Monday, September 28, 2015

MENJANGAN SALUANG Simbol Ikatan Jawa - Bali




Sudah sekian banyak orang menganalisis dan membicarakan mengenai simbol menjangan saluang di dalam agama Hindu Bali. Namun dari banyak analisis itu justru memunculkan banyak pendapat dari sudut pandang masing-masing yang makin membingungkan masyarakat Hindu Bali. Ada yang mengatakan bahwa menjangan seluang itu berasal dari kata menjangan sakaluang yang konon artinya menjangan yang digunakan sebagai tiang penyangga (saka) dari bangunan pelinggih dimana kepala menjangan itu ditempatkan. Ada yang mengatakan menjangan seluang sebagai simbol pemujaan ke Majapahit. Ada pula yang mengatakan bahwa menjangan seluang adalah sebagai pemujaan kehadapan sang Panca Pandita (Sang Panca Resi) yakni Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Bradah, dan Mpu Gana. Ada pula yang menganalisa bahwa menjangan seluang sebagai simbol pemujaan kehadapan Danghyang Dwijendra. Ada pula yang secara spesifik mengatakan menjangan seluang adalah simbol untuk memuja secara khusus kehadapan Mpu Kuturan yang telah banyak berjasa dalam menata kehidupan sosial keagamaan di tanah Bali, serta konon kedatangan beliau ke Bali menunggangi hewan menjangan (rusa).
Dari sekian banyak versi tersebut kalau diamati, ternyata semuanya mengarahkan simbol itu ke tanah Jawa, tertuju kepada Sang Panca Pandita yang berasal dari Jawa. Demikian juga diarahkan kahadapan Danghyang Dwijendra yang hijrah dari Jawa ke Bali. Majapahit sebagai simbol dari kebesaran tanah jawa dan nusantara, Mpu Kuturan yang juga tadinya bermukim di jawa. Dengan demikian ada suatu kesamaan bahwa simbolisasi dari menjangan seluang adalah simbol  pemujaan kepada para leluhur yang ada di tanah Jawa. Dimana eksistensi dari manusia Bali saat ini adalah keturunan dari para Mpu, para Ksatria dan Wesia dari tanah Jawa.
Lalu bagaimana dengan simbol dari menjangan (rusa) itu sendiri? Kenapa menjangan yang dipakai? Adakah mitologi atau sejarah yang menyebutkan hal ini?. Rupanya sampai sekarang belum ada jawabannya. Namun banyak yang mereka-reka bahwa simbolisasi menjangan tersebut karena menjangan adalah sebagai binatang primadona di tanah Jawa kala itu. Mungkin juga menjangan sebagai simbol kemuliaan pada masa itu. Para penganut Kuturanisme meyakini bahwa menjangan adalah sebagai hewan kesayangan dan dimuliakan oleh Mpu Kuturan.
Karena misteriusnya simbol menjangan tersebut dalam kaitannya dengan keyakinan agama Hindu Bali, maka kata menjangan seluang itu pula menjadi suatu perdebatan yang sampai sekarang masih memunculkan banyak versi. Namun dalam hal ini, penulis akan mencoba untuk mengungkapkan sebuah penemuan secara tak sengaja mengenai kata MENJANGAN SALUANG. Ceritanya begini:
Pada suatu hari penulis menonton acara televisi yang mengungkap mengenai kebudayaan di Sumatera Selatan yang dahulu adalah wilayah kekuasaan Majapahit. Dimana para ksatrya tanah Jawa menjadi penguasa di tanah Sumatera. Dan sampai sekarang para bangsawawan Tanah Melayu ini sebaian besar masih mewarisi Bahasa Jawa sebagai bahasa dalam keluarga mereka. Dalam acara televisi tersebut membahas masalah tutup kepala yang sering digunakan oleh kaum Muslim dalam bersembahyang (kalau dijawa disebut peci/songkok). Ada suatu hal mengejutkan penulis bahwa tutup kepala oleh orang Sumatera disebut dengan Saluak. Entah apa yang terjadi dengan pikiran penulis, ketika mendengar kata saluak, pikiran penulis langsung tertuju pada kata saluang yang di Bali terdapat istilah “menjangan saluang” yang berwujud kepala menjangan.
Ada kedekatan dan bahkan kesamaan makna antara kata saluak di Sumatera yang berarti “kepala” dengan kata saluang dalam menjangan saluang di  Bali yang berwujud kepala rusa. Dengan demikaian, tanpa berpikir panjang kita bisa menyatakan bahwa menjangan saluang berarti “kepala menjangan” (kepala rusa). Sesuai dengan realitasnya yang disebut menjangan saluang di Bali adalah kepala menjangan. Artinya bahwa misteri dari kata menjangan saluang dalam hati penulis sudah terjawab.
Kini muncul pertanyaan lagi, dimana simbol itu diletakkan?. Menurut pengamatan penulis bahwa simbol menjangan saluang diletakkan di Merajan Gede / Sanggah Gede. Sedangkan merajan yang tingkatannya Kemulan Taksu tak dilengkapi menjangan saluang. Kepala menjangan tersebut diletakkan pada pelinggih yang disebut Saren Gede atau Saren Kaja (karena letaknya di utara). Saren Gede ini berfungsi sebagai tempat menstanakan dan memuja para dewa-dewi (selain dewa-dewi yang sudah dibuatkan pelinggih khusus di sanggah itu). Kalau dalam dunia manusia, Saren Gede diibaratkan sebagai wisma besar yang diperuntukkan bagi semua hadirin atau para tamu terhormat atau yang mulia darimana saja.
Ada juga yang menempatkan menjangan saluang di Tajuk Pepelik. Dimana tajuk adalah sebagai sebuah wisma tempat menstanakan serta memuja para dewa pada saat odalan. Kalau di beberapa daerah di Bali, tajuk juga disebut dengan Bale Pengaruman. Kalau dalam dunia manusia Tajuk diibaratkan sebagai ruangan tamu atau pendopo untuk menerima dan menghormati serta untuk jamuan para hadirin serta yang mulia. Tajuk di sanggah juga untuk memuliakan dewa-dewa dan leluhur. Dalam kaitannya dengan penempatan menjangan saluang, berarti tajuk tersebut juga difungsikan sebagai pengayatan kepada para leluhur di tanah Jawa. Ada juga yang secara khusus membuat pelinggih menjangan saluang berupa gedong yang dilengkapi dengan kepala menjangan sebagai pengayatan khusus kepada dewa-dewa, kepada Sang Panca Pandita, dan para leluhur dia tanah Jawa.
Jadi dengan demikian, pemahaman mengenai menjangan seluang sebenarnya sangat sederhana yakni “kepala menjangan”, sesuai dengan tampilannya di setiap merajan di Bali. Menjangan Saluang adalah simbol pengayatan kehadapan para Betara-Betari, Dewa-Dewi, dan para Mpu / Pandita serta leluhur yang berasal dari Tanah Jawa. Jadi dengan demikian Menjangan Seluang adalah simbol keterikatan rohani antara Tanah Bali dengan Tanah Jawa. (Ki Buyut / Kanduk).

No comments:

Post a Comment