Thursday, January 29, 2015

MAKNA UPACARA NGANGKID / MESAKAPAN KE PASIH



Upacara ngangkid pada prinsipnya adalah upacara penebusan. Yakni penebusan hutang-hutang pada kehidupan terdahulu, khususnya hutang dari mereka yang mantuk mepewayangan atau yang bereinkarnasi. Disebut ngangkid, karena setelah menghaturkan penebusan, lalu sang dumadi mengambil / mengangkat (disebut ngangkid) sebuah benda (batu / kayu) dari dasar pantai atau sungai), sebagai simbol dari mengangkat semua karmawasana baik dari sang atma manumadi. Kemudian melepas jukung adalah simbol dari melepas semua karmawasana buruk dari sang dumadi.
          Dari semua proses penebusan dan pengangkatan serta pelepasan ini, maka terjadi penyatuan yang sempurna antara raga atau badan kasar dengan atma sang dumadi. Proses penyatuan inilah yang disebut dengan mesakapan. Karena tempatnya di pasih atau di sumber air, maka disebut dengan mesakapan ke pasih.
          Kenapa di pasih? Ini terkait dengan proses kehidupan terdahulu berakhir di laut yakni ketika upacara ngaben atau memukur, semua berakhir di pasih atau laut. Sehingga untuk proses memulai atau penjemputan pun dilakukan di pasih.
      Dengan penyatuan yang sempurna ini, diharapkan mereka yang melangsungkan upacara mesakapan ke pasih terbebas dari ikatan / beban / hutang-hutang kehidupan masa lalu yang kerapkali mempengaruhi kehidupan saat ini. Sebab sering anak-anak atau sang mantuk mepewayanagn menjadi memiut, atau berlaku tak wajar, bandel, atau kerapkali berlaku hal-hal yang di luar nalar kita. Artinya tujuan akhir dari upacara ini adalah terjadinya keharmonisan kehidupan lahir batin sang mantuk mepewayangan dalam menjalankan kehidupan di dunia sesuai dengan karmanya.
            Intinya, mesakapan ke pasih adalah penebus hutang panumadian, untuk keharmonisan kehidupan.

                 Catatan: upacara ini sejatinya merupakan rangkaian acara pawetuan atau otonan. Sejatinya semua orang sudah melakukan ritual ini pada saat otonan pertama yakni dilakukan di kali dan membawa banten ke pasih. Namun dalam kondisi tertentu di rumah tangga, upacara ini dilakukan lagi secara khusus dalam keluarga besar. Dan dalam perjalanan waktu, beberapa keluarga di gumi badung (Kota Denpasar dan Kabupaten Badung) mentradisikan upacara ini dalam keluarganya. Sehingga upacara mesakapan ke pasih ini kelihatannya cuman ada di Denpasar dan Badung.

                  Tulisan puniki kadi nasikin segara. Kirang langkung ampura. Kanduk Supatra

No comments:

Post a Comment