Medengen dalam hatinya. Rupanya keris sakti itu terjatuh saat ia ngelempag cicing tadi.
Adiknya I Made Bibih Lambih lalu bertanya “gemana bli, ketemu leaknya?” 
Segera dijawab “Ketemu. Leaknya bukan celuluk atau bojog. Tapi leaknya berupa ayam, dongkang dan anjing”.
Adiknya tertawa dalam hati sambil berkata “biarkan semuanya berjalan secara alami, jangan semua dikira leak. Begitulah kalau berpikir terlalu mistik. Tapi kalau pun toh itu leak, biarkan ia menikmati dirinya menjadi leak. Toh juga leak itu manusia. Haaaaaa…… “.


No comments:

Post a Comment