Tuesday, November 17, 2015

ADAT MESATYA DI BALI (2), Kesaksian Oosterwijck (1633)




Laporan pandangan mata pertama mengenai upacara mesatia di Bali terdapat dalam tulisan Jan Oosterwijck mengenai upacara mesatia di Gelgel pada waktu berlangsungnya upacara pelebon (pembakaran  mayat) ibunda Raja Gelgel yang berlangsung tanggal 21 dan 22 Maret 1633. Pada waktu itu, sebanyak 22 orang budak perempuannya, penyeroan dalam bahasa Balinya, melakukan satia.
            Jan Oosterwijck dengan detail mengambarkan upacara yang dilihatnya. Diceriterakannya bahwa setelah pakaian para sati diganti dengan pakaian serba putih, tanpa ditutup matanya mereka digiring oleh lima petugas laki-laki ke tempat mesatia, yang seorang di antara petugas itu akan menjadi eksekutornya. Beberapa di antara para Sati itu meminta keris dari eksekutornya, yang dipegangnya dengan tangan kirinya. Setelah mencium kerisnya, tangan kanannya dilukai dengan kerisnya, meminum darah yang keluar dari lukanya dan memberi tanda darah di jidatnya dengan jarinya yang berlumuran darah. Mereka mengembalikan kerisnya kepada eksekutornya, yang segera menikamkannya pada dadanya, dari arah atas ke bawah, telak ke arah hati, menusuk hatinya. Menjelang ajalnya mereka masih sempat mencopoti pakaiannya, sehingga telanjang bulat. Para eksekutornya menerima uang jasa sebanyak  dua ratus lima puluh uang kepeng tembaga (pipis bolong Bali).
Setelah para sati meninggal, para keluarga dan kerabatnya memandikan mayat-mayat mereka dan sesudah diupacarai secara agama yang dipimpin oleh pendeta, mayat-mayat itu lalu dibakar. Pada saat kobaran lidah api menjilat-jilat mayat para sati itu, barulah jenazah ratu tiba di tempat upacara. Tegasnya para satia itu bukan istri-istri raja, tetapi para pelayannya. Dengan demikian satia di Bali tidak sepenuhnya benar sebagai manifestasi kecintaan istri kepada suaminya.
Jan Oosterwijck, selain menuliskan apa yang dilihatnya sendiri, juga mendapat informasi mengenai pelaksaan satia yang lain. Antara  lain mengenai pelebon Raja yang sedang memerintah, dengan mengorbankan tidak kurang dari 120, 130 dan bahkan sampai 140  perempuan yang “merelakan” dirinya menjadi makanan lidah api, demi pengabdiannya kepada rajanya. Tanpa ada yang ditikam dengan keris sebelum mesatia, mereka langsung terjun ke bara api atas “kemauan” mereka sendiri. Dia juga mendapat informasi bahwa seorang perempuan janda tanpa anak, mohon kepada ayahnya yang menjadi penguasa di Kuta agar diizinkan mesatia pada pelebon suaminya. Dia baru tiga bulan kawin dan sangat muda. Ayahnya menyetujuinya karena tindakannya itu menunjukkan kesetiaanya kepada suaminya.
Dikisahkannya bahwa sepintas lalu tidak terlihat ada budak perempuan (penyeroan) yang menjadi satia karena dipaksa. Tetapi bila ada yang berhasil membelot dan berhasil melarikan diri, dan kemudian tertangkap, nasibnya sudah jelas, dia ditikam sampai mati, mayatnya diseret di jalan, bangkainya menjadi rebutan anjing-anjing. Kendatipun Oosterwijck tidak menyebutkan siapa nama Dalem yang sedang menduduki tahta kerajaan Gegel pada tahun 1633, kejadian itu pasti terjadi pada masa pemerintahan Dalem Sagening yang memerintah menggantikan kakaknya, Dalem Bekung, dari tahun 1578 sampai dengan tahun 1665.
Oosterwijck bukanlah seorang turis yang sengaja berwisata ke Bali untuk menyaksikan upacara spektakuler mesatia. Dia adalah pegawai V.O.C. dengan pangkat Opperkoopman, seorang Pedagang Kepala, yang diutus ke Bali pada bulan Februari 1633 oleh Gubernur Jendral, Hendrik Brouwer, dalam usahanya merayu Dalem Bali agar bersedia menggalang kekuatan bersama dengan  Kompeni untuk berperang melawan Mataram, dan sekaligus minta membeli laki-laki Bali untuk dijadikan tentara Kompeni. Rayuan itu ditolak oleh Dalem dan utusan itu pun tidak diterima menghadap Dalem, dengan alasan antara lain karena ada upacara pelebon ibu kandungnya. Kesempatan menyaksikan upacara itu tidak disia-siakannya, yang laporannya telah diuraikan secara singkat di atas.
Kunjungan Oosterwijck dapat dipandang sebagai awal tercatatnya penjualan orang Bali sebagai budak, kandatipun penjualan budak dari Bali telah mulai pada abad kesepuluh. Konon Dalem sangat kagum, sangat terkesan dan terkagum-kagum dengan bunyi letusan bedil yang menggelagar dan mengeluarkan asap tebal, yang diletuskan oleh para pengawal Oosterwijck. Dalem kemudian bersedia menukar bedil-bedil itu dengan budak-budak Bali. Terjadilah barter benda dengan manusia. (Ki Buyut Dalu).

No comments:

Post a Comment