Sunday, May 10, 2015

RATU PENYARIKAN “Dewa Banjar dan Dewa Kantor”




Bagawan Penyarikan atau Batara Penyarikan adalah putra Sanghyang Parma, yang berarti cucu Sanghyang Taya. (Sanghyang Taya adalah adik dari Sanghyang Wenang). Betara Penyarikan mempunyai saudara kandung bernama Bathara Darma yang dikenal sebagai dewa keadilan. Bathara Bagawan Panyarikan mempunyai suatu keahlian yang tidak dimiliki para dewa lainnya, yaitu tulisannya sangat bagus serta pandai menulis cepat.
Bathara Penyarikan memiliki daya ingatan yang sangat tajam. Apa saja yang pernah didengar dan dilihatnya akan selalu diingatnya dengan baik. Selain itu ia juga pandai menyimpan rahasia. Oleh Bathara Guru, Bathara Bagawan Panyarikan ditugaskankan sebagai juru tulis kadewatan. Mencatat dan mendokumentasikan semua hasil persidangan dan keputusan yang  telah diambil para dewa.
Menjelang pecah perang Bharatayudha di Tegal Kurusetra antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, Bathara Bagawan Panyarikan mempunyai tugas dan peranan yang sangat penting. Bersama Bathara Kuwera, ia ditugaskan mencatat hasil sidang para dewa yang memutuskan lawan-lawan yang akan saling berhadapan dalam perang Bharatayuda, serta rahasia kematian setiap senapati perang, baik yang berpihak pada keluarga Pandawa maupun berpihak pada keluarga Kurawa. Sebagaimana para dewa lainnya, karena berwujud akyan / badan halus, maka hidup  Bathara Panyarikan bersifat abadi.
Bagawan Penyarikan di Bali dikenal sebagai Dewa Pengayom organisasi, karena beliau adalah Dewa Adaministrator yang Agung. Beliau dipuja atau distanakan di banjar-banjar dengan sebutan Ratu Bagawan Penyarikan, sebagai dewa organisasi, dalam hal ini banjar. Demikian juga beliau distanakan di Bale Agung sebagai dewa organisasi pada tingkat desa. Dan semestinya Ratu Bagawan Penyarikan juga distanakan di setiap kantor pemerintahan di Bali, sebagai pemujaan terhadap Sekretaris Jendral Kedewatan yang bergelar Ratu Bagawan Penyarikan. Sementara sekarang semua kantor pemerintahan menstanakan Padmasana. Padahal sejatinya Padmasana adalah linggih / stana Ida Sanghyang Widhi yang maha “nir” atau maha “acintya”, tak terpikirkan atau tak terjangkau oleh alam pikiran dan logika manusia. Mestinya untuk di kantor pemerintah dibangun pelinggih Gedong Bebaturan sebagai stana Ratu Bagawan Penyarikan, karena kantor adalah sebagai lembaga fungsional dan lembaga administrasi serta birokrasi. Dan status dari pura di gedung perkantoran adalah tergolong Pura Swagina atau pura fungsional, sebagaimana halnya dengan pura melanting di pasar, serta pura subak di sawah. Namun entah darimana mulai, serta siapa yang memulai, sehingga pura kantor adalah Padmasana. Artinya, membangun gedong penyarikan di sebuah kantor adalah untuk memuja Hyang Wdhi dalam aspek sserta fungsi administrasi dan birokrasi. Maka untuk itu dewanya adalah Ratu Bagawan Penyarikan.
Ratu Bagawan Penyarikan distanakan di pelinggih berbentuk gedong batu bebaturan. Dilengkapi dengan wastra poleng, karena beliau adalah sebagai pelaksana tugas administrasi kedewatan.

Celuluk Dadong Rerod







          I Joblar manusa tiwas nektek (I Joblar manusia terlalu miskin) dengan tanggungan istri, anak banyak, membuatnya menjadi seorang kepala keluarga sarat akan beban. Untuk menghidupi keluarganya, I Joblar hanyalah mengandalkan dari nguyeng setir (sopir) bemo jurusan Kreneng-Sanur PP. Itu yang ia lakuakan dari dahulu sampai sekarang. Dahulu ketika jaman tidak semaju sekarang, sopir jurusan Sanur-Kreneng memang takjir, karena banjir penumpang. Namun apa yang terjadi saat ini, semua orang sudah punya sepeda motor maupun mobil sehingga jarang yang mau naik bemo. Kalau ada orang yang mau naik bemo itu karena kepepet dan jeleknya lagi, bemo yang ditumpangi tersebuit dipilih yang agak baru, berisi musik hiburan. Sial sekali bagi I Joblar yang hanya nyetir bemo brengsek milik bosnya.
          Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa ia kerjakan untuk menghidupi keluarganya. Kadangkala kalau hari baik ia dapat setoran lumayan, tapi kalau hari lagi apes bisa-bisa norok uang bensin alias tidak bawa uang pulang. Begitulah keseharian yang dialami oleh I Joblar sebagai sopir bemo jurusan Kreneng-Sanur.
          Seperti biasa, sopir bemo sekarang jarang ada yang mau ngantre di terminal, soalnya ngantrenya lama dan seringkali tidak dapat setoran cukup. Banyak terminal bayangan (tempat nongkrong) dimana sering ada penumpang.
          Diceritakan I Joblar bersama teman-teman sejawatnya nongkrong di sebuah ruas jalan di Denpasar. Seperti siang hari, sambil menunggu anak sekolah atau pegawai pulang kantor, ia bersama dengan temannya mengisi waktu dengan bermain domino. Ada yang ngobrol dan ada juga yang membawa paito, ngerumus nomor jitu yang kiranya akan keluar pada hari itu. I Joblar sejatinya jarang membeli togel. Tapi entah kenapa ketika itu I Joblar tertarik dengan rumus yang disampaikan oleh temannya yang konon rumusnya tersebut jitu dan sudah beberapa kali ngukup alias tembus, dapat uang banyak. Ia tetarik dengan nomor tersebut kemudian membeli dengan jumlah yang banyak. I Joblar tembak tiga angka, empat angka dan dua angka, sehingga ia membeli nomor sebanyak seratus ribu. Tumben ia membeli nomor banyak sebegitu karena saking yakinnya dengan harapan ia akan mendapat banyak uang dan menjadi orang kaya mendadak.
          Diceritakan menjelang malam pengumuman nomor akan segera mulai. I Joblar dengan perasaan degdegan menanti kabar nomor berapa yang keluar hari itu. Kemudian datang seorang temannya yang juga seorang pedagang nomor dan I Joblar menanyakan nomor keluar. Ternyata nomor yang keluar sama sekali tidak ada mengena dengan nomor yang dibeli oleh I Joblar. I Joblar mengumpat-ngumpat sendirian dan menyesal. Yang menjadi semakin berat hatinya adalah uang yang dipakai untuk membeli nomor tersebut adalah uang titipan dari mertuanya diberikan kepada anaknya untuk uang sekolah besok hari. Keringat basahnya mulai keluar saat itu.
          Brengsek…..brengsekkk……... demikian katanya dalam hati sambil duduk di bawah pohon mangga yang tidak pernah berbuah di depan rumahnya. Ia mulai berpikir, bagaimana caranya untuk mendapatkan uang agar anaknya bisa bayar sekolah. Dan satunya lagi ia merasa malu kalau hal ini diketahui oleh mertuanya yang sudah berbaik hati membantunya.
          Memang yang namanya kepepet, pastilah pikiran yang bukan-bukan akan keluar. I Joblar mempunyai ide yang mungkin jarang orang mempraktekkannya. Ia nanti malam akan mencoba untuk nunas nomor ke setra atau pemuwunan. Dengan pasrah ia datang tengah malam ke setra dimana tak seorang pun yang tahu. I Joblar duduk di pemuwunan bersila, mengucapkan kata seadanya kepada penguasa kuburan. Ia bilang begini “uduh Ratu Betara sane melinggih driki, tyang damuh paduka Betara tiwas nektek, magda sueca ida ngicenang tityang nomor togel sane jitu empat angka, jagi tumbas titiang benjang. Mangda tiang dados anak sugih nadak, tur nyidaang mayah utang”. Demikianlah kasarnya mantra permohonan I Joblar yang polos di pemuwunan malam itu.
          Setelah beberapa lama ia mengucapkan itu, tak ada tanda-tanda ia akan mendapatkan anugrah, ia mulai kesal dan dalam hatinya berkata. “Peh Betara di sini pripit”(peh… betara di sini pelit). Demikian dalam hatinya mulai kesal.
          Ia hendak menyelesaikan semedinya, karena tidak ada tanda-tanda apa. Namun ketika ia mau mengangkat pantatnya dari duduknya, tiba-tiba ada pusaran angin di sekitar tempat tersebut, kemudian dalam sekejap tampak sinar putih kemerahan muncul di hadapan I Joblar. I Joblar yang sudah pasrah diam saja mengamati apa yang akan terjadi. Kemudian tiba-tiba muncul sosok seperti celuluk dalam drama calonarang kepalanya botak rambut panjang, gigi renggah. I Joblar segera mencakupkan tangan menghaturkan sembah serta memohon agar apa yang menjadi permintaannya segera dikabulkan. Sosok celuluk itu berkata hehhh…..hehh…… hehheheh…… apa alih cai mai Blar? Demikian celuluk itu berkata seperti manusia. I Joblar berkata…. Beh…. ratu betara pura-pura tak mengerti aja. Kan sudah saya bilang tadi mau mita nomor!.
          Mendengar permintaan I Joblar, celuluk tersebut kemudian tertawa cengengesan.  Hahaaaaaaaaaaa…….. cai nagih nomor togel, kaden kai cai lakar melajah ngeleak”. (kamu minta nomor togel, aku kira kamu mau belajar ngeleak?)
          “Kai tusing nyidaang ngemang cai nomor. Kai sing ja demen teken nomor togel. Kai sing ja Betara. Kai sing ja len tuah Dadong Rerod pisagan caine. Haha….ha..” (Aku tidak bisa memberimu nomor togel yang jitu, soalnya aku bukan penggemar togel. Lagian aku bukan betara, aku adalah Dadong Rerod tetanggamu. Hahaha……….haha…..)
          Demikian celuluk itu tertawa cekikikan sambil sekejap menghilang dari pandangan mata I Joblar. I Joblar menjadi kesal hatinya, ketika semedinya nunas nomor diganggu oleh leak celuluk Dadong Rerod. Dan hari sudah mulai subuh, ia pulang dengan kesal tanpa mendapatkan apa-apa.
          Dengan perasaan kesal dan sedikit loyo, I Joblar kembali bangun pagi untuk menyetir bemonya menuju terminal Kreneng-Sanur. Sambil melamun nyetir mobil teringat dengan kejadian tadi malam dan teringat dengan uang sekolah anaknya yang ia pakai beli nomor. Dalam kegalauan hatinya tiba-tiba saja di depan terlihat ada manusia putih dengan hidung mancung mengacungkan tangannya nyetop bemonya. Empat orang touris menyetop bemonya dan berkata “I want to go to Nusa Dua. Could you help me?” Demikian tourits tersebut berkata, yang hanya dijawab yes oleh I Joblar. Ia tak mengerti apa yang dikatakan touris itu. Karena mendengar Nusa Dua, ia menganggap bahwa touris tersebut minta diantar ke Nusa Dua. Kemudian tourist tersebut naik ke bemonya dan diantar ke Nusa Dua. Di sepanjang perjalanan tourist tersebut menyebut-nyebut nama Putri Bali Hotel. I Joblar berpikir bahwa tujuannya adalah Hotel Putri Bali. Bemonya pun meluncur ke Hotel Putri Bali. Tourist yang diantar tersebut merasa senang karena telah sampai di tujuan yang dimaksud. Kemudian tourist tersebut menyodorkan sejumlah uang kepada I Joblar dan bilang tengkyu sambil melambaikan tangan menuju hotel tersebut. Ternyata jumlah uang yang diberikan tourist itu sebanyak tiga ratus ribu rupiah. Sungguh terkejut I Joblar. Antara senang dan terharu hatinya. Ia segera pulang dengan lega dan terharu. Mungkin ini anugrah dari Ida Betara pemuwunan tadi malam. Bukan nomor yang diberi tetapi uang tunai. Dalam hatinya I Joblar berkata, tidak akan memberi nomor lagi, dan akan selalu bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.  Kemudian ketika sampai di depan rumahnya mau memarkir bemo, tiba-tiba saja Dadong Rerod menyapanya.
          I Joblar jadi teringat lagi dengan peristiwa kemarin malam dengan Celuluk Dadong Rerod. Dadong Rerod berkata “Blar…. de ngorta unduk ane ibi sanja apang sing dadong lek” (Joblar jangan menceritakan peristiwa kemarin malam agar Dadong tidak malu).
          Disahut oleh I Joblar  “tenang gen dong. Cang sing ja lakar ngorta. Keto masih apang dadong tusing ngorta teken unduk icange di semane ibi sanja”. (Tenang saja nek, saya tak akan cerita kepada orang lain. Demikian pula agar nenek tak menceritakan apa yang saya lalukan kemarin malam di kuburan).
Demikian kedua oknum tersebut menjalin kesepakatan rahasia dan keduanya saling mengangguk, dan berlalu.

Friday, April 17, 2015

Menonton Langsung Dadong Ngeliak





Ini salah satu kisah langsung dan otentik yang pernah diterima penulis terkait dengan masalah orang bisa ngeliak. Ada suatu cerita dari daerah Sidemen Karangasem. Sebut saja namanya Ni Luh Ayu, seorang anak kecil dengan banyak saudara dan banyak ibu. Ia tinggal bersama ibu tirinya disertai dadong (nenek) di sebuah gubuk yang sepi jauh dari pemukiman masyarakat. Luh Ayu ketika itu masih berumur sekitar tujuh tahun.
Pada suatu hari Ni Luh Ayu melihat si dadong memegang seutas kain. Kain itu menarik perhatian Ayu sambil mendekat. Kain itu dilihtanya berwarna poleng-poleng. Ia tak tahu apa itu. Dadong kemudian menaruh kain panjang poleng itu di suatu tempat kusus di dalam rumah. Dan kerapkali Ayu melihat dadongnya berbicara menghadap ke sabuk (kain poleng), seolah-olah ada yang diajak bicara. Namun ayu bengong saja, sebab ia tak mengerti apa yang dilakukan oleh dadong dan siapa yang diajak bicara. Ayu pun bertanya keada dadongnya tentang siapa yang diajak bicara. Dadongnya cuma menjawab “sing dadi, sing dadi”. Maksudnya Ayu si anak kecil tak boleh tahu siapa yang diajak bicara.  
Setelah beberapa hari kemudian, suatu malam kain yang dibawa dadongnya itu dikeluarkan oleh dadong lalu di letakkan di atas meja. Tampak oleh Ayu bahwa kain itu diajak bicara oleh dadong. Anehnya lagi kain tersebut seperti bisa berdiri dan tampak hidup seperti ular. Ayu bertanya pada dadong, apa yang dadong bilang, apa yang dadong lalukan?. I Dadong mengatakan “ten dados”, tak boleh, tak boleh ikut, tak boleh tahu.
Dalam beberapa saat setelah itu dadong kemudian keluar menuju halaman rumahnya dengan memakai sabuk tersebut. Karena saking senang dan sayangnya kepada dadong, Ni Luh Ayu lalu mengikuti sambil mengatakan “dadong kar kije…. dadong kar kije” (nenek mau kemana?).  I Dadong tak menyahut, langkahnya pasti dan lurus ke luar rumah. Ni Ayu pun terus mengikuti dari belakang. Sebab Luh Ayu memang tak bisa berpisah atau jauh-jauh dari dadongnya. Setelah sampai di tempat tertentu, Ni Luh Ayu melihat dadongnya mengurai rambut, kemudian salah satu kakinya diangkat kemudian meloncat (nengkleng). Ni Luh Ayu yang lugu pun setia menunggui dadongnya yang melakukan ritual yang tak ia ketahui. Setelah beberapa kali nengkleng sambil berputar, kemudian Ni Luh Ayu melihat muka dari dadongnya berubah menjadi membesar dan berlubang- lubang (mungkin itu yang dikatakan orang selama ini sebagai wajah seperti umah tabuan / rumah tawon). Ni Luh Ayu yang melihat itu sama sekali tak takut, karena ia sangat senang dan sangat sayang pada dadongnya yang diajaknya sehari-hari kemanapun pergi.
Dadong yang sudah berubah wujud tersebut kemudian meneruskan langkahnya, entah kemana. Namun Ni Luh Ayu tetap berkata dan bertanya “dadong kar kije”. Dadongnya yang sudah jadi liak tak menyahut dan langsung pergi. Sempat Luh Ayu mengikuti langkah dadongnya beberapa langkah, namun dadongnya semakin menjauh. Ni Luh Ayu lalu tak lagi mengikuti dadongnya dan bergegas kembali ke rumah untuk memberi tahu ibu tirinya yang sedang tidur. Ia membangunkan ibu tirinya dan mengatakan “biang, biang,… dadong di sisi ngigel sambil nengkleng, muane dadi cara umah tabuan” (ibu, ibu,.. nenek di luar sana menari-nari, mukanya seperti rumah tawon). Lalu dadong pergi entah kemana. Demikian Ni Luh Ayu memberitahu ibu tirinya.
Biyang / ibu  tirinya menyahut seadanya, “ahh…  ten dados.. ten dados” (ah tidak boleh…). Maksudnya tak boleh melihat dan tak boleh mengikuti. Mungkin saja byangnya ini sudah mengetahui kebiasaan dadongnya yang mempraktekkan ilmu pengeliakan.
Setelah mendapat jawaban demikian, Ni Luh Ayu kembali mencari dadongnya keluar ke tempat dimana ia nengkleng tadi. Ternyata dadongnya sudah ada di sana kembali. Lalu kembali ia menanyakan kepada dadongnya “dadong mare kije, dadong ngudiang ?” (dadong tadi kenana dan ngapain?). Tetap dadongnya diam seribu basa. Sehingga Ayu hanya bisa menonton dadongnya, demikian juga dadongnya asyik dengan ritual liaknya. Ketika itu Ni Luh Ayu merasakan sakit perut ingin beol. Maka ia kemudian beol di semak-semak tak jauh dari tempat dadongnya ngeliak, sambil menonton dadongnya. Dadongnya kemudian dilihat berjalan keliling dan sesaat hilang. Beberapa saat kemudian dadongnya muncul tepat dari arah depan Ni Luh Ayu yang sedang beol. Dadongnya sudah berubah wujud kembali menjadi kuda berkaki tiga, dua di belakang, satu di depan.
Ni Luh Ayu menjadi heran dan bingung kok dadongnya bisa kelihatan seperti kuda berkaki tiga dan mengeluarkan suara kuk,.. kukk,… kuuk,… kuk…, demikian sambil keliling melintas di depan Ni Luh Ayu yang sedang jongkok. Disamping itu terdengar juga suara gledug,.. gledug,… gledug… seperti suara langkah kaki kuda. Dadong yang sudah menjadi kuda lalu melintas di depan Ni Luh Ayu. Ayu pun mengamati dadongnya dengan seksama. Dan ketika kuda itu lewat di depan Ayu, ternyata dari belakang tak tampak kuda lagi. Yang kelihtan malah dadongnya sendiri yang berjalan membungkuk tertatih-tetih sedang menggenggam sebuah tongkat dengan kedua tangannya. Jadi kelihatan seperti kuda berkaki tiga (kaki belakang adalah dua kaki dadong, satu kaki depan adalah tongkat yang dibawanya). Dadong tampak seperti bermuka kuda, karena dalam ritualnya dadong sambil meniup sebuah alat bunyi-bunyian, sehingga mulut dadong kelihatan lebih monyong. Alat bunyi ini ditiup mengeluarkan suara kuk… kuk.. kuk… Sedangkan suara gledug… gledug… tersebut adalah suara hentakan tongkat yang dibawa oleh dadong.
Ni Ayu yang melihat kejadian itu sama sekali tak merasa takut, cuman dia bertanya-tanya, dadongnya sedang ngapain. Ia hanya selalu ingin dekat dengan dadongnya dan ingin agar dadongnya cepat pulang ke rumah. Ritual malam itu pun berakhir, dadongpun kembali ke rumah diikuti oleh Ni Ayu. Sesampai di rumah, dadongnya menaruh barang atau kain sesabukan itu di tempat semula. Disarankan oleh dadongnya agar kalau dadong sudah keluar rumah dengan mengenakan sabuk ini malam-malam, maka tak boleh ikut. Demikian juga dengan ni byangnya juga menyarankan demikian.
Pada suatu hari, dengan perasaan yang biasa-biasa saja dan mungkin penasaran dengan benda seperti ikat pinggang poleng berisi bentol bentol itu, Ni Luh Ayu kemudian melihatnya di tempat penyimpanan. Dilihatnya barang tersebut tergeletak di sana. Ia mencoba untuk mengambil barang tersebut dan melilitkannya di pinggang mengikuti seperti apa yang dilakukan oleh dadongnya. Lalu ia berjalan keluar. Ternyata Ni Luh Ayu merasakan dirinya berjalan melayang tanpa menyentuh tanah, ia pun kebingungan dan merasa ketakutan. Ia kemudian segera kembali berjalan ke dalam rumah lalu membuka ikat pinggang tersebut serta menaruhnya kembali di tempat semula. Ia kembali merasa seperti biasa. Hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan dadongnya. Dan karena pernah merasakan keajaiban dari sabuk dadongnya itu, maka ia tak berani lai mencoba-coba mengenakan sabuk itu lagi, karena takut melayang-layang.
Demikian kisah nyata yang di alami Ni Luh Ayu ketika kecil menyaksikan ritual dadongnya dengan mengenakan sabuk itu. Ni Luh Ayu pun tak tahu apa yang dilihatnya dan apa yang dilakukan oleh dadongnya. Seiring dengan berjalannya waktu, maka Ni Luh Ayu yang kecil dan lugu, kini menjadi dewasa. Saat ini ia mulai memahamai mengenai benda tersebut serta praktek apa yang dilakukan oleh dadongnya. Rupanya benda seutas kain tersebut yang sering disebut orang dengan sabuk pengeliakan. Sedangkan ritual nengkleng yang dilakukan dadongnya adalah ritual ngerehin dengan sikap masuku tunggal (berdiri dengan satu kaki) sambil menari-nari memuja Ida Betari Durga untuk mencapai puncak pemujaannya yang disebut dengan nadi. Pada saat nadi, maka bayu sabda idep si pemuja itu kemudian menyatu dan mencapai puncak. Si pelaku lalu diselimuti oleh energi sukma tertentu, sehingga yang bersangkutan tampak seperti apa yang mereka inginkan. Ada yang diselimuti oleh energi sukma dimana mukanya tampak berubah menyeramkan berupa bojog, celuluk, jaran, kebo, bade, rangda, dll. Si pelaku liak menjadi asik dengan dirinya, menikmati puncak pemujaannya (lia, lila, liang / senang / nikmat) dengan segala sensasinya. Yang tampak seperti jaran berkaki tiga disebut dengan gegendu jaran, sedangkan kerbau berkaki tiga dsebut dengan gegendu kebo.
Menurut cerita orang yang tahu masalah pengeliakan, jarang ada orang yang bisa dilihat atau diikuti oleh orang lain ketika melakukan ritual nengkleng, kecuali memang satu murid seperguruan. Namun kejadian Ni Luh Ayu yang masih kecil ini termasuk aneh. Mungkin karena Ni Luh Ayu dianggap masih kecil, tak tahu apa-apa, sehingga dadongnya tak melarang Ayu menyaksikan ritual ngeliak yang ia lakukan. Mungkin dadongnya berpikir begini “walaupun dilihat toh juga ia tak mengerti”. Bisa jadi si dadong mulai memperkenalkan sedini mungkin ilmu liak kepada cucu satu satunya itu, sebagai penerus dikemudian hari. Atau mungkin dadongnya juga berpikir begini “ngeliak sambil ngempu” (ngeliak sambil mengajak cucu). Ha..ha..ha..  Tapi dadongnya tak berpikir bahwa apa yang dilihat oleh cucunya itu tersimpan dalam memori otaknya, lalu ketika dewasa ia akan memikirkan kembali masa kecil dan teringat dengan apa yang ia lihat waktu kecil. Pada saat itulah baru ia paham tentang apa yang dilakukan oleh dadongnya terdahulu. Cucunya mulai paham bahwa ternyata dadongnya sebagai penekun ilmu liak. Dan… ketika semua itu disadari oleh Ayu, dadongnya sudah meninggal.  
Nah yang menjadi pertanyaan sekarang, dimanakah sabuk itu disimpan oleh dadongnya? Siapakah yang mewarisi ilmu itu sekarang? Kepada siapakah sabuk itu diberikan? Ni Luh Ayu merasa heran, takjub dan kadangkala lucu ketika menceritakan pengalaman masa kecilnya itu. Sedangkan Ni Luh Ayu sampai saat ini tak pernah menyentuh dunia liak seperti yang dilakoni oleh dadongnya terdahulu. Ia malah ngiring sesuhunan dan menjadi seorang spiritualis. Ayu menikah dengan seorang pria pengusaha dari Singaraja yang juga salah seorang teman dari putra proklamator Republik Indonesia yang juga sebagai seniman.
    

Friday, April 10, 2015

Serba Serbi Nerang Ujan





REKAYASA CUACA OLEH MANUSIA

Selain dunia calonarang, dunia yang paling ngetren belakangan ini adalah dunia nerang ujan. Bagaimana caranya agar tidak jatuh hujan pada waktu yang dikehendaki. Hal ini dinilai penting untuk kepentingan umum, misalnya ketika ada upacara ngaben, nganten, odalan, atau karya yaadnya lainnya. Lebih lebih pada musim hujan, pastilah ruang gerak langkah akan menjadi sedikit terhambat atau terganggu ketika hujan turun. Kalau hujan, wah kasihan pengantennya, kasihan tamunya, kasihan bantennya, dan satu lagi kasihan menu makanannya mudah masem alias basi. Lebih kasihan lagi ketika odalan kehujanan, jero mangku yang sudah lingsir - lingsir menggigil kedinginan ketika harus menjalani penglien atau prosesi odalan. Demikian I Putu Laklak Pikang membuka diialognya suatu pagi dengan I Gede Ongo Ongol.
Mengingat hal tersebut, maka peran dari mereka yang memiliki kemampuan nerang menjadi semakin krusial. Ketika musim hujan, selain upacara, tamu, makanan, maka yang menjadi perhatian adalah bagaimana menciptakan susanana nyaman bagi tamu yakni bagaimana caranya agar tidak hujan pada saat upacara. Maka sang punya gawe mulailah berpikir kemana minta tolong, kepada siapa minta bantuan, dan sebagainya. Sudah tentu ada beberapa alternatif. Sebab kebaradaan tukang terang di tanah Bali sudah merupakan suatu hal yang lumrah, namun tak layak untuk dibeberkan secara terbuka. Semuanya masih semacam kasak kusuk. Lanjut I Putu Jaya Merana.
I Gede Ongol Ongol lalu menimpali, “ketika sebuah perhelatan yadnya berjalan dengan baik tanpa ada hujan, maka kita sering mendengar kalimat “Nah ne mara hebat, nyen nerang?” sebagai tanda memuji. Namun sebaliknya ketika hujan turun pastilah ada yang nyeloteh “aduh kok bisa hujan. Kenken tukang terang ne, nyen nerang? Pasti tukang terang e pules”. Demikian sering terdengar dua hal yang sangat kotradiktif dalam melihat adanya hujan atau tak hujan dalam sebuah upacara. Dan inii merupakan realitas kehidupan di tanah Bali, lebih - lebih berkaitan dengan hajatan upacara adat atau agama.
Dari beberapa tukang terang yang ada (yang dikenal), beberapa menang sudah tak asing lagi alias sering menjalankan ritual penerangan di tempat tempat orang punya gawe. Dari sekian banyak menjalankan prosesi tersebut, banyak yang berhasil dan mendapatkan jempol yang diacung acung alias acungan jempol, dan sering pula kebobolan sehingga mendapatkan cibiran “sapih” artinya seri. Maksudnya nerang payu ujan payu. Demikian I Ngurah Godoh Embon ikut nimbrung pagi itu di atas taban bale banjar.
Lagi lagi ia menambahkan “Dalam dunia niskala di Bali, khusunya penerangan, tak jarang orang orang berlagak bisa nerang, berlagak sakti, berlagak hebat mau mengatur alam atau merekayasa cuaca sesuai dengan keinginannya. Memang sih secara tradisonal banyak sarana yang digunakan, ada yang memakai banten barak, memakai sarana base, sarana sembe, rokok, jangu, dll. Bahkan ada yang sarananya sedikit nyeleneh yakni si penerang harus dibawakan minuman “BIR BINTANG”. Entah itu sarananya yang sejati atau asisten tukang terangnya yang pingin bir sehingga menjadi suatu hal yang baku. Bahkan bir yang diminta adalah bir bintang. Jadi kita tak habis pikir, yang dibutuhkan dalam penerangan itu apakah airnya, alkoholnya, botolnya atau yang lainnya. Itu semua hanyalah sarana untuk memohon, apa saja boleh. Tetapi yang lebih penting adalah kekuatan jnana serta keiklasan dalam memohon”.
Karena banyaknya pertanyaan, tentu saja ada yang sedikit jahil. Ada pemikiran yang nyeleneh bahwa yang dibutuhkan adalah alkohonya, dengan harapan ketika sudah tahap hampir mabuk maka akan muncul bintang bintang. Itu artinya ketika bintang sudah kelihatan, pastilah tak hujan. Pahhh itu pikiran jail, tapi bisa jadi di akal. Artinya yang dibutuhkan adalah bintangnya. Haaaa….
Tapi kayaknya tak mungkin demikian. Namun apapun itu… semua adalah sarana untuk memohon kehadapan Hyang Widhi dalam prebawa beliau sebagai sebagai Sanghyang Brahma, Sanghyang Agni dan Sanghyang Bayu, sebagai kekuatan panas, api dan angin yang sudah tentu diharpakan dapat menghalau hujan atau mendung”.
I Putu Laklak Pikang punya cerita lain lagi “Ada lagi yang menampilkan diri begitu meyakinkan dan sedikit seram, dimana ketika nerang mereka membawa sebuah keris dari rumah yang konon keris itu adalah keris pusaka Brahma Ambara, yang berkasiat untuk nerang. Ketika nerang, si tukang terang itu menghaturkan banten, kemak - kemik, lalu menunjuk - nunjukkan kerisnya ke arah awan. Tampak memang seram sekali, dan meyakinkan. Namun lucunya, ketika beberapa lama kemudian, entah darimana datangnya awan yang bergerombol banyak (seperti awan CB atau awan commulonimbus) yang tebal dan gelap. Maka sang tukang terang kelabakan, mengacung acung kan kerisnya, mau dibawa kemana, atau mau diarahkan kemana. Sang tukang terang tak berdaya, maka hujan pun turun dengan lebatnya.
Kasihan juga, permohonannya pada hari ini tak terkabulkan oleh Sanghyang Brahma, mungkin Sanghyang Brahma sudah dipermaklumkan sebelumnya oleh Sanghyang Indra dan Sanghyang Wisnu bahwa pada hari ini beliau akan menghujani daerah tersebut untuk kepentingan agar tanaman dan alam menjadi sejuk, serta tanaman dapat tumbuh subur, berbunga dan berbuah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Mungkin juga dengan hujan yang lebat tersebut, Sanghyang Wisnu dan Hyang Indra akan meruat alam  serta membersihkan segala kotoran dan mala di dunia, dimana segala macam kotoran dan penyakit akan dihanyutkan oleh air hujan lalu disucikan di laut. Bisa jadi…
Oleh karena itu, kali ini Hyang Brahma tak mengabulkan permohonan para tukang terang, demi kepentingan umat manusia di dunia. Kalau semuanya minta endang atau terang terus, tak baik untuk alam dan manusia. Mungkin demikian makna positifnya.
Dalam dunia penerangan, sering juga ada cibiran bagi mereka yang selalu berpikir ke arah niskala. Sebut saja namannya Made Kakah Dungkah sering berujar “kalau tak ada hujan, semua nitig tangkah ngaku nerang. Tapi kalau sudah hujan, semua tiarap tak ada yang berani bertanggung jawab” Demikian ia ceplas ceplos ketika menghadiri sebuah acara adat, dimana acara tersebut diguyur hujan dari pagi sampai sore tak ada jedanya. Kalau mau dibilang sakti nerang, maka terimalah order pada bulan - bulan antara Juni – Juli – Agustus – September. Pada bulan itu, tukang terang sembilan puluh delapan persen berhasil. Karena bulan itu bulan musim kemarau, mana ada hujan?. Kalau saat itu pastilah orang bilang tukang terangnya sakti.
I Nyoman Klepon Benyek berseru “Kalau nerang pada bulan Desember, Januari, Februari, maka siap siaplah menerima cibiran, sebab bulan itu bulan basah. Seperti kata I Ketut Mokoh Megenyolan “kanti ngencit tukang terange” yang artinya tukang terangnya sampai mencret mencret tak akan terang, sebab bulan itu bulan basah. Sehingga angka keberhasilan nerang cuman lima persen”.
I Nyoman Klepon melanjutkan bicaranya “Ada lagi cerita dari pinggir barat Kota Denpasar, seseorang yang berprofesi sebagai tukang terang memasang harga sebesar sepuluh juta rupiah untuk satu kali event. Ia biasanya melakukan teken kontrak dengan para rumah produksi yang sering melakukan shooting senetron atau iklan. Namun ketika temannya Gung Ngurah Bongkrek datang ke sana untuk meminta bantuan, secara professional mengatakan harganya sekian. Namun, teman Gung Bongkrek membisiki bahwa harga tersebut mahal.  
Lalu atas petunjuk dari I Nyoman Klepon, disarankan untuk mencari tukang terang yang profesional dan modern. Mereka berdua lalu menuju ke rumah seseorang di tengah kota. Gung Bongkrek semakin penasaran, ia mau diajak ke rumah balian siapa atau ke mangku siapa yang bisa nerang. I Nyoman Klepon dalam perjalanan membisikkan Gung Bongkrek bahwa ini adalah rumahnya Lampu Laser. Tapi Gung Bongkrek yang sedikit bongol mendengarnya Mangku Lasan. Maka ia semangat, sambil ingin tahu seperti apa goba atau wajah Mangku Lasan tersebut.
Sesampai di rumah persewaan itu, mereka segera masuk ke sebuah ruangan yang tampaknya seperti kantor. Gung Ngurah Bongrek menjadi heran, kok rumah balian seperti kantor. Ia berpikir, mungkin ini adalah ruang administari balian. Ia pun semakin penasaran karena balian yang dituju tersebut ternyata memilki manajemen modern dengan menggunakan tenaga front office untuk menerima tamu.
I Nyoman Klepon lalu memanggil Gung Bongkrek untuk diajak melihat barang ke dalam. Ia terkejut melihat beberapa lampu besar besar ada di dalam ruangan tersebut dengan berbagai macam ukuran dan jumlah banyak. Gung Bongkrek menjadi bingung. Dan dalam kebingungannya ia berpikir bahwa Mangku Lasan kalau nerang menggunakan bantuan lampu. Lalu Nyoman menjelaskan, bahwa tempat ini bukan rumah balian tukang terang seperti yang diketahuinya, tapi ini adalah kantor tempat penyewaan lampu laser untuk mengurai awan agar tak hujan. Biayanya sesuai dengan kesepakatan hanyalah tiga juta rupiah per hari. Biaya ini jauh lebih murah dibanding dengan sesari balian tadi yang sesarinya sepuluh juta rupiah.
Nyoman pun berbisik kepada Gung Bongkrek, “Ini bukan rumahnya Mangku Lasan tetapi, Lampu Laser”. Barulah kemudian Gung Bongkrek mengerti bahwa dirinya diajak untuk menyewa lampu laser. Mungkin secara di akal, ini lebih realistis, lebih nyata, atau mungkin lebih ada kepastian. Sebab sinar lampu itu bisa diarahkan langsung ke awan, sehingga bisa terurai dan tak hujan. Dibandingkan dengan tukang terang, kita tak tahu apa jadinya, gemana jadinya, yang kita tahu hanya kemik kemik dan tudang tuding, tak ada kepastian. Namun ini juga tak ada jaminan seratus persen. Sebab sering pula tukang laser yang basah kuyup kehujanan. Yang pasti manusia ingin memenuhi keinginannya.
I Gede Ongol Ongol berkomentar lagi “Yah…. begitulah, manusia selalu ingin sesuai dengan keinginannya. Manusia mencoba untuk merekayasa cuaca. Yah… bolehlah kalau bisa…….. Tapi ingat semuanya adalah semuanya atas kuasa Hyang Kuasa. Manusia hanya bisa memohon”. Yang paling sederhana menurut aku adalah lebih baik tidak nerang, biarkan alam berjalan sesuai dengan hukumnya. Kalau hujan, lebih baik meembon alias berteduh. Atau kalau memang harus beraktifitas saat hujan, maka gunakan mantel atau payung,…. Sederhanakan…. poloskan, dan mungkin ini adalah cara berpikir yang bebelogan alis tak ruwet”.
Demikian koment akhir dari I Gede Ongol Ongol sambil bergegas mengenakan mantel, soalnya hujan sudah mulai turun. Dan rembug pun bubar seketika.