Monday, July 6, 2015

Durmanggala dan Durbiksa (pertanda alam dan musibah)



Menurut
Lontar Tutur Lebur Gangsa



Inilah ciri-ciri Durmanggala dan Durbhiksa (celaka dan paceklik) pada alam dan pekarangan yang menyebabkan pekarangan panas (tidak layak huni) yaitu:

Jika pekarangan terkena kilap (petir) dan kebakaran. Ini disebut Kageni baya. Untuk itu patut mendirikan tempat suci berupa padma capah (bukan padmasana atau padmasari) sebagai stana Sang Hyang Indra Belaka. Bila tidak mendirikan stana Sang Hyang Indra Belaka, maka percuma saja walau telah melaksanakan upacara caru.
Jika ada kayu rempak, terpotong, rebah tanpa sebab, Punggel Kepancabaya namanya.
Jika ada kelapa bercabang, pisang bercabang, pisang keluar tandon pada batangnya, Nyiur kembar juga disebut Kepancabaya, pekarangan tersebut dikatakan panas (tak layak huni).
Jika ada rumah direbahi (ditindih) kayu, Karipubaya namanya. Karang itu disebut panas.
Jika rumah rubuh, Sanggar rubuh, Kalebon Amuk namanya.
Jika dapur rubuh, Kalebu Kalebon Amuk namanya. Karang tersebut panas.
Jika ada jamur tumbuh pada bebaturan salu (sendi/pondamen rumah), diatas atau di bawah (itu ciri) panas. Kawong baya namanya.
Jika ada lulut (ulat tanah berkumpul ribuan), atau segala yang serupa dengan lulut tampak di pekarangan, Kalulut baya namanya. Panas karang tersebut.
Jika ada darah, tanpa sebab nampak di pekarangan atau di perumahan, itu ciri bahaya. Keraja baya namanya.
Jika ada orang mati karena jatuh, Kalebon Amuk (karang dimasuki orang mengamuk). Tanda karang itu panas.
Jika ada orang mati gantung diri, mati dicekik, tanda karang tersebut panas. Kahastabaya namanya
Jika ada orang mati karena kecurian, tanda karang tersebut panas. Karekabaya namanya.
Jika ada orang mati ditusuk, tanda karang itu panas. Karipubaya namanya.
Jika ada orang menusuk diri, walaupun yang bersangkutan masih hidup, ciri karang itu panas. Ragabaya namanya.
Jika ada orang mati melahirkan, panas karang itu Kararebaya namanya.
Jika ada orang mati karena hanyut, ciri karang itu panas. Katoyabaya namanya.
Jika ada orang mati karena ditindih kayu, ditindih tanah longsor, ditindih bahan
bangunan, panas karang tersebut. Baya namanya.
Jika ada orang mati karena mengamuk atau diamuk, sama panasnya karang tersebut. Kabaya namanya.
Jika ada orang mati di sergap macan, disergap buaya, ditanduk sapi, kerbau, digigit ular. Panas. Kasrenggaka namanya.
Jika ada orang mati karena tidur, mati karena mimpi, mati karena kentut, karang tersebut panas.
Kasrepaning baya namanya.
Jika ada orang mati disruduk, ditombak, ditembak, ditulup, dipukul, ditendang, ditebas, ditusuk, disempal, semua itu mati Salah Pati namanya. Semua kematian karena salah pati dan ulah pati tidak dapat dibiayai (diupacarai). Upacara itu tidak ada hasilnya, sebab mati Maskara namanya. Baik buruk kematian itu, jika rohnya memanasi (mengganggu) keluarganya, hendaknya diupacarai Sakapan dengan guling bebangkit.Tanda-tanda tidak baik kematiannya itu menunjukkan bahwa yang bersang­kutan mati kena kutuk. Bila kematiannya tidak mengganggu keluarganya, itu tanda ia mati dengan baik. Rohnya mencapai sorga.
Apabila proses kematiannya buruk, jika demikian halnya : orang mati tidak beres (salah pati), ulah pati (mencari mati), mati hanyut, mati dalam perjalanan, dicekik disebut: Apapati Halapati, Sepatutnya ditempat (rumah) orang mati tersebut mendirikan tempat suci berupa padma (bukan padmasana atau padmasari) sebagai tempat persinggahan rohnya. Rohnya patut dituntun. Upacarai sepatutnya, dan laksanakan upacara odalan untuk tempat suci tersebut pada hari kelahiran orang yang mati bersangkutan. Pahalanya : memberi kesenangan, sanak keluarganya memperoleh keberhasilan. Jika tidak dibuatkan padma capah, sanak saudaranya dibuat menderita sakit oleh roh itu. Walaupun telah diupacarai dengan biaya besar, roh itu akan tetap mengganggu, sebab ia diperkenankan berbuat demikian. Tawenagalya dan Kadewatan (sorga) ia tidak dapat bersatu dengan roh leluhurnya (yang lain) yang telah tentram sentosa kembali berstana di Sanggar Kemulan.
Oleh karena sanak saudaranya sama-sama diganggu, mereka silih berganti ditimpa penyakit, batuk-batuk semakin kurus, lemah lesu, kejang-kejang kemasukan roh, dan gila-gilaan. Demikian akibat ulahnya. Itulah bencana yang diakibatkan oleh roh orang yang mati tidak benar yang patut diperhatikan. Upacarailah menurut ketentuan yang diajarkan oleh ajaran (Tutur Lebur Gangsa) ini.
Bila ada hewan peliharaan ketika beranak, anaknya lahir dalam wujud yang aneh, berperilaku aneh, wujudnya tidak seperti biasa, sifatnya tidak seperti sifat biasa. Itu menunjukkan bahwa karang (perumahan) tersebut panas. Juga sebagai pertanda alam mengalami kerusakan (kekacauan).
Bila ada anjing, babi betina beranak tunggal, pekarangan tersebut panas. Binatang itu sepatutnya dipotong dihanyutkan ke laut. Lambungnya ditusuk dengan duri kaktus diikat dengan tali. Buanglah binatang itu ke laut. Rumah pekarangan tersebut segera diupacarai dengan caru, pertama-tama dengan caru Pancasatha. Kemudian tambah lagi dengan upacara Pamarisudha Pamanes Karang, penyucian karang panes.
Perhatikanlah tanda-tanda munculnya bencana sebagai yang disebutkan di atas, yaitu yang tampak pada manusia, pada ternak sarwa sataton (burung peliharaan) dan ayam, binatang peliharaan, tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pekarangan rumah, yang disebut tanem tuwuh. Sama panasnya. Sebab manusia, binatang, ayam, ikan, burung, ular, tumbuh-tumbuhan menjalar, gulma, sthawara (perdu), janggama (mahluk hidup), trena (rumput), pipilika (semut), mrega (binatang) dan tiryak (binatang), kutu-kutu. Semua itu sama-sama berjiwa, mengusahakan hidup, dari sejak lahir sampai mati. Oleh karena itu ada tumbuh-tumbuhan, ada manusia, ada kayu jati, ada kayu nyaman ada yang disebut kayu kala yaitu kayu klampwak, ada yang disebut kayu Dewa, yaitu kayu Majagau. Kayu Cendana adalah dewanya kayu. Semua itu berjiwa, sama-sama mengusahakan hidup dari sejak lahir sampai mati.
Bila di pekarangan muncul asap, itu sebagai ciri karang itu panas membara. Demikian juga Gumi Kasayongan (alam berkabut) atau ditimpa Kakuwung (pelangi) adalah ciri karang bersangkutan panas.

Dalam hal berumah tangga:
Bila ada orang saling lancubin (saling masuki) sesama kekeluarganya. Sama-sama dratikrana (berbuat melanggar hukum adat), melakukan gamya gemana (memperistri orang yang tidak boleh diperistri). Sama-sama salah mengambil istri atau suami. Itu tanda karang tersebut sangat panas. Juga (berakibat) panas pada alam dan masyarakat desa atau negara. Itulah tanda-tanda kehancuran alam. Karena kedatangan alamat buruk, bencana, paceklik. Menyebabkan tanah kerajaan kering krontang. Dihukum mati. Jika masih dalam keadaan hidup (hendaknya) dihukum bhrunaha (membunuh bayi dalam kandungan). Jika sang raja melakukan perbuatan seperti tersebut di atas, seketurunannya akan jatuh miskin dan tersesat.

Bila ada pekarangan tumbak rurung (ditusuk jalan), besar atau kecil sama panasnya.
Bila ada rumah berdampingan dengan perempatan jalan, di hulu pura, berdampingan dengan balai banjar, tanda karang tersebut panas.
Bila ada babi sakit berasan (cacing pita) atau ayam bersenggama di atas rumah, terlebih-lebih di atas bale, karang itu panas.
Bila ada Tabuan Sirah (tabuan yang induknya besar-besar), Tabuan Keh (tabuan yang berumah di tanah), Tabuan Kulit (tabuan yang induknya kuning), Tabuan lip (tabuan yang induknya kecil berekor kuning) bersarang di rumah. Demikian juga lebah atau ular masuk perumahan. Itu tanda perumahan panas atau cacat.

Yang perlu dihindari dalam membuat bangunan adalah: Segala bangunan rumah, tidak boleh ditambah atau dikurangi (bentuk) bangunannya. Sama cacatnya. Nagasesa namanya. Kesimpulannya tidak henti- hentinya menyebabkan sakit sengsara.
Jika ada Sanggah (tempat suci) direbahi bungbang (bambu), dapur, tak terkatakan panasnya, membuat permusuhan.
Jika ada kayu peneduh, segala jenis bangunan, tempat suci, bale, lumbung, dapur, rebah atau terbakar dilalap api. Sisa bangunan atau kayu tersebut tidak boleh dipakai (sebagai bahan bangunan). Sangat panas. Sepatutnya semua sisa itu dibakar habis.
Inilah bale yang tiangnya masuk pada legungan (bagian rangka atap rumah). Balu Makebunan namanya.  
Bila ada bale disarangi oleh uter-uter (sejenis serangga penggerek kayu) pada lambangnya, pada usukpemade (rusuk terakhir), bajagul (kayu penyatu di ujung langit-langit bale). Menyebabkan panas (menderita).
Bila ada bale bertretes (emper) pada semua bagian, cacatnya angker. Dongkang Makehem namanya.
Bila ada bale yang disebut ber-Lambang mayeng yaitu dengan lambang (emper) mencorok ke depan tanpa disangga tiang. Atau bale dengan tiang yang disebut Gunung Rata dibagian dalam bertiang pendek, tetapi dibagian luar bertiang panjang. Pemilik rumah cendrung tidak berketurunan. Itulah yang patut diperhatikan. Demikianlah tingkah laku manusia yang patut diketahui.

Di dalam kehidupan masyarakat:
Bila ada orang manak salah. Seluruh warga desa terserang penyakit tak tersembuhkan. Rumah dikuasai oleh Bhuta Kala, Durgha, Desti, Bhucari, Tuju, Teluh Trangjana.
Bila perumahan sering dikenai srana pepasangan karena dikerjakan oleh orang yang bermaksud jahat yang menyebabkan pekarangan menjadi angker ditempati mahluk gaib Sang Hyang Kala Tiga, yaitu: Indra Blaka, Kala Durgha Maya, dan anak buahnya yang bernama Sang Kala Jinggrang. Sama-sama mengeluarkan kesaktian untuk membencanai pemilik rumah.
Bila telah tampak ciri-ciri Durmanggala dan Durbhiksa seperti yang ddisebutkan di atas yang menyebabkan pekarangan perumahan, tegalan, sawah, pura, sanggah, parhyangan, menjadi panas, sepatutnya mendirikan tempat suci yang disebut Antasana sebagai stana Sang Hyang Tiga Wisesa yaitu: Sang Hyang Indra Belaka, Sang Hyang Durgha Maya, dan Sang Kala Maya. Beliau menunggal mengeluarkan kehebatan menjadi Durgha Manik. Jika Beliau tidak dibuatkan stana seperti tersebut di atas, Beliau Sang Hyang Tiga Wisesa menganugrahkan penyakit (kesengsaraan). Walaupun telah sering mempersembahkan caru, tidak akan mampu menghilangkan panas pekarangan dimaksud. Sebab Sang Hyang Tiga menjadi Bhuta Kala dan Desti. Mereka selalu menunggu di pekarangan yang panas tersebut. Mereka melakukan huru-hara, membuat segala penyakit, menarik-narik (menyerap tenaga), dimakan Kala, dihisap tenaganya maka menyebabkan tanpa tenaga, kehilangan pikiran / akal, pendek umur, keluar kata-kata yang memperpendek umur, keluar kata-kata kotor (umpatan). Kebingungan, mengumbar nafsu, gila-gilaan, sama-sama salah lihat, berkata salah, berpikir salah, ditimpa penyakit lesu darah (letih lesu), mati tidak mati hidup tidak hidup. Demikian akibatnya dibencanai oleh Sang Hyang Indra Belaka, Sang Hyang Durgha Maya dan Sang Hyang Kala Maya.
Mengapa menjadi saling mencurigai, salah penglihatan, bisa menjadi liak?. Karena dimasuki oleh Sang Hyang Durgha Maya, Sang Hyang Kala Maya. Semula tidak bisa menjadi liak, tiba-tiba bisa menjadi liak. Oleh karena telah dimasuki oleh Sang Hyang Durgha Maya. Keluarlah Durgha di pekarangan. Membencanai dengan menciptakan racun, tampyas (sejenis tungau), tiwang (kejang), sampulung, bebahi (roh jahat), dengen, pemali, jin, setan, segala penyakit racun yang menyebabkan gatal. Kama merajalela. Menyebabkan Bhatara Hyang minggat dari sanggar (tempat suci) sebab dirusak oleh Bhuta Kala dan Durgha. Jika tidak segera disucikan, maka yang mempunyai rumah dibencanai, kemanapun ia tidak akan mendapat rahayu (keselamatan). Ia menjadi tersesat, mendapat celaka. Nyata dalam hidupnya. Pendek umurnya. Merekalah yang membuat penyakit yang sulit disembuhkan. Oleh karena pekarangan rumahnya telah bertonya yaitu Sang Hyang Kala Tiga sebagai yang disebutkan di depan. Ada yang mendampingi Sang Hyang Kala Tiga sebagai patihnya, bernama Sang Kala Jinggrang memiliki 11 anak, sama-sama berwujud Kala, Bhuta dan Durgha dan sama-sama sakti. Banyak mempunyai rakyat, tak terhitung jumlahnya. Mereka itulah yang selalu mengganggu di pekarangan rumah. Memasuki wadag manusia, maka manusia (pemilik rumah itu) menjadi gelap pikiran. Tidak tahu siapa dirinya. Tidak tahu tata susila menjadi manusia. Ia tidak lagi mengindahkan aturan. Oleh karena tidak menghayati ajaran agama. Tidak menghiraukan nasehat. Demikian jadinya seperti binatang. Keinginannya hanya untuk makan, jika sudah kenyang tidur. Lupa diri, tanpa perasaan.
Untuk mengharmoniskan (kondisi) pekarangan, ada caru untuk meredakan kemarahannya, untuk menghilangkan keangkeran karang tersebut. Walaupun seberapa besar keangkerannya, harmonis juga ia. Sebab disucikan oleh amal baik dan puja kurban caru ini. Segala Kala dan Durgha, penyakit, racun, hama penyakit dan lepra itu semua diruat dan diantarkan sampai pulang ke Sorga, oleh karena telah diruat oleh Sang Maha Pandita Siddha Yogiswara. Beliau tahu menyucikan keburukannya semua. Pun beliau mampu meruat roh yang papa sengsara.
Sang Hyang Kala Tiga pulang (kembali) menjadi Sang Hyang Tiga Wisesa. Brahma, Wisnu dan Iswara. Sang Hyang Durgha Maya masuk ke Sang Hyang Hayu. Pulang ke bumi. Segala Bhuta Kala menjadi Bhatara. Desti menjadi sejati pulang ke manusia sejati. Durbhaga, Durgha Bhucari pulang ke Bhatari. Segala hama penyakit lepra kembali ke laut, menjadi isi lautan. Demikian (mereka) berhasil diruat. Tetapi hendaknya dilanjutkan melaksanakan puja bakti sampai kepada ia yang mengusahakan kerahayuan. Janganlah dinodai dengan pertengkaran.
Jagalah dengan hati-hati (rahasia) ajaran bathin yang sangat utama ini. Bila tidak demikian percuma saja, tetap kembali mendapat hukuman karena kurang sempurna dalam berkorban. Tetapi bila langgeng melaksanakan upacara yadnya, dipersembahkan kepada yang patut menerima caru, maka akibatnya mendapat kerahayuan. Anak cucu moyangmu pun dalam penjelmaannya akan mendapat kerahayuan.


No comments:

Post a Comment